alexametrics
30.4 C
Denpasar
Tuesday, May 24, 2022

Palinggih Kamulan, Tempat Memuja Sang Hyang Triatma hingga Leluhur

SINGARAJA, BALI EXPRESS – Keberadaan Palinggih Kamulan menjadi bagian pemujaan yang cukup vital oleh Umat Hindu di Bali. Palinggih Kamulan diyakini sebagai sumber asal muasal atau kamimitan sehingga dijadikan sarana pemujaan leluhur. Tempat suci inipun terekam dalam berbagai lontar.

Umumnya, Palinggih Kamulan didirikan di bagian utama mandala atau uluning dari areal pekarangan rumah. Tempat suci ini didirikan satu areal bersama dengan Palinggih Surya dan Palinggih Taksu.

Dosen Filsafat Hindu, STAHN Mpu Kuturan Singaraja, I Made Gami Sandi Untara mengatakan, Palinggih Kamulan merupakan konsep dari Mpu Kuturan yang telah berjasa dalam menyatukan Sekte-sekte yang ada pada zaman pemerintahan Raja Airlangga di Jawa.

Pemujaan Palinggih Kamulan bahkan diulas dalam berbagai pustaka lontar. Seperti Lontar Usana Dewa. Dalam lontar Usana Dewa, Lembar 4 ini disebutkan.

“Ring Kamulan tengen Bapa ngaran sang Paratma, ring Kamulan kiwa Ibu ngaran sang Siwatma, ring Kamulan tengah ngaran Raganya, tu Brahma dadi meme bapa, meraga Sang Hyang Tuduh.”

Artinya pada Palinggih Kamulan beliau bergelar Sang Hyang Atma, para ruang Kamulan kanan ayah, namanya Sang Hyang Paratma. Pada Kamulan kiri ibu, disebut Sang Hyang Siwatma, ring Kamulan tengah diri-Nya, itu Brahma, menjadi Purusa Pradana, berwujud Sang Hyang Tuduh.

Kemudian dalam Lontar Gong Wesi disebutkan “Ngaran ira Sang Atma ring Kamulan tengen bapanta, nga, sang Paratma, ring Kamulan kiwa ibunta, nga, sang Siwatma, ring Kamulan madya raganta, atma dadi meme bapa ragane mantuk ring dalem dadi sanghyang tunggal, nunggalan raga”.

Artinya : nama beliau Sang Atma, pada ruang Kamulan kanan Bapakmu, yaitu sang Paratma, pada ruang Kamulan kiri Ibumu, yaitu Sang Siwatma, pada ruang tengah adalah menyatu menjadi Sang Hyang Tunggal menyatukan wujud.

Gami mengatakan di Palinggih Kamulan adalah Sanghyang Triatma yang terdiri dari Paratma, Siwatman dan Atma. Paratma yang diidentikkan sebagai bapak (Purusa) yang terletak di ruang sebelah kanan. Sanghyang Siwatma yang diidentikkan sebagai ibu (Pradhana) yang terletak di sebelah kiri.

“Sang Atma diidentikkan sebagai Brahma yang sebagai Purusa Pradhana yang menyatu menjadi Sanghyang Tuduh. Sehingga pada hakekatnya Sanghyang Triatma merupakan Hyang Tunggal sebagai pencipta manusia,” ungkapnya.

Mengenai Sanghyang Triatma yang dijelaskan dari kedua lontar tersebut, maka atma yang menjadi sumber hidup. Siwatma adalah sumber atma di alam nyata. Sehingga saat memuja di Kawitan, menyebutkan Sanghyang Trimurti, Tripurusa dan Trilingga.

Dalam Lontar Purwa Bhumi Kamulan juga dijelaskan bahwa yang bersthana di Palinggih Kamulan tidak hanya Sanghyang Triatma. Melainkan juga Atma (roh) para leluhur yang telah disucikan melalui serangkaian upacara Pitra Yadnya dan telah mencapai Siddhidewata yang disebut dengan Dewa Pitara.

“Riwus mangkana daksina pangadegan Sang dewa pitara, tinuntun akena maring Palinggih Kamulan, yan lanang unggahakena ring tengen, yang wadon unggahakena ring kiwa, irika mapisan lawan Dewa Hyangnya nguni”.

Jika dimaknai Daksina perwujudan Roh Suci dituntut pada Sang Hyang Kamulan. Roh  laki-laki dinaikkan pada ruang kanan, kalau roh perempuan dinaikkan di sebelah kiri disana menyatu.

