alexametrics
28.7 C
Denpasar
Monday, May 16, 2022

Daya Magis Air Danau Tamblingan di Pura Tirta Mengening

SINGARAJA, BALI EXPRESS – Tak terbantahkan jika kawasan Danau Tamblingan dilabeli sebagai areal suci. Sebagai hulunya Pulau Bali, penekun spiritual tak hanya bisa menemukan Pura Dalem Tamblingan yang indah dan bertuah karena menjadi sumber kesuburan dan kemakmuran. Namun, juga bisa menemukan Pura Tirta Mengening yang persis berada di seberang Pura Dalem Tamblingan, Desa Munduk, Kecamatan Banjar, Buleleng.

Nama Tamblingan berasal dari dua kata dalam Bahasa Bali, yaitu Tamba berarti obat, dan Elingang berarti ingat atau kemampuan spiritual. Tamblingan kerap diceritakan dalam Lontar Kutara Kanda Dewa Purana Bangsul, bahwa masyarakat di wilayah itu konon pernah terkena wabah epidemi.

Sebagai jalan keluar seseorang yang disucikan kemudian turun ke danau kecil di bawah desa untuk mengambil air untuk obat. Berkat doa dan kemampuan spiritual, air itu kemudian dijadikan obat dan mampu menyembuhkan masyarakat desa. Kata Tamba dan Elingang inilah lama kelamaan menjadi Tamblingan.

Oleh karena peradaban ini, di kawasan Danau Tamblingan banyak terdapat pura. Mulai dari Pura Dalem Tamblingan, Pura Endek, Pura Ulun Danu, Sang Hyang Kangin dan Pura Sang Hyang Kawuh. Kemudian ada Pura Gubug, Pura Tirta Mengening, Pura Naga Loka, Pura Pengukiran, Pengukusan, Pura Embang, Pura Tukang Timbang, dan Pura Batulepang. 

Untuk menjangkau pura ini, pamedek tidak bisa menempuh jalur darat. Hanya bisa menjangkaunya dengan menaiki perahu yang telah disediakan warga di pos penjagaan, BKSDA. Butuh waktu hampir 45 menit untuk menjangkau pura ini dari pos penjagaan. Selama perjalanan mendayung perahu, pamedek bisa menikmati suasana indahnya panorama Danau Tamblingan, sembari dimanjakan kicauan beragam jenis burung yang bertengger di pepohonan pinggir danau.

Rasa lelah terbayarkan begitu sampai di Pura Tirta Mengening, lantaran suasana yang begitu sejuk dan tenang. Pura ini berlokasi di tebing Danau Tamblingan. Jika ditarik garis lurur, posisinya persis berada di seberang Pura Dalem Tamblingan

Pamedek tidak perlu kaget, lantaran tidak ada palinggih di pura ini. Hanya bebaturan yang diselimuti dengan kain putih-kuning sebagai penanda kawasan suci serta beberapa tedung (payung) terlihat memayungi bebaturan. Sayangnya, saat Bali Express (Jawa Pos Group) nangkil pecan kemarin, tidak menemukan air tirta yang menetes dari atas pepohonan.

Menurut salah seorang tokoh pemuda setempat, Nyoman Suka Ardiyasa, memang Pura Tirta Mengening ini kerap mengeluarkan tirta dari atas bebaturan yang bersumber dari pepohonan. Hanya saja, karena musim kemarau, maka tirta tidak keluar dari pepohonan. “Biasanya kalau musim hujan selalu menetes dari atas. Maka pamedek bisa nunas tirta itu untuk keperluan malukat atau untuk nunas tamba,” ujar Ardiyasa  yang ikut mengantar nangkil ke Pura Tirta Mengening.

Begitu perahu disandarkan, pamedek bisa memulai aktivitas persembahyangan dengan menghaturkan canang atau sesajen yang dibawa. Setelah itu, barulah bisa nunas tirta. Jika tirta tidak menetes dari atas, maka bisa nunas tirta (mohon air suci) dari air danau di areal Pura Tirta Mengening.

Pemangku Pura irta Mengening, Jro Mangku Putu Kastawa, menjelaskan, yang berstana di Pura Tirta Mengening adalah Ida Bhatara Wisnu Sekar Sari. Pura ini, sebut Jro Mangku Kastawa, bagian dari Pancaka Tirta yang berada di areal Danau Tamblingan dan tirtanya kerap dimohon Catur Desa, yakni Desa Adat Gobleg, Desa Adat Gesing, Desa Adat Munduk, dan Desa Adat Umajero, untuk keperluan upacara yadnya.

Selama ini, pamedek yang nangkil kerap nunas tirta untuk kebutuhan malukat atau nunas pembersihan. Hanya saja, tirta atau air suci yang ditunas tak boleh langsung digunakan malukat di Pura Tirta Mengening. Tapi wajib dibawa ke Pura Dalem Tamblingan.

