alexametrics
27.8 C
Denpasar
Sunday, May 29, 2022

Meski Tak Dikubur, Jasad Orang Suci Tak Bau

BALI EXPRESS, SONGAN – Prosesi pemakaman di Desa Songan, Bangli memang sangat  berbeda dengan yang ada di daerah Bali lainnya. Kenapa bisa berbeda?

Prosesi pemakaman di Desa Songan , Bangli, terbilang unik. Selain tempat pemakamannya, cara atau prosesinya pun sangat berbeda.

Bendesa Pakraman Songan, Jro Temu, menjelaskan, di Songan menganut sistem Uluwapat, yakni sistem  dimana kekuasaan tertinggi atau kepemimpinannya di bawah seorang Kabayan.

“Karena sistem Uluwapat tersebut, makanya kami menggunakan prosesi Mabia Tanem dan Mabia Tunjel,” ujarnya kepada Bali Express ( Jawa Pos Group), pekan kemarin.

Yang dimaksud Mabia Tanem adalah prosesi menanam jenazah terlebih dahulu, baru kemudian membakar jenazahnya sebagai simbolisasi mencapai Nirwana.

Berbeda dengan Sema Cerik, Sema Bangsil, dan Sema Gede, Sema Gel – gel merupakan Sema yang bukan merupakan warisan asli masyarakat Songan. “Kalau Sema Gel–gel itu berbeda. Sema itu milik masyarakat pendatang yang kebetulan berkasta Gel – gel. Semua prosesi dan tradisi pemakaman yang berlaku di tiga sema lainnya tidak berlaku di Sema Gel – gel. Mereka menjalankan pitra yadnyanya seperti kebanyakan masyarakat Bali, langsung diaben kalau punya uang,” jelasnya.

Di Songan memang sangat kontras, apalagi untuk pemakaman orang bergelar Jro Balian Suci, sebutan bagi orang suci (setara Sulinggih) di Desa Pekraman Songan. Meski tak melewati prosesi Seda Raga ketika melakukan proses Madwijati, namun keberadaan Jro Balian Suci dianggap vital bagi tatanan masyarakat Desa Pakraman Songan.

“Kami tidak menggunakan seorang Sulinggih untuk muput sebuah karya. Di sini yang bertugas muput karya adalah Jro Balian Suci,” ujar Jro Temu.

Dalam prosesi pemakamannya, seorang Jro Balian Suci ataupun Jro Putus tidak dikubur di dalam tanah,  melainkan hanya diletakkan di liang lahat dan ditutup Ancak bambu kuning.

“Jenazahnya tidak dikubur seperti jenazah lain, karena Jro Balian Suci atau Jro Putus itu sudah dianggap suci. Artinya, kepala beliau tidak diperkenankan terkena tanah. Makanya hanya ditutupi Ancak Saji saja,” ungkapnya.
Tak seperti pemakaman di Desa Trunyan yang memiliki pohon Taru Menyan yang wangi, Sema Gede Desa Pakraman Songan tidak memiliki pohon Taru. Namun, karena iklim yang dingin, jenazah yang hanya diletakkan di lubang berukuran dua meter tersebut tidak berbau. Dari pantauan Bali Express (Jawa Pos Group), lubang yang berukuran dua meter tersebut berisi jenazah yang diletakkan melintang. Di atasnya dipasangi jaring pelindung dan diisi tumpukan baju serta barang – barang almarhum. Lalu, di atas tumpukan tersebut dipasangi Ancak Saji yang terbuat dari bambu kuning.

“Untuk orang suci dikuburkan di Sema Gede, hanya saja letaknya di hulu atau arah paling atas , jenazah itu akan dibiarkan begitu saja sampai waktu Ngaben massal tiba,” ungkapnya.

Ternyata tak hanya bentuk makamnya yang terbilang unik, tandu jenazahnya pun dibuatkan khusus. “Jika orang biasa menggunakan kantong jenazah atau tandu PMI. Berbeda dengan prosesi Jro Balian Suci, yang jenazah dibawa ke kuburan harus menggunakan Tumpang Salu namanya. Sejenis tandu yang dibuat khusus dari bambu kuning dan diberi kayu dap – dap pada bagian atasnya,” ungkapnya.

Jro Temu menjelaskan, seorang yang suci wajib mendapat pengantaran yang layak. Tandu yang mengangkut pun harus sukla atau suci dan dibuat dengan bahan – bahan alam.
Dia menegaskan  semua warisan budaya dan tatanan yang ada di Desa Pakraman Songan tetap lestari. “Jangan menyangkutpautkan asal usul suatu kasta dengan tradisi Bali Mula di Desa Songan. Apa yang ada hari ini dan hingga kini biarlah tetap begini,” ujarnya.

