alexametrics
26.8 C
Denpasar
Monday, June 27, 2022

Tiga Golongan Tari di Bali; Tari Bali, Bebali, dan Balih-Balihan

BALI EXPRESS, DENPASAR – Umat Hindu dalam pelaksanaan upacara agama sering diiringi dengan tarian. Seni tari yang menyertai pelaksanaan upacara agama itu sering disebut tarian sakral.

Di Bali sampai saat ini tarian sakral tetap bertahan dan lestari. Hal ini terjadi karena salah satunya adalah umat Hindu tidak berani mengubah atau meninggalkan begitu saja, karena diyakini akan membawa mal petaka bagi kehidupan. Dapat dipahami bahwa tarian sakral selalu dilaksanakan dalam kaitannya dengan upacara agama. Apalagi dengan menarikan tarian sakral itulah sebagai media persembahan dan pemujaan terhadap Tuhan. Kemudian beliau berkenan memberikan perlindungan, keselamatan, kekuatan, kesejahtraan, dan kebahagian hidup. Untuk menghindari pengertian yang baur tentang seni tari, sejalan dengan perkembangan seni tari itu sendiri, maka dibuatlah rumusan klasifikasi tarian ke dalam tiga golongan, yakni Tari Bali atau Wali, adalah suatu tari yang pementasannya dilakukan sejalan dengan pelaksanaan upacara. Tarian ini tidak mengandung cerita, hanya mengandung simbolis religius, seperti terlukis dalam tarian Rejang, Pendet, Sanghyang, tari Baris Gede.  Selanjutnya Tari Bebali, adalah tari yang pementasannya menunjang jalannya upacara, yakni sebagai sarana pengiring. Tarian ini dipentaskan bersamaan dengan upacara berlangsung dan tarian ini mengungkap suatu ceritra, yang disesuikan dengan upacara yang diselenggarakan saat itu. Dan, yang ketiga adalah Tari Balih-Balihan, adalah tari yang tidak termasuk sakral, hanya berfungsi hiburan dan tontonan yang mempunyai unsur dasar seni tari yang luhur, seperti  tari legong, tari janger, dan lainnya.


BALI EXPRESS, DENPASAR – Umat Hindu dalam pelaksanaan upacara agama sering diiringi dengan tarian. Seni tari yang menyertai pelaksanaan upacara agama itu sering disebut tarian sakral.

Di Bali sampai saat ini tarian sakral tetap bertahan dan lestari. Hal ini terjadi karena salah satunya adalah umat Hindu tidak berani mengubah atau meninggalkan begitu saja, karena diyakini akan membawa mal petaka bagi kehidupan. Dapat dipahami bahwa tarian sakral selalu dilaksanakan dalam kaitannya dengan upacara agama. Apalagi dengan menarikan tarian sakral itulah sebagai media persembahan dan pemujaan terhadap Tuhan. Kemudian beliau berkenan memberikan perlindungan, keselamatan, kekuatan, kesejahtraan, dan kebahagian hidup. Untuk menghindari pengertian yang baur tentang seni tari, sejalan dengan perkembangan seni tari itu sendiri, maka dibuatlah rumusan klasifikasi tarian ke dalam tiga golongan, yakni Tari Bali atau Wali, adalah suatu tari yang pementasannya dilakukan sejalan dengan pelaksanaan upacara. Tarian ini tidak mengandung cerita, hanya mengandung simbolis religius, seperti terlukis dalam tarian Rejang, Pendet, Sanghyang, tari Baris Gede.  Selanjutnya Tari Bebali, adalah tari yang pementasannya menunjang jalannya upacara, yakni sebagai sarana pengiring. Tarian ini dipentaskan bersamaan dengan upacara berlangsung dan tarian ini mengungkap suatu ceritra, yang disesuikan dengan upacara yang diselenggarakan saat itu. Dan, yang ketiga adalah Tari Balih-Balihan, adalah tari yang tidak termasuk sakral, hanya berfungsi hiburan dan tontonan yang mempunyai unsur dasar seni tari yang luhur, seperti  tari legong, tari janger, dan lainnya.


Most Read

Artikel Terbaru

/