alexametrics
26.8 C
Denpasar
Sunday, June 26, 2022

Ngelawang di Gianyar Makan Korban, Ini Respons MDA Denpasar

DENPASAR, BALI EXPRESS – Majelis Desa Adat (MDA) Kota Denpasar memberi respon terkait kasus tertabraknya remaja di Gianyar saat Ngelawang hingga meninggal dunia. Pihaknya menekankan perlunya pengawasan serta pengamanan agar ke depannya tidak terjadi hal seperti itu. 

 

Menurut Bendesa Madya MDA Kota Denpasar, AA Ketut Sudiana, kejadian di Gianyar itu menjadi catatan bersama bahwa pengawasan serta pengamanan menjadi penting dalam setiap upacara yang berbau keagamaan atau budaya. 

 

“Ngelawang itu pasti selalu ada setiap menyambut Hari Raya Galungan dan Kuningan, tak terkecuali di Kota Denpasar. Ngelawang saat ini kan banyak milik pribadi dan dilakukan oleh anak-anak kecil atau remaja, oleh sebab itu hendaknya diperlukan pengawasan dari orang yang lebih tua atau pecalang di masing-masing desa maupun banjar. Meskipun ada juga Ngelawang yang bersifat sakral yang dari unsur pengamanannya sudah lengkap mulai dari prajuru, pecalang hingga krama,” ujar AA Ketut Sudiana saat diwawancarai Senin (15/11).

 

Dengan kejadian di Gianyar tersebut, MDA Kota Denpasar memiliki bahan kajian yang nantinya akan dimusyawarahkan dalam rapat majelis. Sehingga, kedepannya prosesi Ngelawang, khususnya di Kota Denpasar dapat dipantau serta mendapat pengawasan dari desa masing-masing bagi mereka yang sifatnya Ngelawang punia yang biasanya dilakukan oleh anak-anak kecil maupun remaja. 

 

“Kebetulan sekarang (Senin-red) kami akan adakan rapat dengan prajuru majelis. Ini bisa menjadi bahan kajian yang akan kami musyawarahkan dan mendapat tindak lanjut ke depannya. Tujuannya tak lain dan tidak bukan agar prosesi Ngelawang berjalan aman dan nyaman,” tegasnya. 

 

Di Kota Denpasar sendiri akuinya tradisi Ngelawang lebih ke bersifat sakral dan tidak dilakukan oleh banyak pihak, hanya beberapa sekeha atau desa saja yang melakukan. Namun, kalaupun ada yang bersifat punia, tapi tetap menghaturkan canang berisi sari. 

 

“Ngelawang itu kan tujuannya untuk menghilangkan energi negatif di suatu wilayah atau tempat. Biasanya di Kota Denpasar saya lihat itu yang hendak memberikan punia tidak serta merta memberikan uang saja, namun menghaturkan canang juga. Nanti, yang punya rumah atau lebuh mendapat tirta yang kemudian dipergunakan di rumahnya. Kalau sekarang memang banyak konsepnya Ngelawang untuk mencari punia,” tandasnya. 


DENPASAR, BALI EXPRESS – Majelis Desa Adat (MDA) Kota Denpasar memberi respon terkait kasus tertabraknya remaja di Gianyar saat Ngelawang hingga meninggal dunia. Pihaknya menekankan perlunya pengawasan serta pengamanan agar ke depannya tidak terjadi hal seperti itu. 

 

Menurut Bendesa Madya MDA Kota Denpasar, AA Ketut Sudiana, kejadian di Gianyar itu menjadi catatan bersama bahwa pengawasan serta pengamanan menjadi penting dalam setiap upacara yang berbau keagamaan atau budaya. 

 

“Ngelawang itu pasti selalu ada setiap menyambut Hari Raya Galungan dan Kuningan, tak terkecuali di Kota Denpasar. Ngelawang saat ini kan banyak milik pribadi dan dilakukan oleh anak-anak kecil atau remaja, oleh sebab itu hendaknya diperlukan pengawasan dari orang yang lebih tua atau pecalang di masing-masing desa maupun banjar. Meskipun ada juga Ngelawang yang bersifat sakral yang dari unsur pengamanannya sudah lengkap mulai dari prajuru, pecalang hingga krama,” ujar AA Ketut Sudiana saat diwawancarai Senin (15/11).

 

Dengan kejadian di Gianyar tersebut, MDA Kota Denpasar memiliki bahan kajian yang nantinya akan dimusyawarahkan dalam rapat majelis. Sehingga, kedepannya prosesi Ngelawang, khususnya di Kota Denpasar dapat dipantau serta mendapat pengawasan dari desa masing-masing bagi mereka yang sifatnya Ngelawang punia yang biasanya dilakukan oleh anak-anak kecil maupun remaja. 

 

“Kebetulan sekarang (Senin-red) kami akan adakan rapat dengan prajuru majelis. Ini bisa menjadi bahan kajian yang akan kami musyawarahkan dan mendapat tindak lanjut ke depannya. Tujuannya tak lain dan tidak bukan agar prosesi Ngelawang berjalan aman dan nyaman,” tegasnya. 

 

Di Kota Denpasar sendiri akuinya tradisi Ngelawang lebih ke bersifat sakral dan tidak dilakukan oleh banyak pihak, hanya beberapa sekeha atau desa saja yang melakukan. Namun, kalaupun ada yang bersifat punia, tapi tetap menghaturkan canang berisi sari. 

 

“Ngelawang itu kan tujuannya untuk menghilangkan energi negatif di suatu wilayah atau tempat. Biasanya di Kota Denpasar saya lihat itu yang hendak memberikan punia tidak serta merta memberikan uang saja, namun menghaturkan canang juga. Nanti, yang punya rumah atau lebuh mendapat tirta yang kemudian dipergunakan di rumahnya. Kalau sekarang memang banyak konsepnya Ngelawang untuk mencari punia,” tandasnya. 


Most Read

Artikel Terbaru

/