alexametrics
30.4 C
Denpasar
Monday, May 16, 2022

Warga Kolok Punya Tugas Khusus, Ngayah Memasak dan Gali Kuburan

SINGARAJA, BALI EXPRESS – Meski terlahir sebagai kaum disabilitas, namun puluhan warga kolok (tuli bisu) di Bengkala Kecamatan Kubutambahan, Buleleng, tidak diperlakukan diskriminatif masyarakat setempat. 

44 orang warga kolok di Bengkala, yang terdiri dari  24 orang perempuan dan 20 orang berjenis kelamin laki-laki, tetap mendapat pengakuan sebagai warga Bengkala. Bahkan, untuk hal-hal tertentu, mereka diberikan tugas khusus sesuai dengan Awig-Awig yang dibuat krama Bengkala.

Penyarikan Desa Adat Bengkala, Ketut Darpa kepada Bali Express (Jawa Pos Group) kemarin, mengatakan, selama ini komunikasi antara masyarakat normal dengan warga kolok berjalan harmonis. Tidak ada hambatan dan masalah. Bahkan, di Bengkala sudah dibangun sekolah dasar (SD) inklusi yang memberikan porsi bagi warga penyandang disabilitas untuk mengenyam pendidikan formal.

Tidak sedikit pula, warga kolok melanjutkan pendidikan jenjang SMP di SLB di Singaraja dan SMA di Denpasar. “Dalam hal pekerjaan, mereka bekerja juga di bidang perkebunan, buruh, pertukangan. Mereka juga punya keahlian khusus. Ada yang buat jamu, nenun. Jadi, mereka itu sangat kreatif. Bukan peminta-minta. Justru kehadirian kolok itu sebagai ikon di Bengkala,” jelas Darpa.

Dalam bidang berkesenian, warga kolok juga lihai dalam menarikan Janger Kolok yang dikembangkan Bapa Nedeng. Sehingga kesenian inipun menjadi ikon tersendiri dari Desa Bengkala.

“Bicara Janger Kolok, itu ada ide dari maestro Bapa Nedeng. Beliau yang punya ide membuat Janger Kolok. Selain Janger Kolok, juga ada tari yang dipentaskan oleh warga kolok. Seperti Jalak Nguci, Tari Bebek Bebila,” tuturnya.

Sedangkan dalam hal keagamaan, warga kolok juga mendapat tugas khusus yang tak boleh digantikan warga Bengkala yang normal. Misalnya, saat pujawali di Pura Kahyangan Tiga, tugas mereka adalah meyiapkan sarana upacara.

Terutama di pangebatan atau memasak. Dari penyiapan talenan, membersihkan peralatan memasak, menyuci bumbu-bumbu dikerjakan warga kolok. 

“Setelah selesai memasak, mereka juga kembali membersihkan tempat, mencuci peralatan memasak, dan itu tak tergantikan,” jelasnya.

Mereka juga ditugaskan membuat Rajon, yaitu tempat mencampur dan menyajikan lawar. Pada saat memasak untuk keperluan upacara, apabila aliran air terputus, dua-tiga orang kolok akan ditugaskan mencari dan mengangkut air, sementara para kolok yang lain, tetap membantu proses memasak.

Selain itu, apabila ada kematian, warga kolok sejak turun-temurun bertugas menyiapkan lubang kuburan dan juga membersihkan areal kuburan tempat upacara akan dilaksanakan. 

Demikian pula setelah upacara selesai, kembali warga kolok yang membersihkan lokasi. “Siapapun yang meninggal di Bengkala, jika akan dikubur, maka warga kolok inilah mendapat tugas menggali kuburan,” tutupnya. 

Terkait keberadaan warga kolok di Bengkala, Darpa merujuk pada Prasasti Bengkala yang belum diketahui pasti angka tahunnya. Pastinya, di prasasti itu memuat jika masyarakat Desa Bengkala diperlakukan tidak nyaman atau sewenang-wenang oleh Admak Akmitan Apigajih (para petugas pemungut pajak) setiap bulan Cetra (Sasih Kasanga) dari pihak kerajaan di Indrapura. Warga Bengkala bahkan diwajibkan membayar 27 jenis pajak.

Atas sikap pemungut pajak yang sewenang-wenang, tak pelak membuat masyarakat Bengkala meradang dan melakukan perlawanan. Salah satunya dengan mengabaikan perintah raja. Mereka tidak hormat, tidak mau bekerja, serta tidak mau bicara.

“Ditanya diam, disuruh bekerja tidak mau, tidak mau dengar perintah Maharaja Jayapangus. Kalau bahasa sekarang, mungkin mogok. Mogok bicara, mogok bekerja dan tidak mau tunduk kepada perintah raja. Tentu saja raja marah, sehingga dikutuk menjadi kolok sampai seribu tahun,” jelas Darpa membeber salah satu dari sejumlah mitos terkait warga Bengkala yang akhirnya dilahirkan kolok.


