Minggu, 28 Nov 2021
Bali Express
Home / Balinese
icon featured
Balinese
Lontar Yama Purwana Tattwa (1)

Ungkap Bentuk dan Jenis Petulangan

18 Oktober 2021, 06: 12: 20 WIB | editor : Nyoman Suarna

Ungkap Bentuk dan Jenis Petulangan

PELEBON: Suasana pelebon di Puri Ubud tahun 2018 lalu. (Agung Bayu/Bali Express)

Share this      

Lontar Yama Purwana Tattwa adalah Salah satu lontar yang memuat tentang tuntunan upacara pitra yadnya. Baik dari sisi upacara, upakara dan sarana bade atau petulangan yang digunakan dalam upacara ngaben.

Ida Bagus Putu Eka Suadnyana, SH.H, M.Fil.H mengatakan lontar Yama Purwana Tatwa juga salah satu lontar kamoksan yang memiliki perhitungan hari, wuku dan sasih (wariga) yang khusus mengatur dalam pencarian ala ayuning dewasa, untuk dapat melaksanakan upacara khususnya pitra yadnya. Baik itu ngaben, nyekah, memukur dan maligia

Dalam runtutan upacara ngaben yang terdapat dalam lontar Yama Purwana Tatwa ada yang disebut dengan memukur. Upacara ini merupakan upacara tahap kedua dari Pitra Yadnya, yaitu mengembalikan jasad manusia yang telah bergabung dengan alam semesta tersebut menuju alam pitara, yakni alam yang berdekatan dengan Tuhan.

Baca juga: Kisah Gaib Sucita Bangun Candi Purwo (4); Hutan Larangan

Upacara ngaben diyakini sebagai ritual untuk mengembalikan unsur-unsur panca mahabutha, dari badan manusia atau bhuana alit kedalam alam semesta atau bhuana agung. “Teks Yama Purwana Tattwa menempatkan pelaksanaan upacara kematian sebagai sesuatu yang sangat gaib, sakral dan religius,” jelasnya.

Dalam Lontar Yama Purana Tatwa 2b disebutkan: “Nihan daging kcap Yama Purwana Tattwa, par ssi, tingkah angupakara sawa sang mati, agung alit, nistha madhia utama, maka patuting wulah sang magama tirtha ring Balirajia, kewala wwang mati bner tan wnang mapendem, mangde magseng juga, saika supacarania, prasida Sang Atma molih ring Bhatara Brahma”.

jika diartikan: Inilah isi dari Yama Purwana Tattwa tersebut; Bila melakukan upacara kematian sesuai dengan kemampuan yang disebut sederhana, menengah dan Utama (nistha, madhya, uttama). Agar tidak menyimpang dari petunjuk bagi umat yang beragama Hindu di pulau Bali. Hanya orang yang mati secara wajar tidak boleh dikuburkan, agar dibakar saja, disertai dengan upacara supaya roh orang tersebut mendapat tempat disisi Dewa Brahma

Dikatakan Sudanyana, bila menyelenggarakan upacara kematian hendaknya jangan memaksakan diri untuk melakukan upacara yang besar. Akan tetapi disesuaikan dengan kemampuan keluarga yang ditinggalkan sehingga tidak menjadi beban.

“Meskipun melaksanakan upacara kematian yang sangat sederhana, tanpa harus mengeluarkan banyak biaya, asal dapat segera dilaksanakan dan dilandasi oleh hati yang tulus ikhlas maka arwah leluhur akan memperoleh kebahagiaan yang abadi,” ungkapnya.

Secara filosofi bahwa ada beberapa sarana utama yang dipakai dalam, upacara kematian sesuai Lontar Yama Purwana Tattwa, diantaranya: sarana pisang jati sebagai warna, asep sebagai mata, nasi angkeb sebagai mulut, bubur pirata sebagai suara, dukut lepas sebagai dubur, cawan sebagai dahi, daun kayu sugih sebagai hidung, kusa sebagai bulu mata.

Jawa sebagai alis, pili-pili sebagai ulu hati, panjang Uang sebagai lidah, ending sebagai bibir, don rotan sebagai punggung. Asep sebagai gusi, pengawak sebagai tulang belakang, tebu sebagai lengan, cendana sebagai tulang kelingking, rempah-rempah sebagai inti atau sebagai atma.

Panyugjug sebagai jalan, panyugjug mameri sebagai penuntun yang paling depan, baju (wastra) sebagai kulit, kain wangsul sebagai telapak kaki, topi sebagai lutut ganjang/ganjaran berisi uang sebagai tulang lutut, sangku sebagai kantung kemih, kipas sebagai nafas, kotak sebagai daging, tiga sampir sebagai urat, dan gagadhing, emba-embanan sebagai kepala. “Sarana ini memang sering digunakan saat upacara pengabenan,” katanya. (bersambung)

(bx/dik/man/JPR)


Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
Facebook Twitter Instagram YouTube
©2021 PT. JawaPos Group Multimedia