alexametrics
26.8 C
Denpasar
Sunday, May 29, 2022

Balian Desa, ‘Sulinggihnya’ Krama Pedawa Dipilih Secara Niskala

PEDAWA, BALI EXPRESS-Peran Balian Desa di Desa Pedawa, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, tergolong vital. Tokoh keagamaan ini bisa diibaratkan ‘Sulinggihnya’ orang Bali Mula. Sebab, Balian Desa berperan penting dalam muput (memimpin) upacara adat serta sejumlah ritual penting yang ada di Pedawa sebagai bagian dari Bali Aga. 

Seperti diungkapkan Pan Karpani, 65, Balian Desa yang sudah ngayah sebagai Balian Desa sejak tahun 1999 silam, atau hampir 22 tahun. Ia pun berkisah tentang sekelumit perjalanan hidupnya saat ngayah sebagai Balian Desa.

Sepengetahuannya, ngayah sebagai Balian Desa tidak bisa diminta. Apalagi ditolak. Sebab, ada kekuatan niskala yang menunjuknya. Jika menolak, maka sudah pasti ada konsekuensi negatif sebagai hukuman. Entah itu sakit fisik maupun sakit jiwa. 

“Tiang hampir setahun sakit tidak karuan. Bingung. Berkali-kali berobat ke medis juga tidak sembuh-sembuh. Sampai cari Balian (paranormal). Beberapa kali disarankan agar ngiring jadi Balian Desa. Awalnya sempat menolak, tapi karena tidak tahan, akhirnya bersedia,” kenangnya kepada Bali Express (Jawa Pos Group), akhir pekan kemarin.

Dikatakan Pan Karpani, sejatinya dirinya menggantikan posisi sang kakak yang lebih dulu menjadi Balian Desa. Namun, karena kakaknya meninggal dunia, akhirnya dirinyalah yang meneruskan ngayah. 

Bukanlah tanpa alasan dirinya kajudi atau ditunjuk secara niskala. Sebab, yang berhak menjadi Balian Desa adalah dari lingkup keluarganya. Hal itu sudah dilakoni pendahulunya dari generasi ke generasi.

Anehnya, meskipun dirinya memiliki adik yang notabene jauh lebih paham tentang urusan agama, namun secara niskala tetap Pan Karpani kajudi. Padahal, ia mengaku sama sekali awam tentang urusan yang sifatnya spiritual. Namun apa daya, Pan Karpani tak berkutik ketika prajuru Desa Adat Pedawa memintanya bersedia untuk ngayah.

“Kakak saya meninggal di usia 90 tahun menjadi Balian Desa. Kemudian Desa Pedawa tidak ada Janbangul. Akhirnya saya dicari. Awalnya menolak, karena lebih suka bebas. Maunya saya minta agar adiknya yang menjadi Balian Desa. Tetapi kehendak beliau meminta tiang yang menjadi Balian Desa,” akunya.

Setelah dibuatkan upacara inisiasi dan dinobatkan menjadi Balian Desa di usianya yang saat itu 45 tahun, Pan Karpani pun luput dari ayahan desa dan tidak kena urunan banten maupun materi di desa. 

Sebagai bentuk kompensasi, ia juga wajib menempati sebuah rumah sederhana yang berlokasi di Dusun Desa, Desa Pedawa. Persis bersebelahan dengan Pura Desa Pedawa. 

Rumah itu bukanlah rumah sembarangan. Namun bisa diibaratkan seperti kantor secara niskala. Sebab siapapun ditunjuk menjadi Balian Desa, maka ia wajib menempati rumah tersebut sebagai tempat tinggalnya.

Menariknya, rumah berarsitektur khas Pedawa yang disebut Bandung Rangki ini, tidak sembarangan orang boleh masuk. Sebab, selain disakralkan, juga di dalam rumah tersebut menyimpan sejumlah peralatan ritual yang digunakan Balian Desa muput upacara adat.

Kedepannya, siapapun yang kajud sebagai Balian Desa untuk menggantikannya, maka yang bersangkutanlah wajib untuk menghuninya. Sehingga krama Pedawa juga dipermudah untuk menghubunginya untuk muput upacara.

“Kalau Balian Desa diibaratkan seorang camat, maka rumah ini diibaratkan kantor camatnya. Jadi ada kewajiban tinggal di rumah ini selama menjadi Balian Desa, sampai meninggal. Karena Balian Desa itu ngayahnya seumur hidup. Pensiun ngayah ketika sudah meninggal,” bebernya.

