Minggu, 28 Nov 2021
Bali Express
Home / Balinese
icon featured
Balinese
Lontar Yama Purwana Tattwa (2)

Mengenal Bentuk dan Jenis Petulangan

18 Oktober 2021, 06: 36: 19 WIB | editor : Nyoman Suarna

Mengenal Bentuk dan Jenis Petulangan

Ida Bagus Putu Eka Suadnyana, SH.H, M.Fil.H (I Putu Mardika/Bali Express)

Share this      

“Di dalam lontar Yama Purwana Tatwa disebutkan tuntunan upacara yadnya seperti halnya Upacara Nyekah untuk para roh leluhur. Tujuannya agar roh leluhur tidak terjebak di alam astral dan bisa menuju alam Hyang Yama dipati untuk mengalami proses pengadilan,” pungkasnya.

Di Bali perbedaan dalam pelaksanaan upacara pitra yadnya khusunya pengabenan sering ditemukan. Baik dalam penggunaan wadah atau bade dan petulangan. Kondisi ini tak lepas dari desa mawacara dan juga bhisama yang d sesuaikan dengan klen atau soroh sang yajamana. Perbedaan itu pada hakekatnya memiliki tujuan yang sama dan tidak menyimpang dari Weda sebab lontar adalah pengejawantah dari pada Weda.

Dalam lontar Yama Purwana Tatwa dikupas sejumlah bentuk dan jenis petulangan dalam upacara ngaben. Ada yang di sebut petulangan Lembu, Macan, Singa, Singa kaang, Naga Kaang, Gedarba, Gajah Mina dan Sudang-sudangan.

Baca juga: Ada Sejumlah Pantangan, Ungkap Etika Wanita Saat Hamil

Dosen Filsafat Hindu, Jurusan Brahmawidya, STAHN Mpu Kuturan ini merinci, Petulangan Lembu warna putih, dan lembu hitam idealnya diduganakan oleh orang yang dipandang suci seperti para pendeta, para pemangku (lembu, putih) dan lembu hitam oleh kesatria dan brahmana welaka.

Sedangkan bentuk petulangan singa yang disebut Singa Ambara Raja, warnanya merah tua bersayap. Umumnya dipakai oleh raja-raja dan warga tangkas koriagung. Petulangan bentuk naga kaang, ialah bentuk idealis naga dikombinasikan dengan ikan, berkepala naga dan badan bersisik ikan dan bersayap.

“Kaki sebagai kaki lembu dan bersisik pada bagian belakang kaki, dipakai oleh para arya sentong, sekte wisnu,” jelasnya.

Bentuk petulangan Gedarba idealnya binatang beruang, berwarna hitam. Kaki bertanduk (tegil), dipakai oleh kula wangsa (orang kebanyakan). Bentuk petulangan gajah mina idealnya kombinasi dari binatang gajah dan ikan berupa binatang purba sejenis ikan berkepala gajah, dipakai oleh golongan wesia.

Bentuk petulangan Singa Kaang, berbentuk singa, kaki bagian belakang bertanduk dan bersisik seperti sisik ikan dipakai oleh pasek Bali aga dan Pasek Pulasari. “Bentuk petulangan Menjangan, idealnya binatang menjangan bertanduk bercabang-cabang, dipakai oleh sang arya,” paparnya.

Bentuk petulangan Macan (harimau), idealnya binatang harimau, warna merah dan kulit belang, dipakai oleh, pande (keturunan dari seorang Maha Mpu Brahma Raja Wisesa. Bentuk petulangan sudang-sudangan, berbentuk seperti ikan dan kulit bersisik, dipakai oleh para nelayan di daerah tepi pantai.

Bentuk petulangan Tabla, berbentuk peti biasa, berkaki empat sebagai penyangga. Warnanya putih simbul kesucian, dipakai oleh mereka yang dipandang suci. (habis)

(bx/dik/man/JPR)


Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
Facebook Twitter Instagram YouTube
©2021 PT. JawaPos Group Multimedia