BALI EXPRESS, DENPASAR - Seorang wanita bangsawan Keraton Solo, K.R.A Mahindrani Kooswidyanthi Paramasari, secara resmi memeluk Hindu setelah menjalani upacara Sudhi Wadani di Pura Luhur Catur Kanda Pat Sari, Peguyangan, Denpasar, Senin (17/7). Sebagai bukti keseriusannya, wanita kelahiran Roma, Italia, ini pun langsung berniat membuka pasraman Hindu di Tabanan.
K.R.A Mahindrani Kooswidyanthi Paramasari adalah salah satu keturunan bangsawan Keraton Solo yang lahir di Roma, Italia. Kesehariannya, dia adalah seorang musisi. Namun, semakin lama dia menjalani kegalauan pun kian memuncak di dalam benaknya. Kegalauan inilah yang menjadi dasar dan memotivasi Kanjeng Ratu Ayu untuk melaksanakan upacara Sudhi Wadani ini.
Menurut Kanjeng Ratu Ayu, pihaknya sejak dahulu melaksanakan kegiatan yang sangat identik dengan kebudayaan Hindu Bali. Hal ini dibuktikan dengan melaksanakan Tirta Yatra ke Pura- Pura yang berada di Bali mapun luar Bali. Pada mulanya dia tidak bermasalah dengan rutinitasnya tersebut. “Namun, lama-kelamaan menjadi sadar bahwa yang dilakukan itu lebih condong merupakan kebiasaan umat Hindu,” ujarnya beberapa saat sebelum upacara dimulai.
Baca juga: Pura Pucak Sari; Berawal dari Janji Tokoh yang Diikat Pasukan Belanda
Genta sang sulinggih pun menggema, tanda upacara sudah dimulai. Kanjeng Ratu Ayu bakal melaksanakan beberapa rangkaian upacara sebelum resmi kembali ke jalan Dharma. Yakni upacara Sudhi Wadani, Wisuda Wangsa, Pawintenan, Mapuja, Gita Puja dan Doa Bersama. Seluruh rangkaian upacara dipuput oleh Sari Galur Wiku Ratu Cri Bhagawan Putra Natha Nawa Wangsa Pemayun dari Kedhatuan Kawista Bali, Pupuan, Tabanan.
Tampak Kanjeng Ratu terharu menyaksikan bahwa dirinya akan segera melepas kegalauan yang menahun tersebut. Pertama, sebelum secara sah menjadi Umat Sedharma, Kanjeng Ratu dituntun Sari Galur Wiku Ratu Cri Bhagawan Putra Natha Nawa Wangsa Pemayun untuk mengucapkan beberapa kutipan mantra yang disebut dengan sumpah.
Adapun mantra yang diucapkan yakni, ‘om narayana nerwedam sarwam yad bhutam yad ca bahweam, niskalan ko neranjana nerwekalpo, nirakyata sudha dewa eko, narayana na dwityo asti kascit,’ Kemudian dilanjutkan dengan permohonan ke hadapan Ida Sang Hyang Widi Wasa yakni ‘Om Hyang Widi, di hadapan-Mu aku berjanji, bahwa Engkau adalah sumber dari segala sumber kehidupan.’
Ke depan, setelah resmi menjadi umat Hindu, Kanjeng Ratu rencananya akan membuat pasraman Hindu di daerah Tabanan, Bali. Hal ini sebagai bentuk keseriusan dirinya untuk masuk Agama Handu. Selain itu, niat yang kuat serta dukungan dari keluarga yang membuat tekad Kanjeng Ratu bulat dan serius untuk menganut agama Hindu dan kembali ke jalan dharma.
Sementara, Ketua Forum Komunikas Hindunesia, IB Ketut Susena menjelaskan, masuknya Kanjeng Ratu menjadi Agama Hindu merupakan keinginan secara pribadi yang telah melalui pertimbangan yang matang. Serta yang terpenting tidak adanya paksaan dari pihak manapun untuk melaksanakan kegiatan ini.
“Jadi tidak ada paksaan dari siapa pun, ini murni keinginan Kanjeng Ratu sendiri,” tegasnya.
Terkait dengan dipilihnya Pura Luhur Catur Kanda Pat Sari dikarenakan melihat dari kondisi dan tata letak pura yang unik. Dimana dari nama yang terkandung yakni Kanda Pat diyakini sesuai dengan kebudayan Hindu Jawa dan Sunda Wiwitan.
Hal yang unik yang jarang digunakan saat pelaksanaan upacara Sudhi Wadani adalah turut dipentaskannya kesenian suling sunda yang khas Keraton Solo. Hal ini sebagai bentuk penghormatan terhadap kepercayaan dan daerah asal Kanjeng Ratu yang berasal dari Keraton Solo.
“Setelah dilaksanakannya acara ini akan segera dilaporkan kepada Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Provinsi Bali untuk dibuatkan sartifikat dan dilaporkan kepada PHDI Kota Solo agar ke depannya tidak timbul permasalahan terkait upacara ini tegasnya.








