Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Begini Sejarah Agama Hindu Disebut Agama Tirta

I
Penulis: I Putu Suyatra❯
Begini Sejarah Agama Hindu Disebut Agama Tirta
Begini Sejarah Agama Hindu Disebut Agama Tirta

BALI EXPRESS, DENPASAR  - Pada abad XI Bali masih kental akan kepercayaan Animismenya. Sekte Animisme yang disebut agama Tirta (Bali Mula), telah ada dan berkembang pada masa Warmadewa. Hal itu tercatat dalam Prasasti Penempahan, yang rangka tahun pembuatannya jauh sebelum Majapahit menginjakkan kaki di Bali. 


Di masa Warmadewa tak hanya kepercayaan Tirta yang berkembang. Berbagai sekte juga berkembang, antara lain Ciwa – Sidhanttha, Pacupata, Bodha, Bhairawa, Brahmana,Wesnawa, Rsi, Sora, Ganeca, yang masih terbaca jelas di situs Cagar Budaya yang berupa pura di sepanjang Sungai Pakerisan dan Sungai Petanu yang mengapit Tampaksiring. 


Sejarahwan, sekaligus Pengamat Budaya, I Gede Arya Danu Palguna, memaparkan, selain prasasti Panempahan, peninggalan sejarah yang menggambarkan keberadaan agama Tirta tercatat juga dalam arca Ganesha dan Siwa yang ditemukan di Pulau Panaitan, dan diperkirakan dari abad pertama setelah masehi. Ada juga tujuh buah yupa yang ditemukan di Kutai, Kalimantan Timur, dan diperkirakan dari sekitar tahun 400 Masehi. Di Bali, peninggalan terkuna yang dikenal adalah arca Siwa yang ditemukan di Bedulu, Gianyar, yang coraknya mirip dengan arca Siwa yang ditemukan pada abad ke-8 di dataran tinggi Dieng, Jawa Tengah.


“Dahulu ketika Bali masih dikatakan Bali Mula, agama Hindu disebut Agama Dharma atau agama Tirta, karena dalam setiap struktur kegiatannya agama Tirta, selalu menggunakan air sebagai media vital, di mana air adalah sumber kehidupan. Jika tidak ada air, maka kita semua tidak akan bisa hidup,” ujar Palguna.



Agama Tirta disebut juga sebagai agama suci. Jika dipaparkan secara etimologi, agama Tirta adalah suatu praktik agama Hindu yang umumnya diamalkan oleh mayoritas suku Bali di Indonesia. Agama Hindu Bali merupakan sinkretisme (penggabungan) kepercayaan Hindu aliran Siwa, Waisnawa, dan Brahma, dengan kepercayaan asli (local genius) suku Bali.


Dikatakannya, dahulu, semua aliran berdiri dengan benderanya masing – masing. Sehingga, ketika itu terjadi perpecahan. Karena adanya pergolakan tersebut, akhirnya diadakan paruman yang disebut Bata Anyar. Pertemuan tersebut dilakukan di Pura Samuan Tiga  yang dipimpin Empu Kuturan.



“Nah, pertemuan tersebutlah yang menjadi tonggak awal lahirnya tatanan berkeagamaan dan berkehidupan di Pulau Bali dengan dasar penyatuan dari semua sekte yang ada dan lahirnya Tri Hita Karana,” ungkapnya. 


Advertisement
Advertisement
Editor : I Putu Suyatra

Artikel Terkait

Tradisi Mapeed Desa Adat Sukawati, Berjalan Beriringan Mendak Tirtha, Ada Sejak Abad ke-18

Tradisi Mapeed Desa Adat Sukawati, Berjalan Beriringan Mendak Tirtha, Ada Sejak Abad ke-18

Tradisi Mapeed hingga kini masih lestari di Desa Adat Sukawati, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Tradisi turun-temurun ini menjadi bagian penting dalam rangkaian piodalan di sejumlah pura sekaligus menjadi bentuk b

Kesenangan

Kesenangan

Salah satu tujuan umat Hindu, dalam ajaran Catur Purusa Arta, adalah Kama yakni pemenuhan keinginan. Setiap orang tentu memiliki keinginan, dan ini adalah sesuatu yang wajar. Hidup tanpa keinginan, sama saja dengan hidup

Kepemimpinan yang Merangkul, Bukan Membelah

Kepemimpinan yang Merangkul, Bukan Membelah

Dinamika era digital dan ketidakpastian global menuntut hadirnya figur pemimpin yang tidak hanya cerdas secara strategis, tetapi juga matang secara etis dan emosional. Salah satu tantangan terbesar kepemimpinan kontempor

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer