alexametrics
26.8 C
Denpasar
Thursday, May 26, 2022

Ini Ragam Ritual Mohon Keselamatan dalam Lontar Dharma Pamaculan

SINGARAJA, BALI EXPRESS – Aspek eko-religius yang terkandung di dalam Lontar Dharma Pemaculan tampak pada pemujaan-pemujaan tertentu untuk memohon keselamatan dan keberhasilan.

Ketua Aliansi Peduli Bahasa Bali Nyoman Suka Ardhiyasa menyebut, untuk memulai membajak sawah saat bulan (sasih) tertentu patut dilengkapi dengan sesaji yang akan dipersembahkan kepada dewa tertentu.

Seperti kasa, jyesta, dan sadha ditujukan kepada Sang Hyang Guru Iswara, sasih kalima, kanem, kapitu dipersembahkan kepada Sang Hyang Guru Mahadewa, sasih karo, katiga, kapat ditujukan kepada Sang Hyang Guru Brahma, sasih kawulu, kasanga, dan kadasa ditujukan kepada Sang Hyang Guru Wisnu.

“Diyakini dewa-dewa yang dipersembahkan di bulan-bulan tertentu berkuasa atau beryoga pada waktu itu dan memberikan anugerahnya,” ujarnya.

Setiap fase, lanjutnya, pertumbuhan padi dimulai dari umur 12 hari, 17 hari, satu bulan, sampai melewati dua bulan, wajib dilaksanakan upacara dengan sesaji tertentu. Perlakuan tersebut membuktikan bahwa padi sangat dihormati dengan penuh kesucian.

“Ini membuktikan karena padi disederajatkan dengan Bhatari Sri sebagai Dewi Padi. Dipercaya menjelma menjadi padi dan padi juga diperlakukan seperti layaknya manusia. Pemujaan kepada Bhatara Wisnu dilakukan dengan persembahan (labaan) yang bertempat di sumber air sebagai wujud penghormatan karena air telah menyuburkan padi,” katanya.

Bentuk penghormatan terlihat pada saat dilakukannya upacara Mabiyu Kukung sesaji dan doa pemujaan dipersembahkan kepada Sang Hyang Sri Laksmi.

Sang Hyang Sri Laksmi adalah gelar Bhatari Sri sebagai dewi kesuburan dan kesejahteraan (sri sadana). Saat itulah didirikan penjor biu kukung sebagai simbol hasil alam dan pertanian.

Upacara tersebut wajib dilakukan dalam proses pertanian saat padi berusia lebih dari dua bulan sebagai wujud rasa syukur atas anugerah Bhatari Sri memberikan kelancaran hingga padi berhasil tumbuh. Upacara Ngusaba juga dilaksanakan sebagai runtutan penyucian lingkungan sawah dan selamatan padi

Persembahan atau labaan lainnya ditujukan kepada Bhatari Uma yang dipercaya sebagai Dewi Tanah atau Pertiwi. Tanah menjadi media tumbuhnya padi sebagai tempat perkembangan akar yang menyerap nutrisi.

Di dalam tanah pun dipercaya bersemayam Sang Naga Prabhu, Sang Naga Basukih, Sang Naga Taksaka, dan Sang Anantabhoga sebagai penguasa lapisan bumi (patala). Mereka semua tidak luput dari persembahan sebagai permohonan agar menjaga bumi tetap dalam keadaan baik untuk menyokong kehidupan dan lingkungan sawah. “Dalam menangkal hama penyakit, usaha yang dilakukan pun adalah pendekatan religius magis dengan dasar sesaji untuk menyucikan dan membebaskan sawah dari segala hal buruk,” pungkasnya.

 






Reporter: I Putu Mardika

SINGARAJA, BALI EXPRESS – Aspek eko-religius yang terkandung di dalam Lontar Dharma Pemaculan tampak pada pemujaan-pemujaan tertentu untuk memohon keselamatan dan keberhasilan.

Ketua Aliansi Peduli Bahasa Bali Nyoman Suka Ardhiyasa menyebut, untuk memulai membajak sawah saat bulan (sasih) tertentu patut dilengkapi dengan sesaji yang akan dipersembahkan kepada dewa tertentu.

Seperti kasa, jyesta, dan sadha ditujukan kepada Sang Hyang Guru Iswara, sasih kalima, kanem, kapitu dipersembahkan kepada Sang Hyang Guru Mahadewa, sasih karo, katiga, kapat ditujukan kepada Sang Hyang Guru Brahma, sasih kawulu, kasanga, dan kadasa ditujukan kepada Sang Hyang Guru Wisnu.

“Diyakini dewa-dewa yang dipersembahkan di bulan-bulan tertentu berkuasa atau beryoga pada waktu itu dan memberikan anugerahnya,” ujarnya.

Setiap fase, lanjutnya, pertumbuhan padi dimulai dari umur 12 hari, 17 hari, satu bulan, sampai melewati dua bulan, wajib dilaksanakan upacara dengan sesaji tertentu. Perlakuan tersebut membuktikan bahwa padi sangat dihormati dengan penuh kesucian.

“Ini membuktikan karena padi disederajatkan dengan Bhatari Sri sebagai Dewi Padi. Dipercaya menjelma menjadi padi dan padi juga diperlakukan seperti layaknya manusia. Pemujaan kepada Bhatara Wisnu dilakukan dengan persembahan (labaan) yang bertempat di sumber air sebagai wujud penghormatan karena air telah menyuburkan padi,” katanya.

Bentuk penghormatan terlihat pada saat dilakukannya upacara Mabiyu Kukung sesaji dan doa pemujaan dipersembahkan kepada Sang Hyang Sri Laksmi.

Sang Hyang Sri Laksmi adalah gelar Bhatari Sri sebagai dewi kesuburan dan kesejahteraan (sri sadana). Saat itulah didirikan penjor biu kukung sebagai simbol hasil alam dan pertanian.

Upacara tersebut wajib dilakukan dalam proses pertanian saat padi berusia lebih dari dua bulan sebagai wujud rasa syukur atas anugerah Bhatari Sri memberikan kelancaran hingga padi berhasil tumbuh. Upacara Ngusaba juga dilaksanakan sebagai runtutan penyucian lingkungan sawah dan selamatan padi

Persembahan atau labaan lainnya ditujukan kepada Bhatari Uma yang dipercaya sebagai Dewi Tanah atau Pertiwi. Tanah menjadi media tumbuhnya padi sebagai tempat perkembangan akar yang menyerap nutrisi.

Di dalam tanah pun dipercaya bersemayam Sang Naga Prabhu, Sang Naga Basukih, Sang Naga Taksaka, dan Sang Anantabhoga sebagai penguasa lapisan bumi (patala). Mereka semua tidak luput dari persembahan sebagai permohonan agar menjaga bumi tetap dalam keadaan baik untuk menyokong kehidupan dan lingkungan sawah. “Dalam menangkal hama penyakit, usaha yang dilakukan pun adalah pendekatan religius magis dengan dasar sesaji untuk menyucikan dan membebaskan sawah dari segala hal buruk,” pungkasnya.

 






Reporter: I Putu Mardika

Most Read

Artikel Terbaru

/