alexametrics
29.8 C
Denpasar
Friday, May 27, 2022

Tangkal Roh Jahat, Ari-Ari Dikubur Lengkap dengan Sarwa Bungkilan

SINGARAJA, BALI EXPRESS – Selain sembahyang di sejumlah tempat, ritual Matebus Belingan ada pula prosesi saat menanam ari-ari atau plasenta di Desa Sembiran, Buleleng.

Kelian  Adat Sembiran I Nengah Arijaya mengatakan, saat anak lahir,  ari-ari yang keluar dikubur bersamaan pada hari yang sama, seperti ari-ari, lamas, darah dan air ketuban.

Pada saat kelahiran, air ketuban muncul sebagai  zat badan yang pertama dan plasenta sebagai yang terakhir. Arijaya menyebut, menurut kanda pat dianalogikan sebagai saudara yang pertama dalam urutan kelahiran.

Air ketuban disebut sebagai Ratu Ngurah Tangkeb Langit, kemudian darah sebagai I Ratu Wayan Tebeng, Plasenta sebagai I Ratu Made Jelawung, tali ari-ari adalah I Ratu Nyoman Sakti Pengadangan dan sang anak sendiri berkedudukan sebagai I Ratu Ketut Petung.

“Upacara kelahiran ini bertujuan untuk mencapai hubungan yang seimbang dan karib antara anak yang baru dilahirkan dengan keempat teman spiritualnya,” ujar Arijaya

Kepada keempat teman tersebut dipersembahkan banten di tempat di mana plasenta dikuburkan untuk memohon pendampingan mereka di dalam fase kelahiran. Bukan tanpa pertimbangan, sebab, setelah kelahiran yang dirasa rawan oleh roh-roh jahat.

“Dalam Bahasa Sembiran, ari-ari disebut Tegahkan. Yang berarti tempat kedudukan atau tempat berlokasi, bagi masyarakat setempat juga diartikan dengan penguburan ari-ari,” jelasnya.

Umumnya, ari-ari yang sudah lahir tersebut dicuci oleh ayah dari sang anak. Kemudian dibungkus dengan kain putih, bungkusan tersebut bersama dengan banten-banten porosan dan canang. Ada pula sarwa bungkilan akan ditanam di dalam suatu belanga baru atau di dalam sebuah kelapa muda.

Sarwa bungkilan terdiri dari jahe, cekuh, dan bawang merah dan ditujukan untuk menjauhkan dari roh-roh jahat dari tempat penguburan plasenta. Karena roh-roh jahat tertarik dengan bau darah dari plasenta tersebut.

Ari-ari bayi laki-laki dikubur di sebelah kanan gerbang rumah. Sedangkan ari-ari bayi perempuan dikuburkan sebelah kiri. “Masyarakat sangat meyakini, ritual menanam ari-ari ini harus dilakukan dengan penuh kehati-hatian, dan penuh ketulusan,” pungkasnya.

 






Reporter: I Putu Mardika

SINGARAJA, BALI EXPRESS – Selain sembahyang di sejumlah tempat, ritual Matebus Belingan ada pula prosesi saat menanam ari-ari atau plasenta di Desa Sembiran, Buleleng.

Kelian  Adat Sembiran I Nengah Arijaya mengatakan, saat anak lahir,  ari-ari yang keluar dikubur bersamaan pada hari yang sama, seperti ari-ari, lamas, darah dan air ketuban.

Pada saat kelahiran, air ketuban muncul sebagai  zat badan yang pertama dan plasenta sebagai yang terakhir. Arijaya menyebut, menurut kanda pat dianalogikan sebagai saudara yang pertama dalam urutan kelahiran.

Air ketuban disebut sebagai Ratu Ngurah Tangkeb Langit, kemudian darah sebagai I Ratu Wayan Tebeng, Plasenta sebagai I Ratu Made Jelawung, tali ari-ari adalah I Ratu Nyoman Sakti Pengadangan dan sang anak sendiri berkedudukan sebagai I Ratu Ketut Petung.

“Upacara kelahiran ini bertujuan untuk mencapai hubungan yang seimbang dan karib antara anak yang baru dilahirkan dengan keempat teman spiritualnya,” ujar Arijaya

Kepada keempat teman tersebut dipersembahkan banten di tempat di mana plasenta dikuburkan untuk memohon pendampingan mereka di dalam fase kelahiran. Bukan tanpa pertimbangan, sebab, setelah kelahiran yang dirasa rawan oleh roh-roh jahat.

“Dalam Bahasa Sembiran, ari-ari disebut Tegahkan. Yang berarti tempat kedudukan atau tempat berlokasi, bagi masyarakat setempat juga diartikan dengan penguburan ari-ari,” jelasnya.

Umumnya, ari-ari yang sudah lahir tersebut dicuci oleh ayah dari sang anak. Kemudian dibungkus dengan kain putih, bungkusan tersebut bersama dengan banten-banten porosan dan canang. Ada pula sarwa bungkilan akan ditanam di dalam suatu belanga baru atau di dalam sebuah kelapa muda.

Sarwa bungkilan terdiri dari jahe, cekuh, dan bawang merah dan ditujukan untuk menjauhkan dari roh-roh jahat dari tempat penguburan plasenta. Karena roh-roh jahat tertarik dengan bau darah dari plasenta tersebut.

Ari-ari bayi laki-laki dikubur di sebelah kanan gerbang rumah. Sedangkan ari-ari bayi perempuan dikuburkan sebelah kiri. “Masyarakat sangat meyakini, ritual menanam ari-ari ini harus dilakukan dengan penuh kehati-hatian, dan penuh ketulusan,” pungkasnya.

 






Reporter: I Putu Mardika

Most Read

Artikel Terbaru

/