alexametrics
29.8 C
Denpasar
Tuesday, May 24, 2022

Saat Pujawali Enam Barong Saling Kunjungi

Sebagai benda seni yang mampu menjadi pelindung masyarakat, Barong melewati beberapa rangkaian proses sakralisasi. Proses itu antara lain melasti ke segara, melaspas, mamakuh, mapengurip urip, dan pasupati. Ini dilakukan untuk menumbuhkan taksu dalam barong tersebut.

Ariyasa Darmawan mengatakan ritual melasti bermakna menghanyutkan leteh di bhuana alit dan bhuana agung dan kemudian memohon saripati amrtha di telenging segara. Dengan sakralisasi Barong, upacara melasti ke segara bermaksud menghanyutkan kekotoran yang terdapat pada Barong yang berasal dari proses pembuatan.

Tentu saja menyebabkan banyak kecemaran secara spiritual.“Dimohonkan kepada Hyang Baruna sebagai penguasa lautan untuk meleburnya,” katanya.

Langkah selanjutnya adalah melaspas. Tujuannya untuk melepaskan segala ikatan dari bahan-bahan Barong dan Rangda dengan asal-muasal bahan tersebut. Seperti melepaskan ikatan atau keterkaitan tapel denga asal kayu, bambu, kain dan benang. Sehingga ada penegasan sejak upacara melaspas tersebut kayu tapel tersebut bukan lagi sepotong kayu pule, tetapi sudah berubah status menjadi Barong.

Kemudian dilanjutkan dengan Memakuh. Upacara ini bertujuan untuk menjadikan Barong memiliki kekuatan spiritual yang mampu melindungi masyarakat desa. Pasupati adalah nama lain dari Sang Hyang Siwa.

Upacara mepasupati merupakan sebuah ritual untuk memohon kepada Tuhan yang dalam manifestasinya sebagai Sang Hyang Siwa untuk berkenan menjadi pengendali atau memberikan kekuatan terhadap Barong dan Rangda.

Proses sakralisasi lainnya adalah mehyang-hyang atau sering disebut dengan Ngerehang. Prosesi ini biasanya ndilakukan di tengah setra (kuburan) atau di halaman pura. Tujuan dari prosesi ini adalah menarik kekuatan alam agar mampu menghidupi Barong yang awalnya adalah benda biasa, menjadi simbol yang mampu melindungi dan mempersatukan masyarakat.

Melalui proses sakralisasi, Barong dan bulu gagak yang awalnya adalah sebuah benda biasa, diiubah fungsinya menjadi sebuah benda sakral agar bisa dimasuki oleh kekuatan-kekuatan alam sebagai simbol suci untuk menghubungkan diri dengan Tuhan Yang Maha Esa dan melindungi masyarakat dari kal-hal yang kurang baik.

Setelah dimasuki oleh kekuatan-kekuatan postitif, Barong tidak lagi sebagai sebuah benda seni biasa. Tetapi sebuah benda sebagai simbol suci untuk lebih mudah menghubungkan diri dengan Tuhan Yang Maha Esa.

Ketika Barong bulu gagak ditarikan atau datang ke pura lain, ada salah satu bulu gagak yang lepas dari jalinannya, maka masyarakat akan memungut untuk diserahkan kembali kepada pemangku atau ditaruh langsung di kepala.

Dikatakan Ariyasa, ini disebabkan masyarakat mempercayai Barong memiliki jiwa dan adanya penghormatan kepada simbol yang disucikan oleh masyarakat. Enam Barong bulu gagak memiliki ikatan dari segi sumber bulu.

Ketika ada upacara di Pura Alas Arum, maka Barong yang memohon bulu gagak di Pura Alas Arum Baha akan datang maparuman atau ada upacara di salah satu pura, maka akan saling mengunjungi. “Hal ini membuat adanya kekerabatan antar penyungsung Barong bulu gagak,” pungkasnya. (habis)


Sebagai benda seni yang mampu menjadi pelindung masyarakat, Barong melewati beberapa rangkaian proses sakralisasi. Proses itu antara lain melasti ke segara, melaspas, mamakuh, mapengurip urip, dan pasupati. Ini dilakukan untuk menumbuhkan taksu dalam barong tersebut.

Ariyasa Darmawan mengatakan ritual melasti bermakna menghanyutkan leteh di bhuana alit dan bhuana agung dan kemudian memohon saripati amrtha di telenging segara. Dengan sakralisasi Barong, upacara melasti ke segara bermaksud menghanyutkan kekotoran yang terdapat pada Barong yang berasal dari proses pembuatan.

Tentu saja menyebabkan banyak kecemaran secara spiritual.“Dimohonkan kepada Hyang Baruna sebagai penguasa lautan untuk meleburnya,” katanya.

Langkah selanjutnya adalah melaspas. Tujuannya untuk melepaskan segala ikatan dari bahan-bahan Barong dan Rangda dengan asal-muasal bahan tersebut. Seperti melepaskan ikatan atau keterkaitan tapel denga asal kayu, bambu, kain dan benang. Sehingga ada penegasan sejak upacara melaspas tersebut kayu tapel tersebut bukan lagi sepotong kayu pule, tetapi sudah berubah status menjadi Barong.

Kemudian dilanjutkan dengan Memakuh. Upacara ini bertujuan untuk menjadikan Barong memiliki kekuatan spiritual yang mampu melindungi masyarakat desa. Pasupati adalah nama lain dari Sang Hyang Siwa.

Upacara mepasupati merupakan sebuah ritual untuk memohon kepada Tuhan yang dalam manifestasinya sebagai Sang Hyang Siwa untuk berkenan menjadi pengendali atau memberikan kekuatan terhadap Barong dan Rangda.

Proses sakralisasi lainnya adalah mehyang-hyang atau sering disebut dengan Ngerehang. Prosesi ini biasanya ndilakukan di tengah setra (kuburan) atau di halaman pura. Tujuan dari prosesi ini adalah menarik kekuatan alam agar mampu menghidupi Barong yang awalnya adalah benda biasa, menjadi simbol yang mampu melindungi dan mempersatukan masyarakat.

Melalui proses sakralisasi, Barong dan bulu gagak yang awalnya adalah sebuah benda biasa, diiubah fungsinya menjadi sebuah benda sakral agar bisa dimasuki oleh kekuatan-kekuatan alam sebagai simbol suci untuk menghubungkan diri dengan Tuhan Yang Maha Esa dan melindungi masyarakat dari kal-hal yang kurang baik.

Setelah dimasuki oleh kekuatan-kekuatan postitif, Barong tidak lagi sebagai sebuah benda seni biasa. Tetapi sebuah benda sebagai simbol suci untuk lebih mudah menghubungkan diri dengan Tuhan Yang Maha Esa.

Ketika Barong bulu gagak ditarikan atau datang ke pura lain, ada salah satu bulu gagak yang lepas dari jalinannya, maka masyarakat akan memungut untuk diserahkan kembali kepada pemangku atau ditaruh langsung di kepala.

Dikatakan Ariyasa, ini disebabkan masyarakat mempercayai Barong memiliki jiwa dan adanya penghormatan kepada simbol yang disucikan oleh masyarakat. Enam Barong bulu gagak memiliki ikatan dari segi sumber bulu.

Ketika ada upacara di Pura Alas Arum, maka Barong yang memohon bulu gagak di Pura Alas Arum Baha akan datang maparuman atau ada upacara di salah satu pura, maka akan saling mengunjungi. “Hal ini membuat adanya kekerabatan antar penyungsung Barong bulu gagak,” pungkasnya. (habis)


Most Read

Artikel Terbaru

/