alexametrics
26.8 C
Denpasar
Sunday, May 29, 2022

Ini Pesan Khusus Dibalik Mitologi Watu Gunung Runtuh

SINGARAJA, BALI EXPRESS – Hari Raya Saraswati yang jatuh pada 26 Maret 2022, sebagai simbolik turunnya Dewa Pengetahuan pada hari Saniscara Umanis Watugunug. Ada pesan khusus dibalik momen yang bermakna menguatkan guna (pengetahuan) dan gina (ketrampilan) sebagai bekal hidup. Apa pesan khususnya?

Makna yang dapat dipetik terkait mitologi Watugunung Runtuh agar setiap orang senantiasa menghilangkan keras kepala, ego melalui belajar.

Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kecamatan Buleleng, Nyoman Suardika kepada Bali Express (Jawa Pos Group) Rabu (16/3) mengatakan, semua bentuk ego dan keras kepala sebagai simbol dari awidya atau kebodohan.

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam Wuku Watugunung. Pada hari Minggu (Redite) disebut Pemelas Tali (labuhnya watugunung). Kemudian hari Senin (soma) disebut Candung Watang, Hari Selasa (anggara) disebut hari Paid-Paidan, Rabu (Buda) disebut Hari Urip, Kamis (Wraspati) hari Panegtegan dan Hari Jumat (Sukra) disebut Pangeradanaan, dan Sabtu (Saniscara) sebagai hari turunnya Ilmu Pengetahuan.

Dikatakan Suardika, saat Redite, jika sudah runtuh atau labuhnya Watugunung, maka besoknya Hari Senin adalah candung watang pas. Secara filosofis, setelah ego habis, maka tubuh kita seperti mayat berjalan. Kenapa dikatakan demikian? “Karena kita baru menyadari jika kita ini adalah awidya. Kita baru sadar kalau egois,” ungkapnya.

Saat menginjak hari Selasa yang disebut hari Paid-paidan, maka itu artinya tarik menarik. Sehingga harus mampu menarik diri  untuk belajar segala hal dalam memperkaya pengetahuan.

Kemudian saat hari Rabu atau Buda itu simbol dari Budi atau idep. Artinya sikap humanisme itu harus bangkit. Semangat kemanusiaan itu bangkit.

“Kalau ini sudah bangkit, dan sadar akan manusa, maka manusa boya jadma, manah menjadi idep. Inilah buda urip. Ketika ini muncul, besoknya yakni Kamis adalah panegtegan, atau mempelajari sesuai dengan profesional,” sebutnya.

Pada Hari Jumat atau sehari sebelum Saraswati disebut pangradanaan. Artinya sesuatu yang jauh untuk ditarik. Sehingga setiap manusia memiliki cita-cita. Ketika kita punya cita-cita luhur itu bisa dimaknai sebagai ngeredana.

Saat Hari Sabtu, maka itulah Hari Raya saraswati. Saat saraswati berlangsung, Suardika menyebut umat manusia sejatinya membutuhkan dua hal, yakni Guna dan Gina. Guna adalah Pengetahuan, dan gina itu ketrampilan. “Inilah tetua kita menyebut nawang (tahu), bisa (mampu) dan dadi (profesional). Inilah bekal karena berdasarkan sastra,” katanya.

Setelah manusia selesai menuntut ilmu, keesokan harinya, atau Redite wuku Sinta sama dengan banyu pinaruh. Menurutnya, hal tersebut jika dianalogikan sama dengan wisuda. Dimana, Air pengetahuan itu yang menyucikan sehingga disebut wisuda. “Atau legalisasi, pengesahan. Setelah selesai kuliah, disebut wisuda. Itu namanya banyu pina weruh,” pungkasnya.

 






Reporter: I Putu Mardika

SINGARAJA, BALI EXPRESS – Hari Raya Saraswati yang jatuh pada 26 Maret 2022, sebagai simbolik turunnya Dewa Pengetahuan pada hari Saniscara Umanis Watugunug. Ada pesan khusus dibalik momen yang bermakna menguatkan guna (pengetahuan) dan gina (ketrampilan) sebagai bekal hidup. Apa pesan khususnya?

Makna yang dapat dipetik terkait mitologi Watugunung Runtuh agar setiap orang senantiasa menghilangkan keras kepala, ego melalui belajar.

Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kecamatan Buleleng, Nyoman Suardika kepada Bali Express (Jawa Pos Group) Rabu (16/3) mengatakan, semua bentuk ego dan keras kepala sebagai simbol dari awidya atau kebodohan.

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam Wuku Watugunung. Pada hari Minggu (Redite) disebut Pemelas Tali (labuhnya watugunung). Kemudian hari Senin (soma) disebut Candung Watang, Hari Selasa (anggara) disebut hari Paid-Paidan, Rabu (Buda) disebut Hari Urip, Kamis (Wraspati) hari Panegtegan dan Hari Jumat (Sukra) disebut Pangeradanaan, dan Sabtu (Saniscara) sebagai hari turunnya Ilmu Pengetahuan.

Dikatakan Suardika, saat Redite, jika sudah runtuh atau labuhnya Watugunung, maka besoknya Hari Senin adalah candung watang pas. Secara filosofis, setelah ego habis, maka tubuh kita seperti mayat berjalan. Kenapa dikatakan demikian? “Karena kita baru menyadari jika kita ini adalah awidya. Kita baru sadar kalau egois,” ungkapnya.

Saat menginjak hari Selasa yang disebut hari Paid-paidan, maka itu artinya tarik menarik. Sehingga harus mampu menarik diri  untuk belajar segala hal dalam memperkaya pengetahuan.

Kemudian saat hari Rabu atau Buda itu simbol dari Budi atau idep. Artinya sikap humanisme itu harus bangkit. Semangat kemanusiaan itu bangkit.

“Kalau ini sudah bangkit, dan sadar akan manusa, maka manusa boya jadma, manah menjadi idep. Inilah buda urip. Ketika ini muncul, besoknya yakni Kamis adalah panegtegan, atau mempelajari sesuai dengan profesional,” sebutnya.

Pada Hari Jumat atau sehari sebelum Saraswati disebut pangradanaan. Artinya sesuatu yang jauh untuk ditarik. Sehingga setiap manusia memiliki cita-cita. Ketika kita punya cita-cita luhur itu bisa dimaknai sebagai ngeredana.

Saat Hari Sabtu, maka itulah Hari Raya saraswati. Saat saraswati berlangsung, Suardika menyebut umat manusia sejatinya membutuhkan dua hal, yakni Guna dan Gina. Guna adalah Pengetahuan, dan gina itu ketrampilan. “Inilah tetua kita menyebut nawang (tahu), bisa (mampu) dan dadi (profesional). Inilah bekal karena berdasarkan sastra,” katanya.

Setelah manusia selesai menuntut ilmu, keesokan harinya, atau Redite wuku Sinta sama dengan banyu pinaruh. Menurutnya, hal tersebut jika dianalogikan sama dengan wisuda. Dimana, Air pengetahuan itu yang menyucikan sehingga disebut wisuda. “Atau legalisasi, pengesahan. Setelah selesai kuliah, disebut wisuda. Itu namanya banyu pina weruh,” pungkasnya.

 






Reporter: I Putu Mardika

Most Read

Artikel Terbaru

/