alexametrics
25.8 C
Denpasar
Sunday, May 29, 2022

Tak Sudi Doakan Orang yang Membenci  

Selesai Meditasi di sebuah ruangan di Wassenaar, Belanda, Juni 2020, banyak pertanyaan dari pemeditasi dan semuanya dijawab Acharya Darmayasa. Namun, ada yang menarik kala melihat seorang lelaki brewok duduk di pojok yang sepertinya ingin bertanya sesuatu.

Agar tak gelisah, tokoh spiritual  asal Padangtegal Ubud, Gianyar, ini pun mendahului bertanya pada pria brewok itu.  “Apakah Anda mempunyai pertanyaan?” Ia mengiyakan dan langsung menyampaikan pertanyaannya.

Menurut Darmayasa, apa yang disampaikan itu bukanlah pertanyaan, melainkan sebuah protes ‘tidak puas’, yang syukurnya ia mau mengeluarkannya. Pria brewok itu mengaku suka meditasi ,  dan menikmatinya walau pertama kali mempraktikkannya. Akan tetapi, dia tidak bisa terima pada waktu diminta mendoakan orang yang membenci, memfitnah dan menyakiti. Terlebih lagi, itu harus didoakan pertama mendahului orang-orang yang dikasihi.

Mereka yang lain melihat lelaki itu agak keheranan. Bagaimana reaksi Darmayasa? “Jawaban panjang saya bisa berikan, dan saya kira Anda tidak akan beranjak dari ruangan ini sampai pagi. Akan tetapi, saya ingin memberikan jawaban yang singkat saja, bahwa itulah yang membedakan diri kita dengan mereka yang membenci kita, ” ujar Darmayasa.

Diakui  Darmayasa, banyak pengalaman dari yang mempraktikkan dan anti  atau melawan pelajaran indah ini. Tapi, yang mampraktikkan banyak yang sembuh dari depressi dan penyakit pisik. ” Yang tidak setuju, tidak pernah mempraktikkannya. Dia berpikir mengapa saya harus mendoakan orang yang membuat saya kesakitan dan stress,” urainya.

Tak sedikit dengan pola sederhana itu, banyak yang terbantu. Namun, tentu ada yang tak terbantu bebas dari problemnya. Dikatakannya, ada seseorang  yang dua tahun sakit sakitan, dan  karena tidak ada perubahan dengan penyakitnya, walau hampir tiap hari ke dokter dan tukang pijit, dan ke dukun juga, akhirnya setelah dua tahun ia mulai berpikir untuk mempraktikkan petunjuk agar mendoakan orang orang yang membencinya.

Hasilnya? “Akhirnya ia datang menyampaikan  bahwa ketika hari-hari awal ia mendoakan orang yang memusuhinya itu, dua hari setelahnya, orang tersebut yang juga  teman sekantor, mulai senyum padanya. Beberapa hari kemudian, duduknya mulai mendekat, selanjutnya mereka mulai saling sapa, dan tanpa ke dokter dan tukang pijat lagi, akhirnya ia sembuh dari sakitnya.

 )* Master Meditasi Angka, Pengajar Veda, Penerjemah Bhagavad Gita.


Selesai Meditasi di sebuah ruangan di Wassenaar, Belanda, Juni 2020, banyak pertanyaan dari pemeditasi dan semuanya dijawab Acharya Darmayasa. Namun, ada yang menarik kala melihat seorang lelaki brewok duduk di pojok yang sepertinya ingin bertanya sesuatu.

Agar tak gelisah, tokoh spiritual  asal Padangtegal Ubud, Gianyar, ini pun mendahului bertanya pada pria brewok itu.  “Apakah Anda mempunyai pertanyaan?” Ia mengiyakan dan langsung menyampaikan pertanyaannya.

Menurut Darmayasa, apa yang disampaikan itu bukanlah pertanyaan, melainkan sebuah protes ‘tidak puas’, yang syukurnya ia mau mengeluarkannya. Pria brewok itu mengaku suka meditasi ,  dan menikmatinya walau pertama kali mempraktikkannya. Akan tetapi, dia tidak bisa terima pada waktu diminta mendoakan orang yang membenci, memfitnah dan menyakiti. Terlebih lagi, itu harus didoakan pertama mendahului orang-orang yang dikasihi.

Mereka yang lain melihat lelaki itu agak keheranan. Bagaimana reaksi Darmayasa? “Jawaban panjang saya bisa berikan, dan saya kira Anda tidak akan beranjak dari ruangan ini sampai pagi. Akan tetapi, saya ingin memberikan jawaban yang singkat saja, bahwa itulah yang membedakan diri kita dengan mereka yang membenci kita, ” ujar Darmayasa.

Diakui  Darmayasa, banyak pengalaman dari yang mempraktikkan dan anti  atau melawan pelajaran indah ini. Tapi, yang mampraktikkan banyak yang sembuh dari depressi dan penyakit pisik. ” Yang tidak setuju, tidak pernah mempraktikkannya. Dia berpikir mengapa saya harus mendoakan orang yang membuat saya kesakitan dan stress,” urainya.

Tak sedikit dengan pola sederhana itu, banyak yang terbantu. Namun, tentu ada yang tak terbantu bebas dari problemnya. Dikatakannya, ada seseorang  yang dua tahun sakit sakitan, dan  karena tidak ada perubahan dengan penyakitnya, walau hampir tiap hari ke dokter dan tukang pijit, dan ke dukun juga, akhirnya setelah dua tahun ia mulai berpikir untuk mempraktikkan petunjuk agar mendoakan orang orang yang membencinya.

Hasilnya? “Akhirnya ia datang menyampaikan  bahwa ketika hari-hari awal ia mendoakan orang yang memusuhinya itu, dua hari setelahnya, orang tersebut yang juga  teman sekantor, mulai senyum padanya. Beberapa hari kemudian, duduknya mulai mendekat, selanjutnya mereka mulai saling sapa, dan tanpa ke dokter dan tukang pijat lagi, akhirnya ia sembuh dari sakitnya.

 )* Master Meditasi Angka, Pengajar Veda, Penerjemah Bhagavad Gita.


Most Read

Artikel Terbaru

/