26.5 C
Denpasar
Tuesday, February 7, 2023

Ngaben Massal di Penestanan Cukup Satu Petulangan Besar

GIANYAR, BALI EXPRESS -Saat upacara Ngaben massal, biasanya petulangannya bervariasi sesuai wangsa maupun warna.  Seperti petulangan Lembu, Singa, maupun Gajah Mina. Namun, ada juga menggunakan satu petulangan untuk semua, seperti Ngaben massal di Banjar Penestanan Kaja, Desa Adat Penestanan, Kecamatan Ubud, Gianyar.

Mereka hanya membuat satu petulangan saja berupa Gajah Mina dengan ukuran besar, bahkan diklaim sebagai petulangan Gajah Mina terbesar di Bali. Sebanyak 36 sawa menjadi satu dalam petulangan tersebut menuju setra, Kamis (15/9).

Koordinator petulangan I Ketut Karta  mengatakan pembuatan Gajah Mina untuk seluruh sawa sudah disepakati sebelumnya. Tujuannya untuk menerapkan Atiwa-tiwa kinembulan di banjar setempat secara bersama-sama.

“Gajah Mina kesepakatan sekaa ngaben, itu dibuat satu untuk semua. Jadi banyaknya ada 36 sawa. Sehingga di sana tidak mengenal kulit, wangsa maupun warna. Jadi satu semua,” jelas Karta, kemarin.

Ia menjelaskan, dibuatnya Gajah Mina agar bisa menyatukan semua sawa dan tidak ada istilah fanatik. Selain itu, Gajah Mina juga melambangkan kecerdasan.

“Sebelumnya ada menggunakan Singa maupun Lembu, ini merupakan Ngaben massal atau dilakukan bersama harus mengikuti alur kebersamaan sesuai kesepakatan. Contohnya petulangan ini sebagai pesawat yang terbang ke tujuan, jadi yang duduk di sana siapa saja boleh tidak mengenal wangsa, warna dan kasta,” tegasnya.

Secara konsep, Karta menyampaikan dengan warnanya yang abu berarti ngabuan (pembakaran) dan menjadi Ngaben. “Jadi, abu atma sudah menyatu, yang mana saja diambil boleh. Sama di sana tidak ada kefanatikan. Sebab zaman sekarang upacara yadnya harus kita menanggapi dengan cara kecerdasan, agar tidak ada mula keto (memang begitu),” papar pria yang juga pelukis ini.

Karta memaparkan, proses pembuatan Gajah Mina jumbo itu hanya tiga minggu. Panjang 11,5 meter, tinggi 5,5 meter dengan bobot belum bisa dipastikan. “Kalau beratnya belum kita ketahui, seberat apapun itu nantinya atas dasar ngayah, pasti akan berjalan sesuai tujuan awal di Ngaben ini,” terangnya.

Ditambahkannya bahwa dalam proses penggarapan Gajah Mina, Karta dibantu lima orang  warga setempat. Selain itu, ada juga dari unsur pemuda.  Sementara disinggung soal dana yang dihabiskan, ia memperkirakan Rp 20 juta. “Itu sudah sangat hemat dari jumlah sawa berjumlah 36 sawa. Jika per sawa beli, mungkin jatuhnya akan jauh menjadi lebih mahal,” tegas Karta.






Reporter: Putu Agus Adegrantika

GIANYAR, BALI EXPRESS -Saat upacara Ngaben massal, biasanya petulangannya bervariasi sesuai wangsa maupun warna.  Seperti petulangan Lembu, Singa, maupun Gajah Mina. Namun, ada juga menggunakan satu petulangan untuk semua, seperti Ngaben massal di Banjar Penestanan Kaja, Desa Adat Penestanan, Kecamatan Ubud, Gianyar.

Mereka hanya membuat satu petulangan saja berupa Gajah Mina dengan ukuran besar, bahkan diklaim sebagai petulangan Gajah Mina terbesar di Bali. Sebanyak 36 sawa menjadi satu dalam petulangan tersebut menuju setra, Kamis (15/9).

Koordinator petulangan I Ketut Karta  mengatakan pembuatan Gajah Mina untuk seluruh sawa sudah disepakati sebelumnya. Tujuannya untuk menerapkan Atiwa-tiwa kinembulan di banjar setempat secara bersama-sama.

“Gajah Mina kesepakatan sekaa ngaben, itu dibuat satu untuk semua. Jadi banyaknya ada 36 sawa. Sehingga di sana tidak mengenal kulit, wangsa maupun warna. Jadi satu semua,” jelas Karta, kemarin.

Ia menjelaskan, dibuatnya Gajah Mina agar bisa menyatukan semua sawa dan tidak ada istilah fanatik. Selain itu, Gajah Mina juga melambangkan kecerdasan.

“Sebelumnya ada menggunakan Singa maupun Lembu, ini merupakan Ngaben massal atau dilakukan bersama harus mengikuti alur kebersamaan sesuai kesepakatan. Contohnya petulangan ini sebagai pesawat yang terbang ke tujuan, jadi yang duduk di sana siapa saja boleh tidak mengenal wangsa, warna dan kasta,” tegasnya.

Secara konsep, Karta menyampaikan dengan warnanya yang abu berarti ngabuan (pembakaran) dan menjadi Ngaben. “Jadi, abu atma sudah menyatu, yang mana saja diambil boleh. Sama di sana tidak ada kefanatikan. Sebab zaman sekarang upacara yadnya harus kita menanggapi dengan cara kecerdasan, agar tidak ada mula keto (memang begitu),” papar pria yang juga pelukis ini.

Karta memaparkan, proses pembuatan Gajah Mina jumbo itu hanya tiga minggu. Panjang 11,5 meter, tinggi 5,5 meter dengan bobot belum bisa dipastikan. “Kalau beratnya belum kita ketahui, seberat apapun itu nantinya atas dasar ngayah, pasti akan berjalan sesuai tujuan awal di Ngaben ini,” terangnya.

Ditambahkannya bahwa dalam proses penggarapan Gajah Mina, Karta dibantu lima orang  warga setempat. Selain itu, ada juga dari unsur pemuda.  Sementara disinggung soal dana yang dihabiskan, ia memperkirakan Rp 20 juta. “Itu sudah sangat hemat dari jumlah sawa berjumlah 36 sawa. Jika per sawa beli, mungkin jatuhnya akan jauh menjadi lebih mahal,” tegas Karta.






Reporter: Putu Agus Adegrantika

Most Read

Artikel Terbaru