26.5 C
Denpasar
Sunday, April 2, 2023

Tumpek Kandang; Kandangkan Pikiran Liar, Doakan Binatang Tak ‘Tulah’

BALI EXPRESS, DENPASAR – Berbuatlah agar semua orang,binatang-binatang dan semua makhluk hidup berbahagia (Yajurveda XVI.48). Kutipan dalam yajur weda XVI.48 ini, semakin menegaskan jika umat Hindu memiliki misi untuk menyayangi semua makhluk di bumi, baik sesama manusia, hewan maupun tumbuhan. 

Di Bali, pemujaan terhadap keagungan Tuhan Yang Maha Esa melalui pemeliharaan atas
ciptaan-Nya berupa binatang ternak atau peliharaan diwujudkan dalam pelaksanaan Tumpek Uye atau Tumpek Kandang. Tumpek Kandang atau Tumpek Uye, jatuh pada setiap hari Sabtu Kliwon Wuku Uye, menurut perhitungan kalender Bali-Jawa. Penyebutan

Tumpek Kandang tidak terlepas dari perhitungan dina (hari). Saniscara (Sabtu) memiliki urip 9, wara kliwon memiliki urip 8 dan wuku Uye juga memiliki urip 8. Bila dijumlahkan, Saniscara Kliwon Uye memiliki urip 25. Jika kedua angka 2 dan 5 itu dijumlahkan, didapat angka 7.

Berdasarkan Tattwa Samkhya, hari dengan urip 7 dianggap sebagai hari berwatak rajah yang disejajarkan dengan watak sato (binatang). Seperti disampaikan oleh Jero Mangku Gede Anom, bahwa Hari Tumpek Kandang adalah upacara selamatan untuk binatang-binatang, yang  disembelih dan binatang piaraan. Hakekatnya adalah untuk memuja Tuhan Yang Mahaesa, Siwa yang disebut Rare Angon, penggembala makhluk. Ini berarti manusia hendaknya selaras dan hidup hamonis dengan alam semesta,khususnya bumi ini dan dengan ciptaan-Nya yang lain, termasuk tumbuh-tumbuhan dan binatang. Dalam ajaran Hindu, semua makhluk diyakini memiliki jiwa yang berasal dari Tuhan Yang Mahaesa.

 

“Semua binatang merupakan ciptaan Ida Sang Hyang Widhi Wasa, ini tidakdiartikan bahwa umat Hindu sebagai penyembah binatang, melainkan mendoakan semua binatang agar diberikan keselamatan. Karena Ida Sang Hyang Widhi dalam manifestasinya sebagai Siwa yang disebut Rare Angon
menjadi pengembala semua binatang,” kata Jero Anom, kepada Bali Express (Jawa Pos Group) Jumat (23/6).

Lebih lanjut diuraikan Jero Anom, jika pelaksanaan Tumpek Kandang ini merujuk dari sumber Lontar Sundarigama yang menyebutkan bahwa Uye, Saniscara Kliwon, Tumpek Kandang, prakrti ring sarwa sato, patik wenang paru hana upadana nia, yan ia sapi, kebo, asti, salwir nia satoraja, upadania: tumpeng, tebasan, pareresikan, panyeneng, jerimpen. Yan ing bawi , tumpeng, penyeneng, canang raka. Yan ring babi ina , anaman bakkok, belayang tunggal lawan sagawon. Yan ing sarwa paksi, ayam, itik, angsa, dolong, titiran, kukur, kunang salwir nia, anaman manut rupania, yang paksi anaman paksi, yan ayam anaman ayam, duluran nyeneng, tetebus mwang kembang pahes, kalingania iking widhana ring manusa, amarid saking Sanghyang Rare Angon, wenang ayabin, pituhun ya ring manusa, sinukmaning sato, paksi, mina, ring raganta wawalungan, Sanghyang Rare Angon, cariranira utama. Artinya  bahwa Wuku Uye, pada Saniscara Kliwon, adalah Tumpek Kandang, yaitu hari untuk mengupacarai semua jenis binatang ternak dan binatang lainnya. Adapun upacaranya: jika Sapi, Kerbau, Gajah, dan binatang besar lainnya (sato agung) adalah tumpeng, tetebasan, pareresik, penyeneng, dan jerimpen. Kalau terhadap babi jantan (bangkung) adalah tumpeng tebasan, penyeneng, dan canang raka. Kalau ternak babi betina persembahannya adalah ketupat belekok, belayang tunggal, dan sagu. Kalau untuk jenis burung, ayam, itik, titiran. Demikian pula perkutut, dan sejenisnya, maka persembahannya adalah ketupat menurut bentuk rupanya, yaitu kalau burung berupa ketupat burung, kalau ayam dengan ketupat berupa ayam. Lain daripada itu, juga dengan banten penyeneng, tetebus, dan kembang payas.

