alexametrics
26.5 C
Denpasar
Friday, August 19, 2022

Dikalahkan Cupak, Ida Ratu Ayu Menaru Distanakan

TABANAN, BALI EXPRESS -Arja Cupak Gerantang di Banjar Kelakahan Kaja, Desa Adat Buwit, Tabanan, wajib dipentaskan (masolah) saat piodalan di Pura Ratu Gede Anom pada Purnama Kapat. Kesenian erat kaitannya dengan sasuhunan (yang dipuja) Ida Ratu Ayu Menaru dan kasidian ( kesaktian ) Dasaran Cupak. Bagaimana awal Arja Cupak Gerantang ini harus masolah?

Penari yang sekaligus pembuat cerita Arja ,I Ketut Kaliana, 55, mengakui  pada awalnya, Arja lama vakum dan tidak dipentaskan. Bahkan dipentaskan bila pawisik (petunjuk gaib). Namun, dalam kurun Arja tak beraktivitas, lanjutnya, justru keluarga pangempon pura malah yang banyak mengalami hal buruk. “Karena itu, tahun 2013, saya, pangempon Pura Ratu Gede Anom, pemangku, pakar seni serta panglingsir Puri Kaba-Kaba, mengadakan pertemuan untuk membahas Arja ini. Setelah mendapat restu, akhirnya Arja kembali dipentaskan,” ucap Kaliana kepada Bali Express ( Jawa Pos Group) pekan kemarin.

Menariknya, Kaliana ternyata bukan menjadi pengempon pura, namun akhirnya ikut terlibat. Alasannya, dahulu pada saat rapat tersebut digelar, Kaliana ditunjuk untuk nyunggi salah satu tapakan yang ada di Pura Ratu Gede Anom. Pasalnya, Kaliana dianggap bisa berbahasa Kawi. Namun, saat awal ditunjuk, dirinya sempat menolak dengan pertimbangan selain bukan pangempon pura, ia juga belum mawinten.

“Rapat pada saat itu dilakukan di pura. Tapi saya sempat berujar, kalau ada penari yang kurang, saya siap ngayah. Nah, tujuh hari sebelum piodalan, penari yang awalnya didaulat menjadi Penasar, justru mengundurkan diri. Karena saya sudah berjanji seperti itu, akhirnya saya yang menjadi Penasar,” beber pria yang akrab disapa Nang Eka ini.

Baca Juga :  Menag Sebut Ajaran Hindu Memiliki Banyak Nasehat Bersifat Universal

Soal sejarah Arja ini, Kaliana pun dengan fasih menceritakan, meskipun tanpa bukti fisik. Berdasarkan cerita turun-temurun, awal Arja Cupak Gerantang ini karena kehadiran seseorang yang dianggap sidi atau sakti di Desa Buwit, tepatnya di Banjar Kelakahan Kaja bernama Dasaran Cupak. Konon, Dasaran Cupak amat sakti dan bisa menyembuhkan orang yang terkena sakit non-medis.

Pada suatu ketika, sasuhunan Ida Ratu Ayu Menaru diceritakan ngarebeda (bikin onar) di daerah Munggu, dan tidak ada yang bisa menetralisasi kekuatan beliau. Cerita tersebut menjadi perbincangan, terutama di Kecamatan Kediri dahulu kala. Lantas, cerita itu kemudian didengar Dasaran Cupak yang memang sering menyembuhkan orang sakit non-medis.

“Awalnya sebelum Dasaran Cupak, panglingsir di Puri Pandak Gede yang bisa menetralisasi kekuatan Ida Ratu Ayu Menaru. Namun karena usia, beliau akhirnya meninggal. Nah, sepeninggal beliau itu, Ida Ratu Ayu Menaru kembali ngarebeda. Akhirnya, Dasaran Cupak mengaku bisa menetralisasi kekuatan beliau,” bebernya.

Benar saja, hal itu dibuktikan Dasaran Cupak dan akhirnya Ida Ratu Ayu Menaru dilinggihkan di Pura Ratu Gede Anom. Sehingga pada saat piodalan, wajib dipentaskan Arja Cupak Gerantang. “Kurang lebih seperti itu garis besar sejarah Arja ini,” terangnya.

