28.8 C
Denpasar
Monday, January 30, 2023

Begini Sarana Prosesi dan Mantra Nerang di Bali

BALI EXPRESS, DENPASAR – Sejatinya, sangat tidak elok ketika manusia mencegah turunya hujan. Namun, ritual ini dibenarkan ketika hendak dilaksanakan upacara yadnya agar berjalan lancar, tanpa ada hambatan apapun, termasuk hujan.

 

Nerang hujan, ritual yang tidak asing di kalangan umat Hindu, khsususnya di Bali. Hampir setiap yadnya yang bersekala besar, yang punya acara melakukan upaya niskala, agar tidak turun hujan alias Nerang Hujan. 

Tukang Nerang  I Nyoman Subamia kepada Bali Express (Jawa Pos Group), Kamis (23/2), mengatakan, ada beberapa tempat yang biasa dilaksanakan untuk Nerang. Hal itu tergantung pada lingkup upacara yang dilaksanakan.

 

“Kalau acaranya di rumah, cukup nunas panerangan hujan di sanggah kemulan atau pangijeng karang. Bila acaranya menyangkut dua rumah atau lebih, dimungkinkan nunas panerangan di pura banjar, yaitu di Palinggih Bhagawan Penyarikan, ” urainya. Tetapi bila kegiatan melibatkan warga antar banjar, lanjutnya, baiknya nunas panerangan di Pura Khayangan Tiga.

Banten yang digunakan dalam ritual Nerang Hujan secara umum adalah Santun sarad, Suci, Tipat kelanan,  Pangambyan,  Tebasan,  Sorohan alit,  Segehan kepelan bang penastan, arak, berem, air,  dupa 11 batang. Di samping itu, untuk memperkuat sarana tersebut, diperlukan sarana tambahan berupa sembe layar, pasepan atau padupan rokok, api pedamaran, baik lilin atau ganjreng (untuk ganjreng biasanya menggunakan minyak nyuh surya) cabe yang ditusuk dengan sebatang lidi yang biasa digunakan untuk menyapu (sampat) banten pajati. Ditambahkannya, beberapa orang ada ang menggunakan sarana seikat dupa menyala dan nyuh gading marajah Triaksara.

Baca Juga :  Genggong Batuan Tampilkan Materi Gong Kebyar

 

Pedamaran Sambe Layar atau ‘ api terapung’ adalah salah satu simbol Hyang Agni, merupakan sistem padamaran (dipa) dengan menggunakan mangkok kramik (istilah Balinya cawan sutra), sumbu-nya benang tukel (sejenis kapas). Minyak yang digunakan adalah minyak atau  lengis nyuh surya, di mana bumbunya  digantung dengan busung (janur) atau daun lontar berbentuk tapak dara yang dirajah ‘Ong-kara pasupati’. Selanjutnya, diatasnya diisi batas uang kepeng sebagai penyangga api. Bila memungkinkan, uang kepengnya gunakan yang tridatu atau pancadatu dan sangat direkomendasikan menggunakan pis wayang (pis anoman, pis padma atau nawasanga).

“Damar sambe layar ini baiknya dibuat pada hari Kajeng Kliwon Enyitan atau Subacara,” imbuhnya. 

Selain itu,  ada juga cara yang paling sederhana  digunakan adalah mantra nerang hujan pendek ini , yakni ‘Ang Ung Mang Syah’ diucapkan 11 kali dengan  ngacep Ida Bhatara Dalem mohon penugerahan panerangan. “Hanya saja, mantra ini akan bermanfaat apabila Anda sudah belajar ilmu sepiritual Bali tahap lanjutan,” paparnya. Selain itu,  gunakan sarana banten pajati dengan 11 dupa yang dihaturkan kehadapan Bhatara Surya (Sanggah Surya).

 

Diakuinya, bila diperhatikan, tiada mantra khusus yang diucapkan waktu menghaturkan banten panerangan hujan tersebut . Umumnya isi doa para pemangku hanya memohon karya yadnya berjalan lancar, dan selama karya dimohonkan agar bhatara yang dihaturkan banten nerang hujan mengawasi, agar tidak turun hujan (nyelang galah).

