alexametrics
25.8 C
Denpasar
Friday, May 27, 2022

Tiga Desa Adat di Badung Sepakat Tak Buat Ogoh-ogoh

BADUNG, BALI EXPRESS – Sebanyak tiga desa adat di Badung telah menyepakati tidak membuat maupun mengadakan pawai ogoh-ogoh saat pengerupukan dalam perayaan Nyepi Tahun Caka 1944.

Tiga desa ada tersebut adalah Desa Adat Bualu, Cemagi, dan Ungasan. Kesepakatan tidak membuat ogoh-ogoh ini muncul rapat antara sekaa teruna di masing-masing desa adat tersebut.

Bendesa Adat Ungasan I Wayan Disel Astawa mengatakan, ada sejumlah hal yang menjadi pertimbangan sehingga 15 sekaa teruna se-Desa Adat Ungasan sepakat tidak membuat ogoh-ogoh. Salah satunya yakni berkenaan dengan ketentuan-ketentuan yang tertuang dalam Surat Edaran Nomor 009/SE/MDA-Prov Bali/XII/2021 tentang Pembuatan dan Pawai Ogoh-ogoh Menyambut Hari Suci Nyepi Tahun Baru Caka 1944.

“Menyikapi SE Nomor 9, kami sudah mengadakan rapat. Di sana kami sampaikan bahwa pada prinsipnya sekarang ini pembuatan ogoh-ogoh tidak dilarang. Itu sebagai bentuk menghormati dan menghargai kreativitas seni generasi muda kaitan dengan tradisi turun-temurun,” ujar Disel Astawa saat dikonfirmasi Minggu (16/1).

Dari hasil rapat tersebut, Disel mengaku, sangat menghormati keputusan para pemuda setiap banjar itu. Terlebih, itu didasari pula atas kesadaran terhadap kondisi pandemi Covid-19. “Dengan kesepakatan ini, kami tentu berharap agar ke depan situasi segera pulih dan pariwisata bangkit kembali. Selain itu, harapan kami juga agar nantinya KTT G20 dapat terlaksana secara lancar dan memberi dampak positif terhadap perkembangan ekonomi masyarakat,” jelas anggota DPRD Provinsi Bali tersebut.

Hal senada juga disampaikan oleh Bendesa Adat Bualu I Wayan Mudita. Menurutnya, selain ketentuan dari MDA yang dianggap sulit dilaksanakan. Biaya pembuatan ogoh-ogoh juga dianggap cukup tinggi dalam pandemi Covid-19.






Reporter: I Putu Resa Kertawedangga

BADUNG, BALI EXPRESS – Sebanyak tiga desa adat di Badung telah menyepakati tidak membuat maupun mengadakan pawai ogoh-ogoh saat pengerupukan dalam perayaan Nyepi Tahun Caka 1944.

Tiga desa ada tersebut adalah Desa Adat Bualu, Cemagi, dan Ungasan. Kesepakatan tidak membuat ogoh-ogoh ini muncul rapat antara sekaa teruna di masing-masing desa adat tersebut.

Bendesa Adat Ungasan I Wayan Disel Astawa mengatakan, ada sejumlah hal yang menjadi pertimbangan sehingga 15 sekaa teruna se-Desa Adat Ungasan sepakat tidak membuat ogoh-ogoh. Salah satunya yakni berkenaan dengan ketentuan-ketentuan yang tertuang dalam Surat Edaran Nomor 009/SE/MDA-Prov Bali/XII/2021 tentang Pembuatan dan Pawai Ogoh-ogoh Menyambut Hari Suci Nyepi Tahun Baru Caka 1944.

“Menyikapi SE Nomor 9, kami sudah mengadakan rapat. Di sana kami sampaikan bahwa pada prinsipnya sekarang ini pembuatan ogoh-ogoh tidak dilarang. Itu sebagai bentuk menghormati dan menghargai kreativitas seni generasi muda kaitan dengan tradisi turun-temurun,” ujar Disel Astawa saat dikonfirmasi Minggu (16/1).

Dari hasil rapat tersebut, Disel mengaku, sangat menghormati keputusan para pemuda setiap banjar itu. Terlebih, itu didasari pula atas kesadaran terhadap kondisi pandemi Covid-19. “Dengan kesepakatan ini, kami tentu berharap agar ke depan situasi segera pulih dan pariwisata bangkit kembali. Selain itu, harapan kami juga agar nantinya KTT G20 dapat terlaksana secara lancar dan memberi dampak positif terhadap perkembangan ekonomi masyarakat,” jelas anggota DPRD Provinsi Bali tersebut.

Hal senada juga disampaikan oleh Bendesa Adat Bualu I Wayan Mudita. Menurutnya, selain ketentuan dari MDA yang dianggap sulit dilaksanakan. Biaya pembuatan ogoh-ogoh juga dianggap cukup tinggi dalam pandemi Covid-19.






Reporter: I Putu Resa Kertawedangga

Most Read

Artikel Terbaru

/