Baca Juga :  Begini Makna dan Proses Suddhi Wadani sebagai Syarat Beragama Hindu

Kaliana mengaku sering didatangi sasuhunan Pura Ratu Gede Anom tersebut. Bahkan, sampai berhari-hari. Pernah saat keluarganya usai Mlaspas dapur, Kaliana tidur di kamar dekat dapur tersebut. Ketika hendak tidur, dalam setengah sadar, dirinya didatangi Ida Ratu Ayu Menaru dan merangkul dirinya dengan erat. Dengan kekuatan yang dia miliki, akhirnya dia berhasil keluar dari ruangan tersebut menuju kamar pribadinya. “Besok harinya saya langsung cerita ke keluarga pangempon pura dan langsung mapekeling di hadapan beliau, supaya tidak diganggu lagi,” tegasnya.

Untuk penari pada saat pementasan Arja Cupak Gerantang ini, disebutkan Kaliana berjumlah 12 orang. Yakni empat penari wanita, dua orang lawak, Kartala, Penasar, dan empat dagang tuak. Cerita atau lakon yang digarap kebanyakan memadukan unsur komedi dan Calonarang. Dimana diakhir cerita, ada prosesi matebekan atau ngunying, yakni para penari atau yang karauhan (tance) menusuk penyunggi Ida Ratu Ayu Menaru dengan keris. “Durasinya kurang lebih 2 hingga 3 jam. Tergantung kondisi juga. Untuk tempat berlangsungnya dadakan di areal jaba Pura Ratu Gede Anom,” bebernya.

Mengingat Arja Cupak Gerantang ini terbilang baru beberapa tahun, tentu saja lakon serta ceritanya digarap dengan serius. Bahkan, sampai mendatangkan beberapa maestro Arja seperti Wayan Liges dan istrinya di Dadakan, Abiantuwung. Kemudian ada juga I Made Kenak dari Suralaga, Kediri, Tabanan, selaku pembina dan pelatih vokal serta gerak pakem tari Arja.

 


TABANAN, BALI EXPRESS -Arja Cupak Gerantang di Banjar Kelakahan Kaja, Desa Adat Buwit, Tabanan, wajib dipentaskan (masolah) saat piodalan di Pura Ratu Gede Anom pada Purnama Kapat. Kesenian erat kaitannya dengan sasuhunan (yang dipuja) Ida Ratu Ayu Menaru dan kasidian ( kesaktian ) Dasaran Cupak. Bagaimana awal Arja Cupak Gerantang ini harus masolah?

Penari yang sekaligus pembuat cerita Arja ,I Ketut Kaliana, 55, mengakui  pada awalnya, Arja lama vakum dan tidak dipentaskan. Bahkan dipentaskan bila pawisik (petunjuk gaib). Namun, dalam kurun Arja tak beraktivitas, lanjutnya, justru keluarga pangempon pura malah yang banyak mengalami hal buruk. “Karena itu, tahun 2013, saya, pangempon Pura Ratu Gede Anom, pemangku, pakar seni serta panglingsir Puri Kaba-Kaba, mengadakan pertemuan untuk membahas Arja ini. Setelah mendapat restu, akhirnya Arja kembali dipentaskan,” ucap Kaliana kepada Bali Express ( Jawa Pos Group) pekan kemarin.

Menariknya, Kaliana ternyata bukan menjadi pengempon pura, namun akhirnya ikut terlibat. Alasannya, dahulu pada saat rapat tersebut digelar, Kaliana ditunjuk untuk nyunggi salah satu tapakan yang ada di Pura Ratu Gede Anom. Pasalnya, Kaliana dianggap bisa berbahasa Kawi. Namun, saat awal ditunjuk, dirinya sempat menolak dengan pertimbangan selain bukan pangempon pura, ia juga belum mawinten.