Baca Juga :  Tumpek, Antara Esensi dan Pergeseran Praktik

Menurut Jro Anom, di Bali Tumpek Kandang merupakan ritual agraris. Sebab, ritual ini begitu penting bagi masyarakat yang menggantungkan mata pencahariannya pada bidang peternakan. Bagi para peternak tentu hewan piaraan atau hewan ternak menjadi sangat penting bagi kehidupannya karena ternak inilah sumber penghidupan dan kesejahteraan. Orang Bali menilai bahwa keberadaan hewan ternak sebagai sumber kesejahteraan sehingga hewan-hewan ternak ini diberikan posisi yang terhormat dan mulia. Binatang adalah kamadhenu yang berarti sebagai pemuas keinginan atau kama manusia. Sehingga, di Bali perayaannya begitu jelas. Para peternak membuatkan sesaji kepada hewan piaraannya
dengan maksud selalu diberikan keselamatan dan kesehatan sehingga bisa dimanfaatkan secara ekonomis.

 “Jadi, kita diajarkan untuk tidak menikmati begitu saja penghasilan yang diperoleh tanpa
mempersembahkannya lebih dahulu kepada Tuhan,” bebernya.

Ditambahkan Jero Anom bahwa di era sekarang sering ditemui berbagai permasalahan yang muncul dari hewan itu sendiri. Semisal rabies, virus, flu babi, antraks, flu burung yang menjangkiti bintang dan
menularkannya kepada manusia. Sehingga diperlukan perlindungan secara niskala melalui Tumpek Kandang.

Baca Juga :  Serahkan Rambut Bukti Tulus Ngayah Saat Ngodak

 “Oleh karena itulah kita melalui momen Tumpek Kandang ini kita mendoakan semua binatang agar senantiasa diberikan keselamatan dan kesehatan sebagai perlindungan secara niskala, sehingga tetap bisa memberikan kesejahteraan bagi umat manusia,” kata Jero Anom yang juga Dosen STAHN Mpu Kuturan.Jro Anom memastikan bahwa dalam kehidupan sehari-hari, manusia juga kerap mengonsumsi daging yang bersumber dari hewan.

Karenanya, unsur-unsur binatang telah bersemayam juga dalam tubuh manusia. Semua ini  juga membawa pengaruh pada tabiat, sifat dan karakter manusia. Oleh karena itu, manusia dikonsepsikan dalam Hindu memiliki sifat Tri Guna, yakni satwam, rajas, dan tamas. Dengan demikian, pada hari suci Tumpek Kandang, manusia seyogyanya menyucikan diri, menetralisasi (nyomya) kekuatan-kekuatan binatang dalam diri.

“Secara filosofis, makna dari perayaan Tumpek Kandang adalah mengandangkan pikiran yang begitu liar diibaratkan seperti hewan dan harus dikendalikan, sehingga kita mampu membatasi atau mengekang keinginan yang bersifat seperti binatang, misalnya liar, malas, hidup tanpa tata krama serta sifat-sifat buruk lainnya dan manyomia sifat-sifat hewan dalam diri manusia,” kata Jro Anom.

Dalam pelaksanaan upacara Tumpek Kandang lebih disesuaikan dengan desa, kala, patra (waktu, tempat, dan keadaan) di masing-masing wilayah. Namun, pada umumnya perayaan tersebut diselenggarakan di sanggah atau pamerajan dan juga pada tempat di mana binatang itu dikandangkan, dengan terlebih dahulu membuat sebuah asagan atau tempat untuk mempersembahkan dan meletakkan banten guna memohon keselamatan.

 “Setelah selesai melaksanakan upacaranya, maka sisa persembahan itu dimohon, kemudian diberikan kepada binatang yang diupacarai untuk dimakannya,” imbuhnya. Jero Gede Anom menegaskan bahwa umat Hindu tidak ingin dikatakan sebagai ‘tulah hidup’ karena begitu saja menikmati penghasilan tanpa persembahan.

“Yajna Tumpek Kandang di dalamnya mengandung ucapan terima kasih, sekaligus permohonan agar hewan ternak yang dijadikan sumber penghasilan akan memberikan hasil yang semakin
melimpah,” tutupnya. 


