alexametrics
24.8 C
Denpasar
Friday, May 27, 2022

Perkawinan Ngerorod Masih Eksis di Julah

TEJAKULA, BALI EXPRESS – Desa Julah, Kecamatan Tejakula, Buleleng, masih mengenal tradisi perkawinan Ngerorod. Perkawinan inipun sudah disahkan secara adat dan dilaksanakan secara turun-temurun. 

Kelian Adat Julah, Ketut Sidemen, mengatakan, Desa Adat Julah memiliki tradisi yang merupakan peninggalan dari leluhur terdahulu yang telah diwariskan dari zaman kerajaan dan sampai sekarang masih diterapkan. 

Di dalam perkawinan Ngerorod harus ada unsur suka sama suka. Apabila tidak terpenuhi atau terbukti ada pemaksaan terhadap pihak wanita, maka jelas si pria dapat terjerat pidana. 

“Perlunya unsur suka sama suka ini juga akan memperkuat sifat kawin lari (Ngerorod) bersama tersebut. Sebab disini akan terlihat bahwa dalam perkawinan tersebut mereka lari bersama, tidak ada pihak yang merasa dilarikan,” jelasnya.

Bila segala persyaratan tersebut dipenuhi, maka proses perkawinan Ngerorod dapat terus dilaksanakan. Namun, perkawinan menurut ketentuan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 diserahkan kembali pada hukum agama dan kepercayaan masing-masing. Maka, bagi umat Hindu, perkawinan itu sah apabila telah dilakukan upacara Pabeakaonan. 

Dikatakan Sidemen, bagi umat Hindu perkawinan itu sah apabila telah dilakukan Pabeakaonan dan upacara Makala-kalaan dan Menjamuan, walaupun bentuk perkawinannya perkawinan Ngerorod. 

Ada sejumlah faktor penyebab terjadinya perkawinan Ngerorod. Seperti tidak mendapatkan restu dari salah satu keluarga hingga menghemat biaya. Jumlah kasus perkawinan Ngerorod sampai saat ini sudah tidak dapat terhitung jumlahnya. 

Hal tersebut disebabkan masing-masing banjar dinas memiliki buku administrasi masing-masing. “Selain itu, karena perkawinan Ngerorod merupakan salah satu prosesi perkawinan yang sudah dianggap sah secara adat. Sehingga dalam pencatatannya tidak disebutkan spesifik, bahwa perkawinan tersebut dilakukan dengan cara Ngerorod,” imbuhnya.

Peraturan adat mengacu pada tradisi dan peraturan adat yang secara lisan, telah diketahui dan dipahami oleh seluruh masyarakat Desa Julah. secara langsung menjadi dasar dilakukannya perkawinan Ngerorod. 

Apapun yang diatur di dalam peraturan adat tersebut, harus diikuti oleh setiap masyarakat Desa Julah. Jika ada penyimpangan, maka akan diluruskan sesuai dengan peraturan adat yang telah berlaku. 

Peraturan adat yang sudah dibuat oleh panglingsir terdahulu, lanjutnya, tentunya harus dijalankan dan diterima oleh masyarakat sampai saat ini. “Apa yang diterima dari para leluhur terdahulu akan dilaksankan dengan baik dan secara terus menerus oleh masyarakat Desa Julah,” pungkasnya. 


TEJAKULA, BALI EXPRESS – Desa Julah, Kecamatan Tejakula, Buleleng, masih mengenal tradisi perkawinan Ngerorod. Perkawinan inipun sudah disahkan secara adat dan dilaksanakan secara turun-temurun. 

Kelian Adat Julah, Ketut Sidemen, mengatakan, Desa Adat Julah memiliki tradisi yang merupakan peninggalan dari leluhur terdahulu yang telah diwariskan dari zaman kerajaan dan sampai sekarang masih diterapkan. 

Di dalam perkawinan Ngerorod harus ada unsur suka sama suka. Apabila tidak terpenuhi atau terbukti ada pemaksaan terhadap pihak wanita, maka jelas si pria dapat terjerat pidana. 

“Perlunya unsur suka sama suka ini juga akan memperkuat sifat kawin lari (Ngerorod) bersama tersebut. Sebab disini akan terlihat bahwa dalam perkawinan tersebut mereka lari bersama, tidak ada pihak yang merasa dilarikan,” jelasnya.

Bila segala persyaratan tersebut dipenuhi, maka proses perkawinan Ngerorod dapat terus dilaksanakan. Namun, perkawinan menurut ketentuan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 diserahkan kembali pada hukum agama dan kepercayaan masing-masing. Maka, bagi umat Hindu, perkawinan itu sah apabila telah dilakukan upacara Pabeakaonan. 

Dikatakan Sidemen, bagi umat Hindu perkawinan itu sah apabila telah dilakukan Pabeakaonan dan upacara Makala-kalaan dan Menjamuan, walaupun bentuk perkawinannya perkawinan Ngerorod. 

Ada sejumlah faktor penyebab terjadinya perkawinan Ngerorod. Seperti tidak mendapatkan restu dari salah satu keluarga hingga menghemat biaya. Jumlah kasus perkawinan Ngerorod sampai saat ini sudah tidak dapat terhitung jumlahnya. 

Hal tersebut disebabkan masing-masing banjar dinas memiliki buku administrasi masing-masing. “Selain itu, karena perkawinan Ngerorod merupakan salah satu prosesi perkawinan yang sudah dianggap sah secara adat. Sehingga dalam pencatatannya tidak disebutkan spesifik, bahwa perkawinan tersebut dilakukan dengan cara Ngerorod,” imbuhnya.

Peraturan adat mengacu pada tradisi dan peraturan adat yang secara lisan, telah diketahui dan dipahami oleh seluruh masyarakat Desa Julah. secara langsung menjadi dasar dilakukannya perkawinan Ngerorod. 

Apapun yang diatur di dalam peraturan adat tersebut, harus diikuti oleh setiap masyarakat Desa Julah. Jika ada penyimpangan, maka akan diluruskan sesuai dengan peraturan adat yang telah berlaku. 

Peraturan adat yang sudah dibuat oleh panglingsir terdahulu, lanjutnya, tentunya harus dijalankan dan diterima oleh masyarakat sampai saat ini. “Apa yang diterima dari para leluhur terdahulu akan dilaksankan dengan baik dan secara terus menerus oleh masyarakat Desa Julah,” pungkasnya. 


Most Read

Artikel Terbaru

/