 






Reporter: I Putu Mardika

SINGARAJA, BALI EXPRESS – Keberadaan Palinggih Kamulan menjadi bagian pemujaan yang cukup vital oleh Umat Hindu di Bali. Palinggih Kamulan diyakini sebagai sumber asal muasal atau kamimitan sehingga dijadikan sarana pemujaan leluhur. Tempat suci inipun terekam dalam berbagai lontar.

Umumnya, Palinggih Kamulan didirikan di bagian utama mandala atau uluning dari areal pekarangan rumah. Tempat suci ini didirikan satu areal bersama dengan Palinggih Surya dan Palinggih Taksu.

Dosen Filsafat Hindu, STAHN Mpu Kuturan Singaraja, I Made Gami Sandi Untara mengatakan, Palinggih Kamulan merupakan konsep dari Mpu Kuturan yang telah berjasa dalam menyatukan Sekte-sekte yang ada pada zaman pemerintahan Raja Airlangga di Jawa.

Pemujaan Palinggih Kamulan bahkan diulas dalam berbagai pustaka lontar. Seperti Lontar Usana Dewa. Dalam lontar Usana Dewa, Lembar 4 ini disebutkan.

“Ring Kamulan tengen Bapa ngaran sang Paratma, ring Kamulan kiwa Ibu ngaran sang Siwatma, ring Kamulan tengah ngaran Raganya, tu Brahma dadi meme bapa, meraga Sang Hyang Tuduh.”

Artinya pada Palinggih Kamulan beliau bergelar Sang Hyang Atma, para ruang Kamulan kanan ayah, namanya Sang Hyang Paratma. Pada Kamulan kiri ibu, disebut Sang Hyang Siwatma, ring Kamulan tengah diri-Nya, itu Brahma, menjadi Purusa Pradana, berwujud Sang Hyang Tuduh.

Kemudian dalam Lontar Gong Wesi disebutkan “Ngaran ira Sang Atma ring Kamulan tengen bapanta, nga, sang Paratma, ring Kamulan kiwa ibunta, nga, sang Siwatma, ring Kamulan madya raganta, atma dadi meme bapa ragane mantuk ring dalem dadi sanghyang tunggal, nunggalan raga”.

Artinya : nama beliau Sang Atma, pada ruang Kamulan kanan Bapakmu, yaitu sang Paratma, pada ruang Kamulan kiri Ibumu, yaitu Sang Siwatma, pada ruang tengah adalah menyatu menjadi Sang Hyang Tunggal menyatukan wujud.

Gami mengatakan di Palinggih Kamulan adalah Sanghyang Triatma yang terdiri dari Paratma, Siwatman dan Atma. Paratma yang diidentikkan sebagai bapak (Purusa) yang terletak di ruang sebelah kanan. Sanghyang Siwatma yang diidentikkan sebagai ibu (Pradhana) yang terletak di sebelah kiri.

“Sang Atma diidentikkan sebagai Brahma yang sebagai Purusa Pradhana yang menyatu menjadi Sanghyang Tuduh. Sehingga pada hakekatnya Sanghyang Triatma merupakan Hyang Tunggal sebagai pencipta manusia,” ungkapnya.

Mengenai Sanghyang Triatma yang dijelaskan dari kedua lontar tersebut, maka atma yang menjadi sumber hidup. Siwatma adalah sumber atma di alam nyata. Sehingga saat memuja di Kawitan, menyebutkan Sanghyang Trimurti, Tripurusa dan Trilingga.

Dalam Lontar Purwa Bhumi Kamulan juga dijelaskan bahwa yang bersthana di Palinggih Kamulan tidak hanya Sanghyang Triatma. Melainkan juga Atma (roh) para leluhur yang telah disucikan melalui serangkaian upacara Pitra Yadnya dan telah mencapai Siddhidewata yang disebut dengan Dewa Pitara.

“Riwus mangkana daksina pangadegan Sang dewa pitara, tinuntun akena maring Palinggih Kamulan, yan lanang unggahakena ring tengen, yang wadon unggahakena ring kiwa, irika mapisan lawan Dewa Hyangnya nguni”.

Jika dimaknai Daksina perwujudan Roh Suci dituntut pada Sang Hyang Kamulan. Roh  laki-laki dinaikkan pada ruang kanan, kalau roh perempuan dinaikkan di sebelah kiri disana menyatu.

 






Reporter: I Putu Mardika

Most Read

Artikel Terbaru

/