BALI EXPRESS, DENPASAR – Berbuatlah agar semua orang,binatang-binatang dan semua makhluk hidup berbahagia (Yajurveda XVI.48). Kutipan dalam yajur weda XVI.48 ini, semakin menegaskan jika umat Hindu memiliki misi untuk menyayangi semua makhluk di bumi, baik sesama manusia, hewan maupun tumbuhan. 

Di Bali, pemujaan terhadap keagungan Tuhan Yang Maha Esa melalui pemeliharaan atas
ciptaan-Nya berupa binatang ternak atau peliharaan diwujudkan dalam pelaksanaan Tumpek Uye atau Tumpek Kandang. Tumpek Kandang atau Tumpek Uye, jatuh pada setiap hari Sabtu Kliwon Wuku Uye, menurut perhitungan kalender Bali-Jawa. Penyebutan

Tumpek Kandang tidak terlepas dari perhitungan dina (hari). Saniscara (Sabtu) memiliki urip 9, wara kliwon memiliki urip 8 dan wuku Uye juga memiliki urip 8. Bila dijumlahkan, Saniscara Kliwon Uye memiliki urip 25. Jika kedua angka 2 dan 5 itu dijumlahkan, didapat angka 7.

Berdasarkan Tattwa Samkhya, hari dengan urip 7 dianggap sebagai hari berwatak rajah yang disejajarkan dengan watak sato (binatang). Seperti disampaikan oleh Jero Mangku Gede Anom, bahwa Hari Tumpek Kandang adalah upacara selamatan untuk binatang-binatang, yang  disembelih dan binatang piaraan. Hakekatnya adalah untuk memuja Tuhan Yang Mahaesa, Siwa yang disebut Rare Angon, penggembala makhluk. Ini berarti manusia hendaknya selaras dan hidup hamonis dengan alam semesta,khususnya bumi ini dan dengan ciptaan-Nya yang lain, termasuk tumbuh-tumbuhan dan binatang. Dalam ajaran Hindu, semua makhluk diyakini memiliki jiwa yang berasal dari Tuhan Yang Mahaesa.

 

“Semua binatang merupakan ciptaan Ida Sang Hyang Widhi Wasa, ini tidakdiartikan bahwa umat Hindu sebagai penyembah binatang, melainkan mendoakan semua binatang agar diberikan keselamatan. Karena Ida Sang Hyang Widhi dalam manifestasinya sebagai Siwa yang disebut Rare Angon
menjadi pengembala semua binatang,” kata Jero Anom, kepada Bali Express (Jawa Pos Group) Jumat (23/6).

Lebih lanjut diuraikan Jero Anom, jika pelaksanaan Tumpek Kandang ini merujuk dari sumber Lontar Sundarigama yang menyebutkan bahwa Uye, Saniscara Kliwon, Tumpek Kandang, prakrti ring sarwa sato, patik wenang paru hana upadana nia, yan ia sapi, kebo, asti, salwir nia satoraja, upadania: tumpeng, tebasan, pareresikan, panyeneng, jerimpen. Yan ing bawi , tumpeng, penyeneng, canang raka. Yan ring babi ina , anaman bakkok, belayang tunggal lawan sagawon. Yan ing sarwa paksi, ayam, itik, angsa, dolong, titiran, kukur, kunang salwir nia, anaman manut rupania, yang paksi anaman paksi, yan ayam anaman ayam, duluran nyeneng, tetebus mwang kembang pahes, kalingania iking widhana ring manusa, amarid saking Sanghyang Rare Angon, wenang ayabin, pituhun ya ring manusa, sinukmaning sato, paksi, mina, ring raganta wawalungan, Sanghyang Rare Angon, cariranira utama. Artinya  bahwa Wuku Uye, pada Saniscara Kliwon, adalah Tumpek Kandang, yaitu hari untuk mengupacarai semua jenis binatang ternak dan binatang lainnya. Adapun upacaranya: jika Sapi, Kerbau, Gajah, dan binatang besar lainnya (sato agung) adalah tumpeng, tetebasan, pareresik, penyeneng, dan jerimpen. Kalau terhadap babi jantan (bangkung) adalah tumpeng tebasan, penyeneng, dan canang raka. Kalau ternak babi betina persembahannya adalah ketupat belekok, belayang tunggal, dan sagu. Kalau untuk jenis burung, ayam, itik, titiran. Demikian pula perkutut, dan sejenisnya, maka persembahannya adalah ketupat menurut bentuk rupanya, yaitu kalau burung berupa ketupat burung, kalau ayam dengan ketupat berupa ayam. Lain daripada itu, juga dengan banten penyeneng, tetebus, dan kembang payas.