Ia menuturkan, saat muput upacara, tidak ada mantram khusus untuk ngojah atau menyebut Ida Bhatara yang malinggih. Ia hanya menggunakan sesontengan dengan bahasa lokal Pedawa. 

Sesontengan itupun hanya bisa disebutkan saat sedang muput. Bahkan, sulit terucap jika tidak sedang muput.

Awalnya, yang menjadi momok menakutkan menjadi Balian Desa bagi Pan Karpani adalah saat mengucapkan sesontengan. Hanya saja, begitu malinggih, dirinya sedikitpun tidak kesulitan mengucapkannya. Bahkan mengalir begitu saja tanpa ia sadari. 

“Ngojah linggih Ida Bhatara itu tidak boleh sembarangan. Karena sangat disakralkan, sehingga akan muncul dengan sendirinya dari bibir ketika sedang muput upacara. Jadi itu bukan mantram tertulis yang bersifat hafalan. Itu tergantung gaya Balian Desa mengucapkan. Dan keyakinan kami, Ida Bhatara sangat paham dengan beragam bahasa,” ungkapnya.

Rupanya, tidak semua ritual yang dilaksanakan masyarakat Pedawa dipuput Balian Desa. Khusus upacara manusa yadnya, seperti rentetan kelahiran, mulai dari kepus pungsed, nampi, nanggapang, nelubulanin, nyambutin, bisa dipuput oleh seorang wanita yang bisa sebagai sarati banten.

Hanya saja, untuk ritual kematian, ngangkid, melasti hingga pujawali di pura yang ada di wilayah Pedawa, barulah dipuput Balian Desa. “Jadi, tukang banten juga bisa muput upacara yang berkaitan tentang kelahiran. Karena harus seorang wanita,” katanya.

Pihaknya tak menampik, banyak krama Pedawa yang bermukim di luar Desa Pedawa kerap mengundangnya untuk memuput upacara yang dilaksanakan umatnya di rantauan. Mulai dari upacara ngurip-urip rumah, melaspas palinggih, ngeyehin karang, neduh maupun upacara lainnya.

“Tidak ada masalah jika memang saya harus muput keluar desa Pedawa. Karena saat ini juga banyak warga kami yang merantau keluar desa,” pungkasnya. 


PEDAWA, BALI EXPRESS-Peran Balian Desa di Desa Pedawa, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, tergolong vital. Tokoh keagamaan ini bisa diibaratkan ‘Sulinggihnya’ orang Bali Mula. Sebab, Balian Desa berperan penting dalam muput (memimpin) upacara adat serta sejumlah ritual penting yang ada di Pedawa sebagai bagian dari Bali Aga. 

Seperti diungkapkan Pan Karpani, 65, Balian Desa yang sudah ngayah sebagai Balian Desa sejak tahun 1999 silam, atau hampir 22 tahun. Ia pun berkisah tentang sekelumit perjalanan hidupnya saat ngayah sebagai Balian Desa.

Sepengetahuannya, ngayah sebagai Balian Desa tidak bisa diminta. Apalagi ditolak. Sebab, ada kekuatan niskala yang menunjuknya. Jika menolak, maka sudah pasti ada konsekuensi negatif sebagai hukuman. Entah itu sakit fisik maupun sakit jiwa. 

“Tiang hampir setahun sakit tidak karuan. Bingung. Berkali-kali berobat ke medis juga tidak sembuh-sembuh. Sampai cari Balian (paranormal). Beberapa kali disarankan agar ngiring jadi Balian Desa. Awalnya sempat menolak, tapi karena tidak tahan, akhirnya bersedia,” kenangnya kepada Bali Express (Jawa Pos Group), akhir pekan kemarin.

Dikatakan Pan Karpani, sejatinya dirinya menggantikan posisi sang kakak yang lebih dulu menjadi Balian Desa. Namun, karena kakaknya meninggal dunia, akhirnya dirinyalah yang meneruskan ngayah. 

Bukanlah tanpa alasan dirinya kajudi atau ditunjuk secara niskala. Sebab, yang berhak menjadi Balian Desa adalah dari lingkup keluarganya. Hal itu sudah dilakoni pendahulunya dari generasi ke generasi.

Anehnya, meskipun dirinya memiliki adik yang notabene jauh lebih paham tentang urusan agama, namun secara niskala tetap Pan Karpani kajudi. Padahal, ia mengaku sama sekali awam tentang urusan yang sifatnya spiritual. Namun apa daya, Pan Karpani tak berkutik ketika prajuru Desa Adat Pedawa memintanya bersedia untuk ngayah.

