alexametrics
25.8 C
Denpasar
Sunday, May 29, 2022

Berias Wajah Seram, Ratusan Krama Desa Adat Tegallalang Gelar Ngerebeg

GIANYAR,BALI EXPRESS – Tradisi Ngerebeg kembali dilaksanakan oleh ratusan Krama Desa Adat Tegallalang, Kecamatan Tegallalang pada Budha Kliwon Pahang, Rabu (15/12). Tradisi Ngerebeg ini sendiri telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI.

Sehingga untuk menjaga kesakralan tradisi, Desa Adat Tegallalang melarang krama menggunakan riasan wajah menyinggung unsur SARA (suku, ras, dan agama).

Hal tersebut disampaikan Bendesa Adat Tegallalang I Made Kumarajaya. Menurutnya tradisi Ngerebeg merupakan ritual unik yang bersifat sakral. Dan digelar serangkaian pujawali di Pura Kahyangan Jagat Penataran Duur Bingin. Dimana Ngerebeg dilaksanakan sehari sebelum puncak piodalan.

“Peserta tidak dibatasi umur dan jumlahnya. Tapi memang sebagian besar yang ikut adalah laki-laki. Baik itu dari anak-anak, remaja dan dewasa,” ungkapnya.

Adapun ciri khas dalam tradisi ini adalah peserta Ngerebeg merias wajah seseram mungkin menggunakan cat warna warni menyerupai Wong Samar atau Gamang. Peserta juga membawa Penjor dari pelepah daun Salak yang dihiasi janur. Selanjutnya peserta berjalan kaki mengelilingi desa.

Riasan wajah para peserta yang beraneka ragam biasanya juga digunakan untuk menyampaikan kritik sosial. Namun agar tidak kebablasan, Desa Adat akhirnya menyepakati untuk membuat batasa-batasan dalam merias wajah. “Tradisi Ngerebeg ini sudah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda. Jadi kami harus menjaga kelestarian dan kesakralan tradisi ini,” sebutnya.

Batasan yang dimaksud adalah menyesuaikan dengan tatanan pakem budaya Bali. Tetap identik dengan muka seram, unik, lucu, namun  tetap memakai pakaian adat Bali. Disepakati pula untuk melarang menulis nama, kelompok atau golongan bernuansa politik, Ras, Agama, merk, atau logo-logo tertentu. Peserta juga tidak diperbolehkan memakai seragam almamater sekolah. Selain itu, peserta tidak diperbolehkan menampilkan riasan tokoh-tokoh budaya luar seperti kartun diluar konteks budaya Bali.

“Tradisi Ngerebeg sendiri digelar untuk menetralisir segala pengaruh negatif yang ada di Desa Adat Tegallalang,” tandasnya.


GIANYAR,BALI EXPRESS – Tradisi Ngerebeg kembali dilaksanakan oleh ratusan Krama Desa Adat Tegallalang, Kecamatan Tegallalang pada Budha Kliwon Pahang, Rabu (15/12). Tradisi Ngerebeg ini sendiri telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI.

Sehingga untuk menjaga kesakralan tradisi, Desa Adat Tegallalang melarang krama menggunakan riasan wajah menyinggung unsur SARA (suku, ras, dan agama).

Hal tersebut disampaikan Bendesa Adat Tegallalang I Made Kumarajaya. Menurutnya tradisi Ngerebeg merupakan ritual unik yang bersifat sakral. Dan digelar serangkaian pujawali di Pura Kahyangan Jagat Penataran Duur Bingin. Dimana Ngerebeg dilaksanakan sehari sebelum puncak piodalan.

“Peserta tidak dibatasi umur dan jumlahnya. Tapi memang sebagian besar yang ikut adalah laki-laki. Baik itu dari anak-anak, remaja dan dewasa,” ungkapnya.

Adapun ciri khas dalam tradisi ini adalah peserta Ngerebeg merias wajah seseram mungkin menggunakan cat warna warni menyerupai Wong Samar atau Gamang. Peserta juga membawa Penjor dari pelepah daun Salak yang dihiasi janur. Selanjutnya peserta berjalan kaki mengelilingi desa.

Riasan wajah para peserta yang beraneka ragam biasanya juga digunakan untuk menyampaikan kritik sosial. Namun agar tidak kebablasan, Desa Adat akhirnya menyepakati untuk membuat batasa-batasan dalam merias wajah. “Tradisi Ngerebeg ini sudah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda. Jadi kami harus menjaga kelestarian dan kesakralan tradisi ini,” sebutnya.

Batasan yang dimaksud adalah menyesuaikan dengan tatanan pakem budaya Bali. Tetap identik dengan muka seram, unik, lucu, namun  tetap memakai pakaian adat Bali. Disepakati pula untuk melarang menulis nama, kelompok atau golongan bernuansa politik, Ras, Agama, merk, atau logo-logo tertentu. Peserta juga tidak diperbolehkan memakai seragam almamater sekolah. Selain itu, peserta tidak diperbolehkan menampilkan riasan tokoh-tokoh budaya luar seperti kartun diluar konteks budaya Bali.

“Tradisi Ngerebeg sendiri digelar untuk menetralisir segala pengaruh negatif yang ada di Desa Adat Tegallalang,” tandasnya.


Most Read

Artikel Terbaru

/