“Rapat pada saat itu dilakukan di pura. Tapi saya sempat berujar, kalau ada penari yang kurang, saya siap ngayah. Nah, tujuh hari sebelum piodalan, penari yang awalnya didaulat menjadi Penasar, justru mengundurkan diri. Karena saya sudah berjanji seperti itu, akhirnya saya yang menjadi Penasar,” beber pria yang akrab disapa Nang Eka ini.

Baca Juga :  Garuda, Lambang NKRI, Ada dalam Mitologi Hindu, Ini Kisahnya

Soal sejarah Arja ini, Kaliana pun dengan fasih menceritakan, meskipun tanpa bukti fisik. Berdasarkan cerita turun-temurun, awal Arja Cupak Gerantang ini karena kehadiran seseorang yang dianggap sidi atau sakti di Desa Buwit, tepatnya di Banjar Kelakahan Kaja bernama Dasaran Cupak. Konon, Dasaran Cupak amat sakti dan bisa menyembuhkan orang yang terkena sakit non-medis.

Pada suatu ketika, sasuhunan Ida Ratu Ayu Menaru diceritakan ngarebeda (bikin onar) di daerah Munggu, dan tidak ada yang bisa menetralisasi kekuatan beliau. Cerita tersebut menjadi perbincangan, terutama di Kecamatan Kediri dahulu kala. Lantas, cerita itu kemudian didengar Dasaran Cupak yang memang sering menyembuhkan orang sakit non-medis.

“Awalnya sebelum Dasaran Cupak, panglingsir di Puri Pandak Gede yang bisa menetralisasi kekuatan Ida Ratu Ayu Menaru. Namun karena usia, beliau akhirnya meninggal. Nah, sepeninggal beliau itu, Ida Ratu Ayu Menaru kembali ngarebeda. Akhirnya, Dasaran Cupak mengaku bisa menetralisasi kekuatan beliau,” bebernya.

Benar saja, hal itu dibuktikan Dasaran Cupak dan akhirnya Ida Ratu Ayu Menaru dilinggihkan di Pura Ratu Gede Anom. Sehingga pada saat piodalan, wajib dipentaskan Arja Cupak Gerantang. “Kurang lebih seperti itu garis besar sejarah Arja ini,” terangnya.

Baca Juga :  Begini Makna Upacara Pamlepeh Paska Bencana Alam dan Ulah Amoral

Kaliana mengaku sering didatangi sasuhunan Pura Ratu Gede Anom tersebut. Bahkan, sampai berhari-hari. Pernah saat keluarganya usai Mlaspas dapur, Kaliana tidur di kamar dekat dapur tersebut. Ketika hendak tidur, dalam setengah sadar, dirinya didatangi Ida Ratu Ayu Menaru dan merangkul dirinya dengan erat. Dengan kekuatan yang dia miliki, akhirnya dia berhasil keluar dari ruangan tersebut menuju kamar pribadinya. “Besok harinya saya langsung cerita ke keluarga pangempon pura dan langsung mapekeling di hadapan beliau, supaya tidak diganggu lagi,” tegasnya.

Untuk penari pada saat pementasan Arja Cupak Gerantang ini, disebutkan Kaliana berjumlah 12 orang. Yakni empat penari wanita, dua orang lawak, Kartala, Penasar, dan empat dagang tuak. Cerita atau lakon yang digarap kebanyakan memadukan unsur komedi dan Calonarang. Dimana diakhir cerita, ada prosesi matebekan atau ngunying, yakni para penari atau yang karauhan (tance) menusuk penyunggi Ida Ratu Ayu Menaru dengan keris. “Durasinya kurang lebih 2 hingga 3 jam. Tergantung kondisi juga. Untuk tempat berlangsungnya dadakan di areal jaba Pura Ratu Gede Anom,” bebernya.

Mengingat Arja Cupak Gerantang ini terbilang baru beberapa tahun, tentu saja lakon serta ceritanya digarap dengan serius. Bahkan, sampai mendatangkan beberapa maestro Arja seperti Wayan Liges dan istrinya di Dadakan, Abiantuwung. Kemudian ada juga I Made Kenak dari Suralaga, Kediri, Tabanan, selaku pembina dan pelatih vokal serta gerak pakem tari Arja.

 


Most Read

Artikel Terbaru

/