alexametrics
27.8 C
Denpasar
Sunday, June 26, 2022

Hidangan Tumpek Wayang untuk Mohon Keselamatan Pengguna Jalan

BADUNG, BALI EXPRESS – Desa Adat Kerobokan, Badung memiliki tradisi yang terus dilaksanakan setiap enam bulan sekali, yaitu Pasamuan Hidangan Tumpek Wayang. Upacara ini digelar untuk memohon keselamatan bagi seluruh masyarakat, terutama bagi yang melewati catus pata atau perempatan agung Desa Adat Kerobokan.

Bendesa Adat Kerobokan Anak Agung Putu Sutarja mengatakan, Pasamuan Hidangan Tumpek Wayang dilaksanakan pada Saniscara Kliwon Wuku Wayang.

Upacara ini digelar untuk memohon wara nugraha dari Ida Bhatara Kahyangan Tiga Desa Adat Kerobokan. “Upacara ini dilaksanakan bersamaan dengan piodalan di catus pata Kerobokan,” ujar Sutarja saat ditemui belum lama ini.

Menurutnya, upacara ini digelar berkaitan dengan pengguna jalan. “Lantaran upacara ini untuk memohon keselamatan kepada masyarakat yang melintasi perempatan agung Desa Adat Kerobokan. Disana harus kita netralisir supaya siapa pun yang melewati jalan tersebut agar diberikan keselamatan,” ungkapnya.

Pelaksanaan upacara tersebut, terang Ketua Majelis Desa Adat (MDA) Badung tersebut, digelar pada sore hari. Dalam jalannya upacara, sebanyak 12 palawatan dari masing-masing pura diusung ke catus pata. Kemudian di tengah jalannya Pasamuan Hidangan Tumpek Wayang juga dihaturkan pacaruan kepada bhuta kala.

“Dalam prosesi pacaruan diharapkan dapat menyomia bhuta kala agar kembali ke tempatnya, dan kita selaku manusia dapat keselamatan dalam melaksanakan kegiatan di jalan raya,” terangnya.

Setelah melaksanakan upacara tersebut, ia menyebutkan tidak pernah terjadi kecelakaan fatal. Tidak ada kecelakaan yang sampai merenggut nyawa.

Lebih lanjut Sutarja menjelaskan, prosesi upacara ini disebutkan telah berlangsung sejak lama. Bahkan dirinya tidak mengetahui secara detail kapan upacara ini pertama digelar. Namun, pihaknya meyakini akan terjadi gerubug atau wabah jika tidak dilaksanakan upacara tersebut. “Istilahnya upacara ini sudah menjadi tradisi di Desa Adat Kerobokan, dan sudah sejak lama kami lakukan,” pungkasnya.

 






Reporter: I Putu Resa Kertawedangga

BADUNG, BALI EXPRESS – Desa Adat Kerobokan, Badung memiliki tradisi yang terus dilaksanakan setiap enam bulan sekali, yaitu Pasamuan Hidangan Tumpek Wayang. Upacara ini digelar untuk memohon keselamatan bagi seluruh masyarakat, terutama bagi yang melewati catus pata atau perempatan agung Desa Adat Kerobokan.

Bendesa Adat Kerobokan Anak Agung Putu Sutarja mengatakan, Pasamuan Hidangan Tumpek Wayang dilaksanakan pada Saniscara Kliwon Wuku Wayang.

Upacara ini digelar untuk memohon wara nugraha dari Ida Bhatara Kahyangan Tiga Desa Adat Kerobokan. “Upacara ini dilaksanakan bersamaan dengan piodalan di catus pata Kerobokan,” ujar Sutarja saat ditemui belum lama ini.

Menurutnya, upacara ini digelar berkaitan dengan pengguna jalan. “Lantaran upacara ini untuk memohon keselamatan kepada masyarakat yang melintasi perempatan agung Desa Adat Kerobokan. Disana harus kita netralisir supaya siapa pun yang melewati jalan tersebut agar diberikan keselamatan,” ungkapnya.

Pelaksanaan upacara tersebut, terang Ketua Majelis Desa Adat (MDA) Badung tersebut, digelar pada sore hari. Dalam jalannya upacara, sebanyak 12 palawatan dari masing-masing pura diusung ke catus pata. Kemudian di tengah jalannya Pasamuan Hidangan Tumpek Wayang juga dihaturkan pacaruan kepada bhuta kala.

“Dalam prosesi pacaruan diharapkan dapat menyomia bhuta kala agar kembali ke tempatnya, dan kita selaku manusia dapat keselamatan dalam melaksanakan kegiatan di jalan raya,” terangnya.

Setelah melaksanakan upacara tersebut, ia menyebutkan tidak pernah terjadi kecelakaan fatal. Tidak ada kecelakaan yang sampai merenggut nyawa.

Lebih lanjut Sutarja menjelaskan, prosesi upacara ini disebutkan telah berlangsung sejak lama. Bahkan dirinya tidak mengetahui secara detail kapan upacara ini pertama digelar. Namun, pihaknya meyakini akan terjadi gerubug atau wabah jika tidak dilaksanakan upacara tersebut. “Istilahnya upacara ini sudah menjadi tradisi di Desa Adat Kerobokan, dan sudah sejak lama kami lakukan,” pungkasnya.

 






Reporter: I Putu Resa Kertawedangga

Most Read

Artikel Terbaru

/