SINGARAJA, BALI EXPRESS – Meski terlahir sebagai kaum disabilitas, namun puluhan warga kolok (tuli bisu) di Bengkala Kecamatan Kubutambahan, Buleleng, tidak diperlakukan diskriminatif masyarakat setempat. 

44 orang warga kolok di Bengkala, yang terdiri dari  24 orang perempuan dan 20 orang berjenis kelamin laki-laki, tetap mendapat pengakuan sebagai warga Bengkala. Bahkan, untuk hal-hal tertentu, mereka diberikan tugas khusus sesuai dengan Awig-Awig yang dibuat krama Bengkala.

Penyarikan Desa Adat Bengkala, Ketut Darpa kepada Bali Express (Jawa Pos Group) kemarin, mengatakan, selama ini komunikasi antara masyarakat normal dengan warga kolok berjalan harmonis. Tidak ada hambatan dan masalah. Bahkan, di Bengkala sudah dibangun sekolah dasar (SD) inklusi yang memberikan porsi bagi warga penyandang disabilitas untuk mengenyam pendidikan formal.

Tidak sedikit pula, warga kolok melanjutkan pendidikan jenjang SMP di SLB di Singaraja dan SMA di Denpasar. “Dalam hal pekerjaan, mereka bekerja juga di bidang perkebunan, buruh, pertukangan. Mereka juga punya keahlian khusus. Ada yang buat jamu, nenun. Jadi, mereka itu sangat kreatif. Bukan peminta-minta. Justru kehadirian kolok itu sebagai ikon di Bengkala,” jelas Darpa.

Dalam bidang berkesenian, warga kolok juga lihai dalam menarikan Janger Kolok yang dikembangkan Bapa Nedeng. Sehingga kesenian inipun menjadi ikon tersendiri dari Desa Bengkala.

“Bicara Janger Kolok, itu ada ide dari maestro Bapa Nedeng. Beliau yang punya ide membuat Janger Kolok. Selain Janger Kolok, juga ada tari yang dipentaskan oleh warga kolok. Seperti Jalak Nguci, Tari Bebek Bebila,” tuturnya.

Sedangkan dalam hal keagamaan, warga kolok juga mendapat tugas khusus yang tak boleh digantikan warga Bengkala yang normal. Misalnya, saat pujawali di Pura Kahyangan Tiga, tugas mereka adalah meyiapkan sarana upacara.

Terutama di pangebatan atau memasak. Dari penyiapan talenan, membersihkan peralatan memasak, menyuci bumbu-bumbu dikerjakan warga kolok. 

“Setelah selesai memasak, mereka juga kembali membersihkan tempat, mencuci peralatan memasak, dan itu tak tergantikan,” jelasnya.

Mereka juga ditugaskan membuat Rajon, yaitu tempat mencampur dan menyajikan lawar. Pada saat memasak untuk keperluan upacara, apabila aliran air terputus, dua-tiga orang kolok akan ditugaskan mencari dan mengangkut air, sementara para kolok yang lain, tetap membantu proses memasak.

Selain itu, apabila ada kematian, warga kolok sejak turun-temurun bertugas menyiapkan lubang kuburan dan juga membersihkan areal kuburan tempat upacara akan dilaksanakan. 

Demikian pula setelah upacara selesai, kembali warga kolok yang membersihkan lokasi. “Siapapun yang meninggal di Bengkala, jika akan dikubur, maka warga kolok inilah mendapat tugas menggali kuburan,” tutupnya. 

Terkait keberadaan warga kolok di Bengkala, Darpa merujuk pada Prasasti Bengkala yang belum diketahui pasti angka tahunnya. Pastinya, di prasasti itu memuat jika masyarakat Desa Bengkala diperlakukan tidak nyaman atau sewenang-wenang oleh Admak Akmitan Apigajih (para petugas pemungut pajak) setiap bulan Cetra (Sasih Kasanga) dari pihak kerajaan di Indrapura. Warga Bengkala bahkan diwajibkan membayar 27 jenis pajak.

Atas sikap pemungut pajak yang sewenang-wenang, tak pelak membuat masyarakat Bengkala meradang dan melakukan perlawanan. Salah satunya dengan mengabaikan perintah raja. Mereka tidak hormat, tidak mau bekerja, serta tidak mau bicara.

“Ditanya diam, disuruh bekerja tidak mau, tidak mau dengar perintah Maharaja Jayapangus. Kalau bahasa sekarang, mungkin mogok. Mogok bicara, mogok bekerja dan tidak mau tunduk kepada perintah raja. Tentu saja raja marah, sehingga dikutuk menjadi kolok sampai seribu tahun,” jelas Darpa membeber salah satu dari sejumlah mitos terkait warga Bengkala yang akhirnya dilahirkan kolok.


Most Read

Artikel Terbaru

/