Minggu, 28 Nov 2021
Bali Express
Home / Balinese
icon featured
Balinese

Pembangunan Caplok Jalur Hijau, Lahan Produktif Ditumbuhi Beton

14 Juni 2021, 19: 31: 27 WIB | editor : I Putu Suyatra

Pembangunan Caplok Jalur Hijau, Lahan Produktif Ditumbuhi Beton

MELANGGAR: Rumah yang sudah berdiri di kawasan Subak Apuan, Desa Dauh Yeh Cani, Kecamatan Abiansemal melanggar Perda tentang tata ruang Kabupaten Badung. (ISTIMEWA)

Share this      

MANGUPURA, BALI EXPRESS - Kawasan Subak Apuan, Desa Dauh Yeh Cani, Kecamatan Abiansemal, Badung, tepatnya di Jalan Raya Puspa Resti atau sebelah utara Pura Taman Biji telah digerus pembangunan. Kawasan tersebut merupakan jalur hijau yang tentunya masih produktif akan tetapi telah beralih fungsi menjadi lahan perumahan.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, keberadaan bangunan tersebut melanggar Peraturan Daerah Kabupaten Badung Nomor 26 Tahun 2013 Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Badung Tahun 2013 – 2033. Tentunya wilayah tersebut merupakan jalur hijau yang harus dilindungi. Selain itu juga menjadi kawasan budidaya tanaman pangan.

Selain itu, daerah tersebut menjadi kawasan resapan. “Jadi itu pelanggaran jalur hijau dan selanjutnya kawasan resapan termasuk menjadi kawasan suci karena ada Pura Taman Biji,” jelas sumber koran Bali Express (Jawa Pos Grup), Senin (14/6).

Baca juga: Indrani (1) : Membangkitkan Kemampuan Keremajaan

Sementara itu dikonfirmasi terpisah, Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Badung, I Gusti Agung Ketut Suryanegara tak menampik  kawasan tersebut merupakan jalur hijau. Pihaknya sudah memanggil pengelola kaplingan perumahan tersebut. “Kami sudah panggil pengembang. Cuma itu kaplingan tanah dan bukan perumahan. Namun kami minta untuk melanjutkan pembangunannya karena itu kawasan jalur hijau,” tegas Suryanegara.

Untuk memastikan pembangunan dihentikan, pihaknya beberapa kali sudah melakukan pemantauan ke lokasi. Bahkan dalam melakukan pengecekan Perbekel Desa Dauh Yeh Cani juga mendampingi. Namun, masih saja ada beberapa tukan yang melakukan pekerjaan ringan yang tidak terlalu terlihat seperti plester tembok dan yang lainnya yang dilakukan di dalam rumah.

 “Kalau memang benar ada yang melanjutkan pengerjaan bangunan kami segera cek lagi. Karena beberapa kali kami ke sana tidak ada. Ya namanya ini kucing-kucingan pas kita ke sana tidak ada, pas tidak kesana mereka mungkin sembunyi-sembunyi bekerja,” terangnya.

Birokrat asal Denpasar ini juga sudah berpesan kepada Perbekel dan pekaseh setempat untuk turut menginformasi kepada Satpol PP kalau ada yang masih melanjutkan pembangunan. Karena dari segi aturan keberadaan kaplingan tanah dan juga ada beberapa dibangun rumah merupakan kawasan jalur hijau.

“Jadi kami juga sudah minta kepada perbekel dan pekaseh turut serta mengawasi dan menginformasi kepada kami, karena kami tidak mungkin setiap hari melakukan pengawasan ke sana,” jelasnya.

Disinggung tentang adanya kemungkinan bangunan itu dibongkar, Suryanegara mengakui kalau untuk pembongkaran tentu harus ada mekanisme dan juga aturan. Namun, untuk tahap awal ia menegaskan, tidak boleh lagi ada yang melanjutkan pembangunan rumah. “Jadi bangunan itu tidak bisa dipakai dan tidak bisa dilanjutkan lagi. Kalau pembongkaran itu harus dengan SK Bupati, ” pungkasnya. (esa)

(bx/aim/yes/JPR)


Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
Facebook Twitter Instagram YouTube
©2021 PT. JawaPos Group Multimedia