“Mantra yang sangat simple tetapi sangat religius,” jelas pria 58 tahun ini.
Ditambahkannya,  bila seseorang   memiliki bekal spiritual, ritual nerang hujan bisa dilakukan tanpa harus repot-repot menggunakan upakara banten, cukup dengan kekuatan batin (midep), memohon langsung kepada dewa-dewa yang berkaitan dengan proses terjadinya hujan. 

Baca Juga :  Pandangan Rasa Acharya Prabhuraja Darmayasa untuk Bali (3-Habis)

Adapun Dewa yang memiliki kaitan erat dengan ritual Nerang Hujan, yakni Dewa Surya, sebagai saksi kegiatan, selaku dewa tertinggi dalam ritual Hindu Bali. Kemudian Wulan-lintang-tranggana, merupakan saksi kegiatan, wakil Dewa Surya di saat malam hari. Dewa Agni atau Dewa Brahma, merupakan Dewa yang memberikan anugerah kekuatan panasnya api, yang dapat menguapkan setiap embun di sekitar wilayah. Dewa Indra, merupakan Dewa Hujan, karena  hanya seizinnyalah hujan dapat terhenti.

 

“Kemudian Dewa Bayu, merupakan Dewa Angin, yang membantu dalam proses menggeser embun yang telah teruap oleh panasnya jnana (idep),” jelasnya.

Namun, selain kepada semua Dewa yang berfungsi sebagai penerangan, lanjutnya,  permohonan juga dihaturkan Kepada Dewa Wisnu sebagai anugerah kesuburan dalam hal ini adalah hujan. Permohonan tersebut mengarah kepada kesediaan agar Dewa Wisnu masineb atau masimpen agar hujan tidak turun dan membasahi bumi. 
Selain itu, waktu Nerang Hujan juga diperhatikan, janganlah nerang sepanjang hari, karena situasi pada saat nerang hujan, baik suhu serta keadaan akan menjadi penat, panas dengan minim hembusan angin. Sehingga, akan mengganggu kenyamanan lingkungan serta tetangga.

 

 “Jangan Nerang Hujan ketika ada petir, karena ketika itu diyakini Dewa Hyang sedang malancaran. Hal itu akan berakibat kurang baik  kedepannya untuk yang melakukan ritual dan orang yang memanfaatkan ritual nerang hujan tersebut, seperti sakit, bingung dan lainya,” tutup Subamia. 


BALI EXPRESS, DENPASAR – Sejatinya, sangat tidak elok ketika manusia mencegah turunya hujan. Namun, ritual ini dibenarkan ketika hendak dilaksanakan upacara yadnya agar berjalan lancar, tanpa ada hambatan apapun, termasuk hujan.

 

Nerang hujan, ritual yang tidak asing di kalangan umat Hindu, khsususnya di Bali. Hampir setiap yadnya yang bersekala besar, yang punya acara melakukan upaya niskala, agar tidak turun hujan alias Nerang Hujan. 

Tukang Nerang  I Nyoman Subamia kepada Bali Express (Jawa Pos Group), Kamis (23/2), mengatakan, ada beberapa tempat yang biasa dilaksanakan untuk Nerang. Hal itu tergantung pada lingkup upacara yang dilaksanakan.

 

“Kalau acaranya di rumah, cukup nunas panerangan hujan di sanggah kemulan atau pangijeng karang. Bila acaranya menyangkut dua rumah atau lebih, dimungkinkan nunas panerangan di pura banjar, yaitu di Palinggih Bhagawan Penyarikan, ” urainya. Tetapi bila kegiatan melibatkan warga antar banjar, lanjutnya, baiknya nunas panerangan di Pura Khayangan Tiga.

Banten yang digunakan dalam ritual Nerang Hujan secara umum adalah Santun sarad, Suci, Tipat kelanan,  Pangambyan,  Tebasan,  Sorohan alit,  Segehan kepelan bang penastan, arak, berem, air,  dupa 11 batang. Di samping itu, untuk memperkuat sarana tersebut, diperlukan sarana tambahan berupa sembe layar, pasepan atau padupan rokok, api pedamaran, baik lilin atau ganjreng (untuk ganjreng biasanya menggunakan minyak nyuh surya) cabe yang ditusuk dengan sebatang lidi yang biasa digunakan untuk menyapu (sampat) banten pajati. Ditambahkannya, beberapa orang ada ang menggunakan sarana seikat dupa menyala dan nyuh gading marajah Triaksara.