 


BALI EXPRESS, SONGAN – Prosesi pemakaman di Desa Songan, Bangli memang sangat  berbeda dengan yang ada di daerah Bali lainnya. Kenapa bisa berbeda?

Prosesi pemakaman di Desa Songan , Bangli, terbilang unik. Selain tempat pemakamannya, cara atau prosesinya pun sangat berbeda.

Bendesa Pakraman Songan, Jro Temu, menjelaskan, di Songan menganut sistem Uluwapat, yakni sistem  dimana kekuasaan tertinggi atau kepemimpinannya di bawah seorang Kabayan.

“Karena sistem Uluwapat tersebut, makanya kami menggunakan prosesi Mabia Tanem dan Mabia Tunjel,” ujarnya kepada Bali Express ( Jawa Pos Group), pekan kemarin.

Yang dimaksud Mabia Tanem adalah prosesi menanam jenazah terlebih dahulu, baru kemudian membakar jenazahnya sebagai simbolisasi mencapai Nirwana.

Berbeda dengan Sema Cerik, Sema Bangsil, dan Sema Gede, Sema Gel – gel merupakan Sema yang bukan merupakan warisan asli masyarakat Songan. “Kalau Sema Gel–gel itu berbeda. Sema itu milik masyarakat pendatang yang kebetulan berkasta Gel – gel. Semua prosesi dan tradisi pemakaman yang berlaku di tiga sema lainnya tidak berlaku di Sema Gel – gel. Mereka menjalankan pitra yadnyanya seperti kebanyakan masyarakat Bali, langsung diaben kalau punya uang,” jelasnya.

Di Songan memang sangat kontras, apalagi untuk pemakaman orang bergelar Jro Balian Suci, sebutan bagi orang suci (setara Sulinggih) di Desa Pekraman Songan. Meski tak melewati prosesi Seda Raga ketika melakukan proses Madwijati, namun keberadaan Jro Balian Suci dianggap vital bagi tatanan masyarakat Desa Pakraman Songan.

“Kami tidak menggunakan seorang Sulinggih untuk muput sebuah karya. Di sini yang bertugas muput karya adalah Jro Balian Suci,” ujar Jro Temu.

Dalam prosesi pemakamannya, seorang Jro Balian Suci ataupun Jro Putus tidak dikubur di dalam tanah,  melainkan hanya diletakkan di liang lahat dan ditutup Ancak bambu kuning.

“Jenazahnya tidak dikubur seperti jenazah lain, karena Jro Balian Suci atau Jro Putus itu sudah dianggap suci. Artinya, kepala beliau tidak diperkenankan terkena tanah. Makanya hanya ditutupi Ancak Saji saja,” ungkapnya.
Tak seperti pemakaman di Desa Trunyan yang memiliki pohon Taru Menyan yang wangi, Sema Gede Desa Pakraman Songan tidak memiliki pohon Taru. Namun, karena iklim yang dingin, jenazah yang hanya diletakkan di lubang berukuran dua meter tersebut tidak berbau. Dari pantauan Bali Express (Jawa Pos Group), lubang yang berukuran dua meter tersebut berisi jenazah yang diletakkan melintang. Di atasnya dipasangi jaring pelindung dan diisi tumpukan baju serta barang – barang almarhum. Lalu, di atas tumpukan tersebut dipasangi Ancak Saji yang terbuat dari bambu kuning.

“Untuk orang suci dikuburkan di Sema Gede, hanya saja letaknya di hulu atau arah paling atas , jenazah itu akan dibiarkan begitu saja sampai waktu Ngaben massal tiba,” ungkapnya.

Ternyata tak hanya bentuk makamnya yang terbilang unik, tandu jenazahnya pun dibuatkan khusus. “Jika orang biasa menggunakan kantong jenazah atau tandu PMI. Berbeda dengan prosesi Jro Balian Suci, yang jenazah dibawa ke kuburan harus menggunakan Tumpang Salu namanya. Sejenis tandu yang dibuat khusus dari bambu kuning dan diberi kayu dap – dap pada bagian atasnya,” ungkapnya.

Jro Temu menjelaskan, seorang yang suci wajib mendapat pengantaran yang layak. Tandu yang mengangkut pun harus sukla atau suci dan dibuat dengan bahan – bahan alam.
Dia menegaskan  semua warisan budaya dan tatanan yang ada di Desa Pakraman Songan tetap lestari. “Jangan menyangkutpautkan asal usul suatu kasta dengan tradisi Bali Mula di Desa Songan. Apa yang ada hari ini dan hingga kini biarlah tetap begini,” ujarnya.

 


Most Read

Artikel Terbaru

/