Sebab, tirta di Pura Tirta Mengening sangat pingit (dikeramatkan). “Nah di areal Jaba Pura Dalem Tamblingan, ada tempat malukat. Pamedek bisa malukat di areal ini dari tirta yang ditunas di Pura Tirta Mengening,” tuturnya.

Pamedek yang hendak nangkil ke Pura Tirta Mengening disarankan agar menghindari nangkil saat tri wara Pasah. Sedangkan saat Beteng dan Kajeng tetap diperbolehkan. Sebelum nangkil ke Pura Tirta Mengening, pamedek hendaknya nangkil terlebih dulu ke Pura Dalem Tamblingan untuk mapiuning (mohon izin).

Setelah itu barulah perjalanan dilanjutkan ke Pura Tirta Mengening. “Memang kalau Purnama sangat tepat nangkil sama beteng atau kajeng. Biasanya ramainya saat purnama. Pamedek berbodong-bondong untuk malukat,” jelasnya. 

Disinggung terkait sejarah Pura Tirta Mengening, Jro Mangku Kastawa mengaku tak tahu secara pasti. Sebab, sejak kecil dirinya sudah mendapati keberadaan pura tersebut. Ia menegaskan, di pura itu tidak boleh dibangun palinggih. Hanya boleh bebaturan saja. Diperkirakan pura ini adalah peninggalan masyarakat pra Hindu yang sebelum abad 10 Masehi telah bermukim di kawasan ini. “Secara sejarah tidak begitu tahu. Gugon tuwon saja. Jadi kami hanya menerima begitu saja, dari para leluhur,” terangnya.

Terkait tirta yang menetes dari atas pepohonan, Jro Mangku Kastawa mengaku sengaja dibuatkan  pipa kecil untuk mempermudah air mengalir dari atas. Hanya saja, ia tak menampik jika musim kemarau airnya juga seret. Bahkan, tak jarang aliran tirta di pura yang pujawalinya saban Purnama Sasih Kapat ini kerap diganggu monyet, sehingga air tidak mengalir. “Memang sesuai dengan keinginan pamedek yang nangkil. Jika tirta hendak dijadikan tamba boleh, untuk malukat juga boleh, pebersihan juga boleh. Tirta digunakan sehari-hari untuk upacara yadnya juga bisa,” pungkas pria asal Desa Munduk ini. 


SINGARAJA, BALI EXPRESS – Tak terbantahkan jika kawasan Danau Tamblingan dilabeli sebagai areal suci. Sebagai hulunya Pulau Bali, penekun spiritual tak hanya bisa menemukan Pura Dalem Tamblingan yang indah dan bertuah karena menjadi sumber kesuburan dan kemakmuran. Namun, juga bisa menemukan Pura Tirta Mengening yang persis berada di seberang Pura Dalem Tamblingan, Desa Munduk, Kecamatan Banjar, Buleleng.

Nama Tamblingan berasal dari dua kata dalam Bahasa Bali, yaitu Tamba berarti obat, dan Elingang berarti ingat atau kemampuan spiritual. Tamblingan kerap diceritakan dalam Lontar Kutara Kanda Dewa Purana Bangsul, bahwa masyarakat di wilayah itu konon pernah terkena wabah epidemi.

Sebagai jalan keluar seseorang yang disucikan kemudian turun ke danau kecil di bawah desa untuk mengambil air untuk obat. Berkat doa dan kemampuan spiritual, air itu kemudian dijadikan obat dan mampu menyembuhkan masyarakat desa. Kata Tamba dan Elingang inilah lama kelamaan menjadi Tamblingan.

Oleh karena peradaban ini, di kawasan Danau Tamblingan banyak terdapat pura. Mulai dari Pura Dalem Tamblingan, Pura Endek, Pura Ulun Danu, Sang Hyang Kangin dan Pura Sang Hyang Kawuh. Kemudian ada Pura Gubug, Pura Tirta Mengening, Pura Naga Loka, Pura Pengukiran, Pengukusan, Pura Embang, Pura Tukang Timbang, dan Pura Batulepang. 

Untuk menjangkau pura ini, pamedek tidak bisa menempuh jalur darat. Hanya bisa menjangkaunya dengan menaiki perahu yang telah disediakan warga di pos penjagaan, BKSDA. Butuh waktu hampir 45 menit untuk menjangkau pura ini dari pos penjagaan. Selama perjalanan mendayung perahu, pamedek bisa menikmati suasana indahnya panorama Danau Tamblingan, sembari dimanjakan kicauan beragam jenis burung yang bertengger di pepohonan pinggir danau.

