alexametrics
31.8 C
Denpasar
Saturday, May 21, 2022

Telah Ada Sejak 1320 Saka, Disebut Juga Baris Duwe

Desa Adat Sari Besikan, Desa Bungkulan, Kecamatan Sawan memiliki tarian sakral yang khusus dijadikan penyangra dan pengiring saat pujawali di parahyangan desa. Tarian bernama Baris Ang Ung Manga tau Baris Om Mang merupakan Baris Duwe yang dimiliki oleh ida Ratu Agung. Konon, tarian ini sudah ada sejak 1320 Saka atau 1398 Masehi.

 

Petajuh Desa Adat Sari Besikan, I Dewa Ketut Djareken, 70 mengatakan, tidak ada catatan pasti tahun berapa tarian sakral ini diciptakan. Krama meyakini, tarian yang kerap disebut Baris Duwe ini telah ditarikan secara turun-temurun oleh leluhurnya.

 

Tarian ini konon dimiliki oleh Ida Ratu Agung yang berstana di Pura Sari Besikan atau Pura Desa. “Karena di Pura Sari Besikan ini juga difungsikan sebagai pura desa, pura puseh, pura jagat, pura merajan,” jelasnya saat dikonfirmasi pada Rabu (11/8) siang.

 

Dikatakan Djareken, keberadaan pelinggi Ida Ratu Agung, erat kaitannya dengan Desa Bulian, Kecamatan Kubutambahan. Bahkan dalam Awig-awg Desa Bulian yang tua, sekitar tahun saka 1320 sudah disebutkan keberadaan Baris Ang Ung Mang. “Kami menafsirkan jika Beliau (Ida Ratu Agung) melaksanakan perjalanan suci atau masesanjan. Beliu mungkin saja memargi ke Bulian,” tuturnya.

 

Dulu, krama Sari Besikan kerap menyebut Baris Om Mang. Setelah dikaji, nama Om Mang itu berasal dari tiga aksara suci. Yakni Ang, Ung dan Mang. Karena ada pemenggalan kata, kemudian diperpendek menjadi Baris Um Mang

 

Jumlah penari dalam Tarian Baris Om Mang ini berasal dari para yowana di Desa Adat Sari Besikan. Jumlahnya sebanyak 9 orang. Angka sembilan diyakini sebagai simbol Dewata Nawa Sanga. Saat pentas, penari membawa sebuah tamiang yang dimaknai sebagai sarana bagai bela diri.

 

Djareken menceritakan, dulu pementasan Tarian Baris Om Mang tidak sesering saat ini. Dimana, saat jumlah krama masih sedikit, sekitar 86 KK, hanya saat Pujawali Agung yang menggunakan sarana kerbau sajalah Baris Om Mang dipentaskan. “Kalau upacara kecil, tidak dipentaskan. pertimbangannya karena alasan keterbatasan jumlah penari,” jelasnya.

 

Lambat laun, disaat jumlah krama mulai bertambah banyak, maka muncul keinginan agar setiap pujawali di parahyangan yang ada di Desa Bungkulan dipentaskan Tarian Baris Om Mang. Djareken menyebut, tarian Baris ini memiliki fungsi sebagai penyangra (menyambut) dan pengiring (mengiringi) ritual.

 

“Setiap Ida Sesuhunan tedun, patut kependak, (wajib disambut, Red) jika melis harus dengan pengiringnya Baris Duwe juga. Intinya setiap Beliau (Sesuhunan) napak siti, (menyentuh tanah) wenang kesangra oleh bBaris Ang Ung Mang. (bersambung)


Desa Adat Sari Besikan, Desa Bungkulan, Kecamatan Sawan memiliki tarian sakral yang khusus dijadikan penyangra dan pengiring saat pujawali di parahyangan desa. Tarian bernama Baris Ang Ung Manga tau Baris Om Mang merupakan Baris Duwe yang dimiliki oleh ida Ratu Agung. Konon, tarian ini sudah ada sejak 1320 Saka atau 1398 Masehi.

 

Petajuh Desa Adat Sari Besikan, I Dewa Ketut Djareken, 70 mengatakan, tidak ada catatan pasti tahun berapa tarian sakral ini diciptakan. Krama meyakini, tarian yang kerap disebut Baris Duwe ini telah ditarikan secara turun-temurun oleh leluhurnya.

 

Tarian ini konon dimiliki oleh Ida Ratu Agung yang berstana di Pura Sari Besikan atau Pura Desa. “Karena di Pura Sari Besikan ini juga difungsikan sebagai pura desa, pura puseh, pura jagat, pura merajan,” jelasnya saat dikonfirmasi pada Rabu (11/8) siang.

 

Dikatakan Djareken, keberadaan pelinggi Ida Ratu Agung, erat kaitannya dengan Desa Bulian, Kecamatan Kubutambahan. Bahkan dalam Awig-awg Desa Bulian yang tua, sekitar tahun saka 1320 sudah disebutkan keberadaan Baris Ang Ung Mang. “Kami menafsirkan jika Beliau (Ida Ratu Agung) melaksanakan perjalanan suci atau masesanjan. Beliu mungkin saja memargi ke Bulian,” tuturnya.

 

Dulu, krama Sari Besikan kerap menyebut Baris Om Mang. Setelah dikaji, nama Om Mang itu berasal dari tiga aksara suci. Yakni Ang, Ung dan Mang. Karena ada pemenggalan kata, kemudian diperpendek menjadi Baris Um Mang

 

Jumlah penari dalam Tarian Baris Om Mang ini berasal dari para yowana di Desa Adat Sari Besikan. Jumlahnya sebanyak 9 orang. Angka sembilan diyakini sebagai simbol Dewata Nawa Sanga. Saat pentas, penari membawa sebuah tamiang yang dimaknai sebagai sarana bagai bela diri.

 

Djareken menceritakan, dulu pementasan Tarian Baris Om Mang tidak sesering saat ini. Dimana, saat jumlah krama masih sedikit, sekitar 86 KK, hanya saat Pujawali Agung yang menggunakan sarana kerbau sajalah Baris Om Mang dipentaskan. “Kalau upacara kecil, tidak dipentaskan. pertimbangannya karena alasan keterbatasan jumlah penari,” jelasnya.

 

Lambat laun, disaat jumlah krama mulai bertambah banyak, maka muncul keinginan agar setiap pujawali di parahyangan yang ada di Desa Bungkulan dipentaskan Tarian Baris Om Mang. Djareken menyebut, tarian Baris ini memiliki fungsi sebagai penyangra (menyambut) dan pengiring (mengiringi) ritual.

 

“Setiap Ida Sesuhunan tedun, patut kependak, (wajib disambut, Red) jika melis harus dengan pengiringnya Baris Duwe juga. Intinya setiap Beliau (Sesuhunan) napak siti, (menyentuh tanah) wenang kesangra oleh bBaris Ang Ung Mang. (bersambung)


Most Read

Artikel Terbaru

/