alexametrics
27.8 C
Denpasar
Saturday, June 25, 2022

Otonan Penyucian Diri Berkala, Ungkapan Terima Kasih kepada Leluhur  

“Logikanya, tumbuhan saat Tumpek Wariga maupun binatang saat Tumpek Kandang rutin dibuatkan banten setiap enam bulan. Itu artinya manusianya juga perlu maotonan secara berkala sesuai dengan hari lahirnya.”

SINGARAJA, BALI EXPRESS -Umat Hindu di Bali mengenal upacara otonan. Ritual ini sebagai penyucian secara berkala setiap enam bulan.

Dosen Upakara Universitas Hindu Indonesia (UNHI) I Gusti Ayu Artati mengatakan, otonan sebagai peringatan hari kelahiran berdasarkan perhitungan saptawara, pancawara dan wuku. Sehingga datangnya setiap 210 hari atau enam bulan kalender Bali.

Dikatakannya, angka 6 ini juga memiliki makna atau simbol Sad Ripu, dimana Sad Ripu harus dikembalikan, harus dikendalikan. “Itu sebabnya mengapa kita melaksanakan otonan setiap enam bulan sekali,” jelasnya.

Dikatakannya, otonan merupakan cara penyucian diri secara berkala. Melalui rangkaian sarana banten. “Banten otonan tidak harus mewah. Tetapi disarankan tetap dilakukan sebagai umat Hindu. Meskipun bantennya sederhana,” paparnya.

Ia tak menampik saat ini banyak keluarga muda yang baru menikah, mungkin saja dalam perjalanannya ingin maotonan, tetapi tidak tahu banten apa yang harus dibuat. Terlebih pasangan yang tinggal jauh dari orang tua. Maka bukan tidak mungkin karena keterbatasan pengetahuan, keterbatasan waktu dan keterbatasan ekonomi menjadi pemicu enggan untuk melaksanakan otonan setiap enam bulan ini.

Hal yang utama dilakukan saat otonan adalah eling atau ingat dengan pawetuannya atau hari kelahirannya. Minimal melakukan pembersihan diri, melalui keramas, sembahyang hingga meditasi.

“Tujuannya sebagai bentuk ucapan terima kasih kepada leluhur karena telah diberikan kesehatan, limpahan rezeki dari Ida Sang Hyang Widhi,” ungkapnya.

Jika merujuk pada Lontar Kanda Pat Rare, otonan dilakukan pada tiga fase, sesuai dengan perjalanan kehidupan manusia. Fase pertama otonan dilaksanakan saat masih bayi berusia 6 bulan sampai 1,5 tahun atau telung oton.

Kemudian fase kedua dilakukan saat si bayi tumbuh gigi, atau otonan keempat sampai sang anak berumur lima tahun. Kemudian fase ketiga saat anak-anak sudah mulai remaja. Dengan membuat otonan munggah deha atau raja sewala. Sampai tua, atau akhir hayat.

Jadi, pada fase ketiga ini dilakukan seumur hidup. “Memang persepsi yang berkembang di masyarakat jika melakukan otonan itu sampai tiga oton saja. Tetapi itu kan baru fase pertama saja. Sedangkan otonan itu dilakukan seumur hidup,” imbuhnya.

Namun, ada pula yang sudah mempersepsikan jika otonan adalah penyucian secara periodik atau berkala. Tujuannya untuk memuliakan manusia. “Logikanya, tumbuhan saat Tumpek Wariga maupun binatang saat Tumpek Kandang rutin dibuatkan banten setiap enam bulan. Itu artinya manusianya juga perlu motonan secara berkala sesuai dengan hari lahirnya,” katanya.

“Intinya selama kita masih bernapas, harus tetap maotonan. Semampunya saja, apapun sarana yang dipersembahkan,” tegasnya.






Reporter: I Putu Mardika

“Logikanya, tumbuhan saat Tumpek Wariga maupun binatang saat Tumpek Kandang rutin dibuatkan banten setiap enam bulan. Itu artinya manusianya juga perlu maotonan secara berkala sesuai dengan hari lahirnya.”

SINGARAJA, BALI EXPRESS -Umat Hindu di Bali mengenal upacara otonan. Ritual ini sebagai penyucian secara berkala setiap enam bulan.

Dosen Upakara Universitas Hindu Indonesia (UNHI) I Gusti Ayu Artati mengatakan, otonan sebagai peringatan hari kelahiran berdasarkan perhitungan saptawara, pancawara dan wuku. Sehingga datangnya setiap 210 hari atau enam bulan kalender Bali.

Dikatakannya, angka 6 ini juga memiliki makna atau simbol Sad Ripu, dimana Sad Ripu harus dikembalikan, harus dikendalikan. “Itu sebabnya mengapa kita melaksanakan otonan setiap enam bulan sekali,” jelasnya.

Dikatakannya, otonan merupakan cara penyucian diri secara berkala. Melalui rangkaian sarana banten. “Banten otonan tidak harus mewah. Tetapi disarankan tetap dilakukan sebagai umat Hindu. Meskipun bantennya sederhana,” paparnya.

Ia tak menampik saat ini banyak keluarga muda yang baru menikah, mungkin saja dalam perjalanannya ingin maotonan, tetapi tidak tahu banten apa yang harus dibuat. Terlebih pasangan yang tinggal jauh dari orang tua. Maka bukan tidak mungkin karena keterbatasan pengetahuan, keterbatasan waktu dan keterbatasan ekonomi menjadi pemicu enggan untuk melaksanakan otonan setiap enam bulan ini.

Hal yang utama dilakukan saat otonan adalah eling atau ingat dengan pawetuannya atau hari kelahirannya. Minimal melakukan pembersihan diri, melalui keramas, sembahyang hingga meditasi.

“Tujuannya sebagai bentuk ucapan terima kasih kepada leluhur karena telah diberikan kesehatan, limpahan rezeki dari Ida Sang Hyang Widhi,” ungkapnya.

Jika merujuk pada Lontar Kanda Pat Rare, otonan dilakukan pada tiga fase, sesuai dengan perjalanan kehidupan manusia. Fase pertama otonan dilaksanakan saat masih bayi berusia 6 bulan sampai 1,5 tahun atau telung oton.

Kemudian fase kedua dilakukan saat si bayi tumbuh gigi, atau otonan keempat sampai sang anak berumur lima tahun. Kemudian fase ketiga saat anak-anak sudah mulai remaja. Dengan membuat otonan munggah deha atau raja sewala. Sampai tua, atau akhir hayat.

Jadi, pada fase ketiga ini dilakukan seumur hidup. “Memang persepsi yang berkembang di masyarakat jika melakukan otonan itu sampai tiga oton saja. Tetapi itu kan baru fase pertama saja. Sedangkan otonan itu dilakukan seumur hidup,” imbuhnya.

Namun, ada pula yang sudah mempersepsikan jika otonan adalah penyucian secara periodik atau berkala. Tujuannya untuk memuliakan manusia. “Logikanya, tumbuhan saat Tumpek Wariga maupun binatang saat Tumpek Kandang rutin dibuatkan banten setiap enam bulan. Itu artinya manusianya juga perlu motonan secara berkala sesuai dengan hari lahirnya,” katanya.

“Intinya selama kita masih bernapas, harus tetap maotonan. Semampunya saja, apapun sarana yang dipersembahkan,” tegasnya.






Reporter: I Putu Mardika

Most Read

Artikel Terbaru

/