Baca Juga :  Ada Batu Peluk Pengabul Segala Harapan, Petilasan Dang Hyang Nirartha

Menurut Jro Anom, di Bali Tumpek Kandang merupakan ritual agraris. Sebab, ritual ini begitu penting bagi masyarakat yang menggantungkan mata pencahariannya pada bidang peternakan. Bagi para peternak tentu hewan piaraan atau hewan ternak menjadi sangat penting bagi kehidupannya karena ternak inilah sumber penghidupan dan kesejahteraan. Orang Bali menilai bahwa keberadaan hewan ternak sebagai sumber kesejahteraan sehingga hewan-hewan ternak ini diberikan posisi yang terhormat dan mulia. Binatang adalah kamadhenu yang berarti sebagai pemuas keinginan atau kama manusia. Sehingga, di Bali perayaannya begitu jelas. Para peternak membuatkan sesaji kepada hewan piaraannya
dengan maksud selalu diberikan keselamatan dan kesehatan sehingga bisa dimanfaatkan secara ekonomis.

 “Jadi, kita diajarkan untuk tidak menikmati begitu saja penghasilan yang diperoleh tanpa
mempersembahkannya lebih dahulu kepada Tuhan,” bebernya.

Ditambahkan Jero Anom bahwa di era sekarang sering ditemui berbagai permasalahan yang muncul dari hewan itu sendiri. Semisal rabies, virus, flu babi, antraks, flu burung yang menjangkiti bintang dan
menularkannya kepada manusia. Sehingga diperlukan perlindungan secara niskala melalui Tumpek Kandang.

Baca Juga :  Tradisi Aci Kebo Dongol di Kapal untuk Netralkan Kekuatan Negatif

 “Oleh karena itulah kita melalui momen Tumpek Kandang ini kita mendoakan semua binatang agar senantiasa diberikan keselamatan dan kesehatan sebagai perlindungan secara niskala, sehingga tetap bisa memberikan kesejahteraan bagi umat manusia,” kata Jero Anom yang juga Dosen STAHN Mpu Kuturan.Jro Anom memastikan bahwa dalam kehidupan sehari-hari, manusia juga kerap mengonsumsi daging yang bersumber dari hewan.

Karenanya, unsur-unsur binatang telah bersemayam juga dalam tubuh manusia. Semua ini  juga membawa pengaruh pada tabiat, sifat dan karakter manusia. Oleh karena itu, manusia dikonsepsikan dalam Hindu memiliki sifat Tri Guna, yakni satwam, rajas, dan tamas. Dengan demikian, pada hari suci Tumpek Kandang, manusia seyogyanya menyucikan diri, menetralisasi (nyomya) kekuatan-kekuatan binatang dalam diri.

“Secara filosofis, makna dari perayaan Tumpek Kandang adalah mengandangkan pikiran yang begitu liar diibaratkan seperti hewan dan harus dikendalikan, sehingga kita mampu membatasi atau mengekang keinginan yang bersifat seperti binatang, misalnya liar, malas, hidup tanpa tata krama serta sifat-sifat buruk lainnya dan manyomia sifat-sifat hewan dalam diri manusia,” kata Jro Anom.

Dalam pelaksanaan upacara Tumpek Kandang lebih disesuaikan dengan desa, kala, patra (waktu, tempat, dan keadaan) di masing-masing wilayah. Namun, pada umumnya perayaan tersebut diselenggarakan di sanggah atau pamerajan dan juga pada tempat di mana binatang itu dikandangkan, dengan terlebih dahulu membuat sebuah asagan atau tempat untuk mempersembahkan dan meletakkan banten guna memohon keselamatan.

 “Setelah selesai melaksanakan upacaranya, maka sisa persembahan itu dimohon, kemudian diberikan kepada binatang yang diupacarai untuk dimakannya,” imbuhnya. Jero Gede Anom menegaskan bahwa umat Hindu tidak ingin dikatakan sebagai ‘tulah hidup’ karena begitu saja menikmati penghasilan tanpa persembahan.

“Yajna Tumpek Kandang di dalamnya mengandung ucapan terima kasih, sekaligus permohonan agar hewan ternak yang dijadikan sumber penghasilan akan memberikan hasil yang semakin
melimpah,” tutupnya. 


Most Read

Artikel Terbaru