Selasa, 26 Oct 2021
Bali Express
Home / Balinese
icon featured
Balinese
Ritual Magedong-Gedongan dalam Hindu (1)

Magedong-gedongan, Perkenalkan Bayi dengan Sad Rasa

18 September 2021, 10: 35: 52 WIB | editor : Nyoman Suarna

Magedong-gedongan, Perkenalkan Bayi dengan Sad Rasa

Prof. Dr. Ida Bagus Gde Yudha Triguna, MS (istimewa)

Share this      

Proses penyucian manusia bagi umat Hindu khususnya di Bali sudah dilakukan bahkan sejak janin itu masih berada di dalam kandungan. Siklus upacara ini lazim dikenal dengan tradisi Magedong-gedongan atau Garbha Wadana.

Prof. Dr. Ida Bagus Gde Yudha Triguna, MS mengatakan magedong-gedongan, berasal dari gedong atau Goa Garbha. Goa dimaknai sebagai pintu yang ada dalam tubuh manusia. Dan Garbha adalah perut. Artinya pintu yang berada di perut sang Ibu.

Di dunia kedokteran, bahwa usia 7 bulan, janin dalam kandungan sudah bisa mendengar. Di dalam Synaptogenesis, yaitu proses terjadinya pembentukan sinaps baru dalam sistem saraf otak dan intlegensi mulai usia janin 6 bulan sampai bayi berusia 3 tahun. Meskipun terjadi sepanjang umur orang yang sehat, ledakan pembentukan sinaps terjadi selama pembentukan otak awal yang dikenal sebagai Exuberant Synaptogenesis.

Baca juga: Wana Kerti, Terungkap dalam Teks Sastra Hindu, Dijaga Awig-Awig

Dikatakan Prof. Yudha, ritual Magedong-gedongan sejatinya sudah dijelaskan dalam sejumlah teks suci Hindu. Seperti dalam Manawa Dharmasasrta Adhiyasa II, Sloka 16. Disana disebutkan bahwa Upacara ini dilaksanakan untuk Ibu yang sedang hamil setelah usia kandungannya di atas 6 bulan Bali, atau bulan ketujuh kalender.

“Mengapa? Karena pada usia inilah, janin sudah diyakini tumbuh dengan sempurna. Ketika istri sedang mengandung, dalam tradisi Hindu, seharusnya dibacakan isi pustaka suci, seperti Adi Parwa, Niti Sastra, Bhagawad Gita, Kakawin Ramayana,” jelasnya

Terpenting, untuk diketahui, saat dibacakannya sloka itu, sang istri yang sedang mengandung tidak boleh tidur. Pihaknya pun mengutip sepenggal kisah Adi Parwa dalam Epos Mahabarata. Disana dikisahkan ketika istrinya Arjuna yang bernama Dyah Subadra hamil, mengandung anaknya yang kemudian bernama Abimanyu.

Saat itu, Prabu Kresna bercerita mengenai cara menghadapi perang bernama Cakrawayu, dan ketika itu Sang Dyah Subadra dilarang tidur. Namun titah bhatara ketika Sang Kresna baru bercerita setengah Dyah Subadra sudah tertidur

Itu sebabnya, diyakini ketika perang Bharata Yuda berlangsung, Sang Abimanyu berperang dengan gagahnya. Namun ia terperangkap oleh strategi Bhagawan Bisma sehingga tidak bisa keluar dan terkurung dalam medan pertempuran, hingga Abimanyu menemui ajal.

Lanjutnya, upacara magedong-gedongan, tidak hanya sebuah ritus untuk memperoleh atau memohon anak dan Ibu mendapat keselamatan. Tetapi juga proses pembelajaran anak sejak dalam kandungan.

Dalam lontar Jadma Pawerti disebutkan: “Nihan tingkahing manusa Yadnya, Hana pawarahira sanghyang jagatnata sing sanghyang Aditya, rikalaning rare hana ring garba katekeng pawiwahan hana ring rat yogya sira aweh pali pali, ring manusa pada, yan sira yan paweh pali pali ring rare samangkana lwir sarpa sato kramannya,”

Jika diterjemahakan artinya: “Inilah perihal manusia yadnya. Ada ajaran Sanghyang Jagatnata kepada Sang Hyang Aditya. Pada waktu bayi masih dalam kandungan, manakala upacara perkawinan di Bumi. Sepatutnya anda memberinya upacara, di alam manusia. Jika anda tidak mengupacarai bayi itu dalam garbha, bagaikan ular ayam tingkah lakunya kelak”

Begitu juga pendidikan jenjang manusia dalam Hindu diatur di dalam lontar Dharma Kahuripan. “….Inilah rincian tentang dharma Kahuripan, tercantum dalam Widhi Sastra Agama. Ajaran Bhatara Siwa Dharma kepada masyarakat bumi. Yaitu tentang upacara jadi manusia, dengan tujuan keharmonisan hidup dan mati di kemudian hari. Mencapai keberhasilan dan kerahayuan dan jalan terang benderang. Perihal tingkah lakunya patut diperhatikan oleh masyarakat. Misalnya pemujaan yang lumrah oleh pandita. Janganlah tidak memastikan waktu ketika bayi lahir. Dengan tujuan kerahayuan dan panjang umurnya. Sesuaikan dengan umurnya. Memahami intisari ajaran tattwa, cerita dan tutur. Misalnya paham tentang pengetahuan bak buruk menjadi manusia (wariga) sampai dengan perihal ramalan masa depannya. Seperti perihal rincian aksara sucinya,”

“Ini menegaskan bahwa lakukan upacara menurut tahapan usia,” imbuh guru besar UNHI Denpasar ini. (bersambung)

(bx/dik/man/JPR)

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
Facebook Twitter Instagram YouTube
©2021 PT. JawaPos Group Multimedia