“Kakak saya meninggal di usia 90 tahun menjadi Balian Desa. Kemudian Desa Pedawa tidak ada Janbangul. Akhirnya saya dicari. Awalnya menolak, karena lebih suka bebas. Maunya saya minta agar adiknya yang menjadi Balian Desa. Tetapi kehendak beliau meminta tiang yang menjadi Balian Desa,” akunya.

Setelah dibuatkan upacara inisiasi dan dinobatkan menjadi Balian Desa di usianya yang saat itu 45 tahun, Pan Karpani pun luput dari ayahan desa dan tidak kena urunan banten maupun materi di desa. 

Sebagai bentuk kompensasi, ia juga wajib menempati sebuah rumah sederhana yang berlokasi di Dusun Desa, Desa Pedawa. Persis bersebelahan dengan Pura Desa Pedawa. 

Rumah itu bukanlah rumah sembarangan. Namun bisa diibaratkan seperti kantor secara niskala. Sebab siapapun ditunjuk menjadi Balian Desa, maka ia wajib menempati rumah tersebut sebagai tempat tinggalnya.

Menariknya, rumah berarsitektur khas Pedawa yang disebut Bandung Rangki ini, tidak sembarangan orang boleh masuk. Sebab, selain disakralkan, juga di dalam rumah tersebut menyimpan sejumlah peralatan ritual yang digunakan Balian Desa muput upacara adat.

Kedepannya, siapapun yang kajud sebagai Balian Desa untuk menggantikannya, maka yang bersangkutanlah wajib untuk menghuninya. Sehingga krama Pedawa juga dipermudah untuk menghubunginya untuk muput upacara.

“Kalau Balian Desa diibaratkan seorang camat, maka rumah ini diibaratkan kantor camatnya. Jadi ada kewajiban tinggal di rumah ini selama menjadi Balian Desa, sampai meninggal. Karena Balian Desa itu ngayahnya seumur hidup. Pensiun ngayah ketika sudah meninggal,” bebernya.

Ia menuturkan, saat muput upacara, tidak ada mantram khusus untuk ngojah atau menyebut Ida Bhatara yang malinggih. Ia hanya menggunakan sesontengan dengan bahasa lokal Pedawa. 

Sesontengan itupun hanya bisa disebutkan saat sedang muput. Bahkan, sulit terucap jika tidak sedang muput.

Awalnya, yang menjadi momok menakutkan menjadi Balian Desa bagi Pan Karpani adalah saat mengucapkan sesontengan. Hanya saja, begitu malinggih, dirinya sedikitpun tidak kesulitan mengucapkannya. Bahkan mengalir begitu saja tanpa ia sadari. 

“Ngojah linggih Ida Bhatara itu tidak boleh sembarangan. Karena sangat disakralkan, sehingga akan muncul dengan sendirinya dari bibir ketika sedang muput upacara. Jadi itu bukan mantram tertulis yang bersifat hafalan. Itu tergantung gaya Balian Desa mengucapkan. Dan keyakinan kami, Ida Bhatara sangat paham dengan beragam bahasa,” ungkapnya.

Rupanya, tidak semua ritual yang dilaksanakan masyarakat Pedawa dipuput Balian Desa. Khusus upacara manusa yadnya, seperti rentetan kelahiran, mulai dari kepus pungsed, nampi, nanggapang, nelubulanin, nyambutin, bisa dipuput oleh seorang wanita yang bisa sebagai sarati banten.

Hanya saja, untuk ritual kematian, ngangkid, melasti hingga pujawali di pura yang ada di wilayah Pedawa, barulah dipuput Balian Desa. “Jadi, tukang banten juga bisa muput upacara yang berkaitan tentang kelahiran. Karena harus seorang wanita,” katanya.

Pihaknya tak menampik, banyak krama Pedawa yang bermukim di luar Desa Pedawa kerap mengundangnya untuk memuput upacara yang dilaksanakan umatnya di rantauan. Mulai dari upacara ngurip-urip rumah, melaspas palinggih, ngeyehin karang, neduh maupun upacara lainnya.

“Tidak ada masalah jika memang saya harus muput keluar desa Pedawa. Karena saat ini juga banyak warga kami yang merantau keluar desa,” pungkasnya. 


Most Read

Artikel Terbaru

/