alexametrics
29.8 C
Denpasar
Thursday, May 19, 2022

Siat Yeh Satukan Energi Alam, Agar Air Memberikan Kemakmuran

MANGUPURA, BALI EXPRESS – Siat Yeh atau perang air merupakan tradisi lama yang sudah sempat terkubur. Siat Yeh dilaksanakan pada Ngembak Geni atau Umanis Nyepi. Tradisi ini bertujuan untuk menyatukan kekuatan alam agar dapat memberikan kemakmuran. 

Tradisi Siat Yeh Kembali digelar oleh ST. Bhakti Asih Banjar Teba, Jimbaran. Pelaksanaan kegiatan ini dimulai sejak pukul 08.30 Wita bertempat di Balai Banjar Teba. 

Dalam tradisi ini para peserta saling melempar air (berperang air) kepada peserta di kubu yang berseberangan. 

Pembina ST. Bhakti Asih Banjar Teba I Gusti Ketut Gede Yusa Arsana Putra mengatakan, prosesi Siat Yeh diawali dengan mendak (menjemput) tirta (air suci) ke pantai timur di wilayah Suwung dan pantai barat, tepatnya di Jimbaran.

“Tradisi ini bertujuan untuk menyatukan kekuatan alam, dalam hal ini adalah air, agar nantinya dapat memberikan kemakmuran bagi masyarakat,” ucap Yusa Arsana saat dikonfirmasi Senin (15/3). 

Ia menambahkan, prosesi mendak tirta menggunakan lima kendi dari masing-masing tempat. Dalam prosesinya disesuaikan dengan pangurip-urip, dengan warna kuning dari barat dan putih dari timur. “Dahulu di Jimbaran sumber penghidupan hanya dua, yakni menjadi nelayan di pantai barat atau menjadi petani garam di pantai timur. Sehingga inilah yang kami satukan,” ujar Yusa.

Tradisi Siat Yeh pertama kali digelar 18 Maret 2018 setelah lama dihentikan. Awalnya bertepatan dengan Banyupinaruh dan Ngembak Geni. Sebelumnya masyarakat Jimbaran sudah pernah melaksanakan, namun sempat terhenti. 

“Siat yeh ini memang baru kami gelar, namun keberlangsungannya merekronstruksi tradisi yang dahulu. Tradisi ini pernah dilaksanakan saat Hari Raya Nyepi masyarakat berperang air di pantai, tapi karena melanggar Catur Brata Panyepian sehingga tidak dilaksanakan lagi. Barulah dilaksnakan saat Ngembak Geni,” pungkas Yusa saat menceritakan pelaksanaan Siat Yeh. 

Dalam pandemi Covid-19, tradisi Siat Yeh tetap digelar, namun dengan tetap menerapkan protokol kesehatan. Menurut Yusa, dalam prosesinya hanya 24 orang yang dilibatkan. Selain itu, juga ada penjagaan dari pacalang banjar Teba agar tidak terjadi keramaian. 

“Kami batasi kegiatannya, hanya dilaksanakan di balai banjar. Dimulai dari 08.30 hingga 09.00 Wita, sebelumnya durasinya panjang. Selain itu juga kami batasi yang ingin menonton agar tidak melanggar prokes,” imbuhnya. (esa)


MANGUPURA, BALI EXPRESS – Siat Yeh atau perang air merupakan tradisi lama yang sudah sempat terkubur. Siat Yeh dilaksanakan pada Ngembak Geni atau Umanis Nyepi. Tradisi ini bertujuan untuk menyatukan kekuatan alam agar dapat memberikan kemakmuran. 

Tradisi Siat Yeh Kembali digelar oleh ST. Bhakti Asih Banjar Teba, Jimbaran. Pelaksanaan kegiatan ini dimulai sejak pukul 08.30 Wita bertempat di Balai Banjar Teba. 

Dalam tradisi ini para peserta saling melempar air (berperang air) kepada peserta di kubu yang berseberangan. 

Pembina ST. Bhakti Asih Banjar Teba I Gusti Ketut Gede Yusa Arsana Putra mengatakan, prosesi Siat Yeh diawali dengan mendak (menjemput) tirta (air suci) ke pantai timur di wilayah Suwung dan pantai barat, tepatnya di Jimbaran.

“Tradisi ini bertujuan untuk menyatukan kekuatan alam, dalam hal ini adalah air, agar nantinya dapat memberikan kemakmuran bagi masyarakat,” ucap Yusa Arsana saat dikonfirmasi Senin (15/3). 

Ia menambahkan, prosesi mendak tirta menggunakan lima kendi dari masing-masing tempat. Dalam prosesinya disesuaikan dengan pangurip-urip, dengan warna kuning dari barat dan putih dari timur. “Dahulu di Jimbaran sumber penghidupan hanya dua, yakni menjadi nelayan di pantai barat atau menjadi petani garam di pantai timur. Sehingga inilah yang kami satukan,” ujar Yusa.

Tradisi Siat Yeh pertama kali digelar 18 Maret 2018 setelah lama dihentikan. Awalnya bertepatan dengan Banyupinaruh dan Ngembak Geni. Sebelumnya masyarakat Jimbaran sudah pernah melaksanakan, namun sempat terhenti. 

“Siat yeh ini memang baru kami gelar, namun keberlangsungannya merekronstruksi tradisi yang dahulu. Tradisi ini pernah dilaksanakan saat Hari Raya Nyepi masyarakat berperang air di pantai, tapi karena melanggar Catur Brata Panyepian sehingga tidak dilaksanakan lagi. Barulah dilaksnakan saat Ngembak Geni,” pungkas Yusa saat menceritakan pelaksanaan Siat Yeh. 

Dalam pandemi Covid-19, tradisi Siat Yeh tetap digelar, namun dengan tetap menerapkan protokol kesehatan. Menurut Yusa, dalam prosesinya hanya 24 orang yang dilibatkan. Selain itu, juga ada penjagaan dari pacalang banjar Teba agar tidak terjadi keramaian. 

“Kami batasi kegiatannya, hanya dilaksanakan di balai banjar. Dimulai dari 08.30 hingga 09.00 Wita, sebelumnya durasinya panjang. Selain itu juga kami batasi yang ingin menonton agar tidak melanggar prokes,” imbuhnya. (esa)


Most Read

Artikel Terbaru

/