Rasa lelah terbayarkan begitu sampai di Pura Tirta Mengening, lantaran suasana yang begitu sejuk dan tenang. Pura ini berlokasi di tebing Danau Tamblingan. Jika ditarik garis lurur, posisinya persis berada di seberang Pura Dalem Tamblingan

Pamedek tidak perlu kaget, lantaran tidak ada palinggih di pura ini. Hanya bebaturan yang diselimuti dengan kain putih-kuning sebagai penanda kawasan suci serta beberapa tedung (payung) terlihat memayungi bebaturan. Sayangnya, saat Bali Express (Jawa Pos Group) nangkil pecan kemarin, tidak menemukan air tirta yang menetes dari atas pepohonan.

Menurut salah seorang tokoh pemuda setempat, Nyoman Suka Ardiyasa, memang Pura Tirta Mengening ini kerap mengeluarkan tirta dari atas bebaturan yang bersumber dari pepohonan. Hanya saja, karena musim kemarau, maka tirta tidak keluar dari pepohonan. “Biasanya kalau musim hujan selalu menetes dari atas. Maka pamedek bisa nunas tirta itu untuk keperluan malukat atau untuk nunas tamba,” ujar Ardiyasa  yang ikut mengantar nangkil ke Pura Tirta Mengening.

Begitu perahu disandarkan, pamedek bisa memulai aktivitas persembahyangan dengan menghaturkan canang atau sesajen yang dibawa. Setelah itu, barulah bisa nunas tirta. Jika tirta tidak menetes dari atas, maka bisa nunas tirta (mohon air suci) dari air danau di areal Pura Tirta Mengening.

Pemangku Pura irta Mengening, Jro Mangku Putu Kastawa, menjelaskan, yang berstana di Pura Tirta Mengening adalah Ida Bhatara Wisnu Sekar Sari. Pura ini, sebut Jro Mangku Kastawa, bagian dari Pancaka Tirta yang berada di areal Danau Tamblingan dan tirtanya kerap dimohon Catur Desa, yakni Desa Adat Gobleg, Desa Adat Gesing, Desa Adat Munduk, dan Desa Adat Umajero, untuk keperluan upacara yadnya.

Selama ini, pamedek yang nangkil kerap nunas tirta untuk kebutuhan malukat atau nunas pembersihan. Hanya saja, tirta atau air suci yang ditunas tak boleh langsung digunakan malukat di Pura Tirta Mengening. Tapi wajib dibawa ke Pura Dalem Tamblingan.

Sebab, tirta di Pura Tirta Mengening sangat pingit (dikeramatkan). “Nah di areal Jaba Pura Dalem Tamblingan, ada tempat malukat. Pamedek bisa malukat di areal ini dari tirta yang ditunas di Pura Tirta Mengening,” tuturnya.

Pamedek yang hendak nangkil ke Pura Tirta Mengening disarankan agar menghindari nangkil saat tri wara Pasah. Sedangkan saat Beteng dan Kajeng tetap diperbolehkan. Sebelum nangkil ke Pura Tirta Mengening, pamedek hendaknya nangkil terlebih dulu ke Pura Dalem Tamblingan untuk mapiuning (mohon izin).

Setelah itu barulah perjalanan dilanjutkan ke Pura Tirta Mengening. “Memang kalau Purnama sangat tepat nangkil sama beteng atau kajeng. Biasanya ramainya saat purnama. Pamedek berbodong-bondong untuk malukat,” jelasnya. 

Disinggung terkait sejarah Pura Tirta Mengening, Jro Mangku Kastawa mengaku tak tahu secara pasti. Sebab, sejak kecil dirinya sudah mendapati keberadaan pura tersebut. Ia menegaskan, di pura itu tidak boleh dibangun palinggih. Hanya boleh bebaturan saja. Diperkirakan pura ini adalah peninggalan masyarakat pra Hindu yang sebelum abad 10 Masehi telah bermukim di kawasan ini. “Secara sejarah tidak begitu tahu. Gugon tuwon saja. Jadi kami hanya menerima begitu saja, dari para leluhur,” terangnya.

Terkait tirta yang menetes dari atas pepohonan, Jro Mangku Kastawa mengaku sengaja dibuatkan  pipa kecil untuk mempermudah air mengalir dari atas. Hanya saja, ia tak menampik jika musim kemarau airnya juga seret. Bahkan, tak jarang aliran tirta di pura yang pujawalinya saban Purnama Sasih Kapat ini kerap diganggu monyet, sehingga air tidak mengalir. “Memang sesuai dengan keinginan pamedek yang nangkil. Jika tirta hendak dijadikan tamba boleh, untuk malukat juga boleh, pebersihan juga boleh. Tirta digunakan sehari-hari untuk upacara yadnya juga bisa,” pungkas pria asal Desa Munduk ini. 


Most Read

Artikel Terbaru

/