alexametrics
26.8 C
Denpasar
Thursday, May 26, 2022

Diterjang Sasab Merana, Petani Mesti Mohon Pengampunan

SINGARAJA, BALI EXPRESS-Selain mengenal sejumlah ritual dalam tahapan menanam padi, petani di Bali juga melakukan sederet upacara tatkala terjadi serangan hama atau Sasab Merana. 

Rangkaian upacara  yang dilakukan, dinamai Nangluk Merana. Untuk ritual ini, petani harus mendirikan Sanggah Cucuk asibak (setengah) di setiap sudut petak sawah paling hulu (pengalapan) dan di bagian tengah-tengah petak serta berisi Sawen Ambu (daun enau muda).

Dikatakan Putu Maria Ratih Anggraini, M.Fil.H, bila terjadi serangan oleh hama walang sangit, maka petani harus memohon pengampunan di Pura Sakenan, Ulun Swi, Masceti, atau di pura yang dianggap penyungsungan krama subak. 

Yang dipersembahkan di Gunung Batur misalnya, antara lain Pajati asoroh, nasi kuning dengan iwak kuning telur ayam hitam, serta dipupuki kacang.

Jika serangan hama burung dan tikus, maka krama subak harus memohon pengampunan di Pura Bale Agung. Bebantennya salaran selengkapnya, Pajati, Tulung Urip, Canang tigang tanding, mohon tirtha (air suci) di Pura Bale Agung.

Pada umumnya pelaksanaan upacara Nangluk Merana pelaksanaannya dipusatkan di Pura Ulun Swi dan dibarengi juga dengan pelaksanaan upacara di areal persawahan. 

Pada upacara Nangluk Merana biasanya semua jalan atau celah yang ada di pinggir pantai ditutup rapat menggunakan bambu yang diisi klabang (terbuat dari daun kelapa).

Menurut kepercayaan, semua hama penyakit yang ada di persawahan berasal dari laut. Sehingga dengan ditutupnya semua celah menyimbolkan agar semua hama penyakit tidak bisa masuk ke daratan.

Pada upacara ini, semua krama subak melakukan sembah bakti, memohon kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa dan manifestasi beliau sebagai Dewi Sri. Dengan harapan agar semua hama penyakit tidak mengganggu lahan pertanian, sehingga menciptakan kemakmuran dan kesuburan. 

“Dewi Sri adalah penguasa semua jenis hama penyakit pertanian dan dapat menyebabkan kemiskinan serta kesengsaraan bagi semua makhluk,” pungkasnya.


SINGARAJA, BALI EXPRESS-Selain mengenal sejumlah ritual dalam tahapan menanam padi, petani di Bali juga melakukan sederet upacara tatkala terjadi serangan hama atau Sasab Merana. 

Rangkaian upacara  yang dilakukan, dinamai Nangluk Merana. Untuk ritual ini, petani harus mendirikan Sanggah Cucuk asibak (setengah) di setiap sudut petak sawah paling hulu (pengalapan) dan di bagian tengah-tengah petak serta berisi Sawen Ambu (daun enau muda).

Dikatakan Putu Maria Ratih Anggraini, M.Fil.H, bila terjadi serangan oleh hama walang sangit, maka petani harus memohon pengampunan di Pura Sakenan, Ulun Swi, Masceti, atau di pura yang dianggap penyungsungan krama subak. 

Yang dipersembahkan di Gunung Batur misalnya, antara lain Pajati asoroh, nasi kuning dengan iwak kuning telur ayam hitam, serta dipupuki kacang.

Jika serangan hama burung dan tikus, maka krama subak harus memohon pengampunan di Pura Bale Agung. Bebantennya salaran selengkapnya, Pajati, Tulung Urip, Canang tigang tanding, mohon tirtha (air suci) di Pura Bale Agung.

Pada umumnya pelaksanaan upacara Nangluk Merana pelaksanaannya dipusatkan di Pura Ulun Swi dan dibarengi juga dengan pelaksanaan upacara di areal persawahan. 

Pada upacara Nangluk Merana biasanya semua jalan atau celah yang ada di pinggir pantai ditutup rapat menggunakan bambu yang diisi klabang (terbuat dari daun kelapa).

Menurut kepercayaan, semua hama penyakit yang ada di persawahan berasal dari laut. Sehingga dengan ditutupnya semua celah menyimbolkan agar semua hama penyakit tidak bisa masuk ke daratan.

Pada upacara ini, semua krama subak melakukan sembah bakti, memohon kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa dan manifestasi beliau sebagai Dewi Sri. Dengan harapan agar semua hama penyakit tidak mengganggu lahan pertanian, sehingga menciptakan kemakmuran dan kesuburan. 

“Dewi Sri adalah penguasa semua jenis hama penyakit pertanian dan dapat menyebabkan kemiskinan serta kesengsaraan bagi semua makhluk,” pungkasnya.


Most Read

Artikel Terbaru

/