Baca Juga :  Mengharmoniskan Perilaku dengan Alam,Mencari Surga dengan Wariga Belog

 

Pedamaran Sambe Layar atau ‘ api terapung’ adalah salah satu simbol Hyang Agni, merupakan sistem padamaran (dipa) dengan menggunakan mangkok kramik (istilah Balinya cawan sutra), sumbu-nya benang tukel (sejenis kapas). Minyak yang digunakan adalah minyak atau  lengis nyuh surya, di mana bumbunya  digantung dengan busung (janur) atau daun lontar berbentuk tapak dara yang dirajah ‘Ong-kara pasupati’. Selanjutnya, diatasnya diisi batas uang kepeng sebagai penyangga api. Bila memungkinkan, uang kepengnya gunakan yang tridatu atau pancadatu dan sangat direkomendasikan menggunakan pis wayang (pis anoman, pis padma atau nawasanga).

“Damar sambe layar ini baiknya dibuat pada hari Kajeng Kliwon Enyitan atau Subacara,” imbuhnya. 

Selain itu,  ada juga cara yang paling sederhana  digunakan adalah mantra nerang hujan pendek ini , yakni ‘Ang Ung Mang Syah’ diucapkan 11 kali dengan  ngacep Ida Bhatara Dalem mohon penugerahan panerangan. “Hanya saja, mantra ini akan bermanfaat apabila Anda sudah belajar ilmu sepiritual Bali tahap lanjutan,” paparnya. Selain itu,  gunakan sarana banten pajati dengan 11 dupa yang dihaturkan kehadapan Bhatara Surya (Sanggah Surya).

 

Diakuinya, bila diperhatikan, tiada mantra khusus yang diucapkan waktu menghaturkan banten panerangan hujan tersebut . Umumnya isi doa para pemangku hanya memohon karya yadnya berjalan lancar, dan selama karya dimohonkan agar bhatara yang dihaturkan banten nerang hujan mengawasi, agar tidak turun hujan (nyelang galah).

“Mantra yang sangat simple tetapi sangat religius,” jelas pria 58 tahun ini.
Ditambahkannya,  bila seseorang   memiliki bekal spiritual, ritual nerang hujan bisa dilakukan tanpa harus repot-repot menggunakan upakara banten, cukup dengan kekuatan batin (midep), memohon langsung kepada dewa-dewa yang berkaitan dengan proses terjadinya hujan. 

Baca Juga :  Kajang tak Boleh Ditulis Orang Sembarangan

Adapun Dewa yang memiliki kaitan erat dengan ritual Nerang Hujan, yakni Dewa Surya, sebagai saksi kegiatan, selaku dewa tertinggi dalam ritual Hindu Bali. Kemudian Wulan-lintang-tranggana, merupakan saksi kegiatan, wakil Dewa Surya di saat malam hari. Dewa Agni atau Dewa Brahma, merupakan Dewa yang memberikan anugerah kekuatan panasnya api, yang dapat menguapkan setiap embun di sekitar wilayah. Dewa Indra, merupakan Dewa Hujan, karena  hanya seizinnyalah hujan dapat terhenti.

 

“Kemudian Dewa Bayu, merupakan Dewa Angin, yang membantu dalam proses menggeser embun yang telah teruap oleh panasnya jnana (idep),” jelasnya.

Namun, selain kepada semua Dewa yang berfungsi sebagai penerangan, lanjutnya,  permohonan juga dihaturkan Kepada Dewa Wisnu sebagai anugerah kesuburan dalam hal ini adalah hujan. Permohonan tersebut mengarah kepada kesediaan agar Dewa Wisnu masineb atau masimpen agar hujan tidak turun dan membasahi bumi. 
Selain itu, waktu Nerang Hujan juga diperhatikan, janganlah nerang sepanjang hari, karena situasi pada saat nerang hujan, baik suhu serta keadaan akan menjadi penat, panas dengan minim hembusan angin. Sehingga, akan mengganggu kenyamanan lingkungan serta tetangga.

 

 “Jangan Nerang Hujan ketika ada petir, karena ketika itu diyakini Dewa Hyang sedang malancaran. Hal itu akan berakibat kurang baik  kedepannya untuk yang melakukan ritual dan orang yang memanfaatkan ritual nerang hujan tersebut, seperti sakit, bingung dan lainya,” tutup Subamia. 


Most Read

Artikel Terbaru