alexametrics
26.8 C
Denpasar
Thursday, May 26, 2022

Tradisi Turun Temurun di Desa Adat Sema Agung

Dua Kali Ngubeng, Melasti Kadasa Makekobok Nangluk Desa Kembali Digelar

Tek-tok-tak-tek… suara tek-tekan (kentongan bambu kecil) dari ujung desa sudah terdengar nyaring. Tanda ritual malasti ke pantai segera dimulai. Ratusan lebih warga Desa Adat Sema Agung, Klungkung sudah berkumpul di depan Pura Melanting.

 

Suara gong baleganjur yang gemuruh dipadukan riuhnya bunyi tek-tekan berhasil memecah kesunyian pagi, Kamis (17/3). Jalan Desa Adat Sema Agung, Desa Tusan, Banjarangkan, Klungkung telah dipadati warga berpakaian adat sejak pukul 05.00.

 

Setelah semuanya berkumpul, mereka berjalan dari Pura Melanting menuju ke sejumlah pura yang ada di desa setempat. Ini adalah prosesi dari rangkaian Melasti di Desa Sema Agung, bertepatan dengan rahina Purnama Kadasa. Prosesi upacara ini pun dinamakan Melasti Kadasa Makekobok Nangluk Desa.

 

Ini berbeda dengan di desa lain yang laksanakan melasti beberapa hari sebelum Hari Raya Nyepi, atau masih pada Sasih Kasanga. Meski berbeda waktu, pelaksanaan masih sama seperti umumnya di beberapa desa adat di Bali. Warga Sema Agung juga ngiring pratima atau sesuhunan yang ada di desa untuk selanjutnya melasti ke segara atau pantai.

 

Prosesi diawali di Pura Melanting yang terletak di pusat desa untuk ngiringang sesuhunan. Selanjutnya iring-iringan bergerak menuju Pura Ulun Sui yang terletak di sebelah utara desa, lanjut menuju ke barat untuk laksanakan persembahyangan di Pura Dalem Desa. Prosesi serupa juga berlangsung hingga ke Pura Khayangan Desa (Dalem Penyarikan, Puseh, Bale Agung).

 

Barulah warga berjalan kaki sepanjang 5 km menuju Pantai Tegal Besar di Desa Negari. Sejumlah Krama pun tampak kerauhan sepanjang perjalanan hingga sampai di pantai sekitar pukul 09.00. Usai melasti, iringan Ida Betara kembali ke desa untuk murwa daksina, atau keliling ke seluruh penjuru arah atau keempat arah desa (nyatur desa). Ida Sesuhunan kemudian distanakan kembali di Pura Melanting. Upacara di Pura Melanting berlangsung hingga tiga hari.

 

Bendesa Adat Sema Agung, Sang Made Suasta Adnyana mengatakan, iring-iringan melasti di desanya sangat khas. Sebab diikuti oleh para pemuda dengan memakai capil (topi tradisional) berbahan anyaman daun kelapa tua. Bahkan tek-tekan yang juga dinamai gredagang itu sudah dihias dengan aneka ulat-ulatan berbahan janur dan daun-daunan.

 

Merekalah yang membunyikan tek-tekan juga gong sepanjang perjalanan menuju pantai. Permainan tek-tekan ini kadang mengikuti alunan gong, kadang tak beraturan. Sementara, warga lainnya cukup berjalan dengan perlengkapan seadanya. Tak ayal gemuruh alunan alat musik tradisional itu kian menambah semangat para krama ikuti prosesi melasti sampai tuntas.

 

Sang Made Suasta mengungkapkan, tradisi ini sudah digariskan turun-temurun. Melasti Kadasa Makekobok Nangluk Desa digelar untuk penyucian pralingga sebagai manifestasi Ida Betara. Warga memohon agar desa terhindar dari wabah atau marabahaya, kesucian wilayah desa terjaga. “Juga untuk memohon kesuburan di desa Sema Agung,” tegasnya.

 

Warga Sema Agung pantang meniadakan tek-tekan saat Melasti. Warga meyakini jika tek-tekan ditiadakan, akan berakibat tak baik bagi warga desa. “Melasti kembali digelar di masa pandemi, karena dua tahun tidak dilaksanakan di pantai. Terakhir 2019 lalu,” ucapnya.

 

Sebelum rangkaian upacara berakhir di Pura Dalem Penyarikan, warga nunas atau memohon tirta pakuluh sebagai tahapan akhir Melasti Purnama Kadasa. “Tirta tersebut hanya akan ditunas pada saat penyineban (terakhir) di Pura Dalem Penyarikan dan dipercaya dapat memberikan kesucian dan keharmonisan untuk masyarakat,” pungkasnya.






Reporter: AGUS EKA PURNA NEGARA

Tek-tok-tak-tek… suara tek-tekan (kentongan bambu kecil) dari ujung desa sudah terdengar nyaring. Tanda ritual malasti ke pantai segera dimulai. Ratusan lebih warga Desa Adat Sema Agung, Klungkung sudah berkumpul di depan Pura Melanting.

 

Suara gong baleganjur yang gemuruh dipadukan riuhnya bunyi tek-tekan berhasil memecah kesunyian pagi, Kamis (17/3). Jalan Desa Adat Sema Agung, Desa Tusan, Banjarangkan, Klungkung telah dipadati warga berpakaian adat sejak pukul 05.00.

 

Setelah semuanya berkumpul, mereka berjalan dari Pura Melanting menuju ke sejumlah pura yang ada di desa setempat. Ini adalah prosesi dari rangkaian Melasti di Desa Sema Agung, bertepatan dengan rahina Purnama Kadasa. Prosesi upacara ini pun dinamakan Melasti Kadasa Makekobok Nangluk Desa.

 

Ini berbeda dengan di desa lain yang laksanakan melasti beberapa hari sebelum Hari Raya Nyepi, atau masih pada Sasih Kasanga. Meski berbeda waktu, pelaksanaan masih sama seperti umumnya di beberapa desa adat di Bali. Warga Sema Agung juga ngiring pratima atau sesuhunan yang ada di desa untuk selanjutnya melasti ke segara atau pantai.

 

Prosesi diawali di Pura Melanting yang terletak di pusat desa untuk ngiringang sesuhunan. Selanjutnya iring-iringan bergerak menuju Pura Ulun Sui yang terletak di sebelah utara desa, lanjut menuju ke barat untuk laksanakan persembahyangan di Pura Dalem Desa. Prosesi serupa juga berlangsung hingga ke Pura Khayangan Desa (Dalem Penyarikan, Puseh, Bale Agung).

 

Barulah warga berjalan kaki sepanjang 5 km menuju Pantai Tegal Besar di Desa Negari. Sejumlah Krama pun tampak kerauhan sepanjang perjalanan hingga sampai di pantai sekitar pukul 09.00. Usai melasti, iringan Ida Betara kembali ke desa untuk murwa daksina, atau keliling ke seluruh penjuru arah atau keempat arah desa (nyatur desa). Ida Sesuhunan kemudian distanakan kembali di Pura Melanting. Upacara di Pura Melanting berlangsung hingga tiga hari.

 

Bendesa Adat Sema Agung, Sang Made Suasta Adnyana mengatakan, iring-iringan melasti di desanya sangat khas. Sebab diikuti oleh para pemuda dengan memakai capil (topi tradisional) berbahan anyaman daun kelapa tua. Bahkan tek-tekan yang juga dinamai gredagang itu sudah dihias dengan aneka ulat-ulatan berbahan janur dan daun-daunan.

 

Merekalah yang membunyikan tek-tekan juga gong sepanjang perjalanan menuju pantai. Permainan tek-tekan ini kadang mengikuti alunan gong, kadang tak beraturan. Sementara, warga lainnya cukup berjalan dengan perlengkapan seadanya. Tak ayal gemuruh alunan alat musik tradisional itu kian menambah semangat para krama ikuti prosesi melasti sampai tuntas.

 

Sang Made Suasta mengungkapkan, tradisi ini sudah digariskan turun-temurun. Melasti Kadasa Makekobok Nangluk Desa digelar untuk penyucian pralingga sebagai manifestasi Ida Betara. Warga memohon agar desa terhindar dari wabah atau marabahaya, kesucian wilayah desa terjaga. “Juga untuk memohon kesuburan di desa Sema Agung,” tegasnya.

 

Warga Sema Agung pantang meniadakan tek-tekan saat Melasti. Warga meyakini jika tek-tekan ditiadakan, akan berakibat tak baik bagi warga desa. “Melasti kembali digelar di masa pandemi, karena dua tahun tidak dilaksanakan di pantai. Terakhir 2019 lalu,” ucapnya.

 

Sebelum rangkaian upacara berakhir di Pura Dalem Penyarikan, warga nunas atau memohon tirta pakuluh sebagai tahapan akhir Melasti Purnama Kadasa. “Tirta tersebut hanya akan ditunas pada saat penyineban (terakhir) di Pura Dalem Penyarikan dan dipercaya dapat memberikan kesucian dan keharmonisan untuk masyarakat,” pungkasnya.






Reporter: AGUS EKA PURNA NEGARA

Most Read

Artikel Terbaru

/