alexametrics
30.4 C
Denpasar
Thursday, May 19, 2022

Surya Natah sebagai Pangijeng Rumah

SINGARAJA, BALI EXPRESS -Tak hanya mengungkap Panca Raksa. Dalam Lontar Asta Bhumi juga mengungkap jika Palinggih Surya Natah yang berada di Timur Laut, difungsikan pangijeng natah atau penjaga halaman rumah bagi penghuni tempat tersebut.

Menurut Akademisi STAHN Mpu Kuturan Singaraja, Nyoman Ariyoga, Surya Natah diyakini sebagai pertemuan antara dua kutub energi yaitu energi bapa sebagai akasa (maskulin) dengan energi ibu sebagai pertiwi (feminim). Pertemuan dua kutub energi ini menciptakan (ngreka) kehidupan. Adapun yang menyebutkan palinggih ini sebagai stana dari Sanghyang Siwa Reka

“Surya Natah umumnya ditempatkan di bagian halaman pekarangan. Biasanya diimplementasikan dalam struktur paduraksa dengan menempatkan di bagian hulu pekarangan di masing-masing kepala keluarga, serta memiliki posisi di luar dari karang pamerajan,” sebutnya.

Dalam karang yang sama, akan terdapat satu buah sanggah/merajan yang lengkap, namun dalam situasi masing-masing keluarga kemungkinan akan terdapat lebih dari satu Surya Natah, tergantung jumlah kepala keluarganya.

“Fungsi Surya Natah adalah sebagai pangayatan (pemujaan) Hyang Widhi atau Bhatara-Bhatari yang sangat cocok bagi keluarga dengan lahan yang sempit dan paling terpenting sebagai wujud bakti kepada leluhur tetap bisa dilaksanakan,” ungkapnya.

Dalam Lontar Asta Bhumi juga disebutkan jika Paduraksa dikaitkan dengan posisi-posisi bangunan yang berada di wilayah pekarangan rumah. Seperti disebutkan. Ukuran membangun rumah, dan juga parhyangan, sanggar. Lalu kelilingnya dibagi 8, yang disebut lokasi, yang bertempat pada sudut, disebut Padurakşa.

Padu artinya pertemuan, rakşa artinya tembok. Bertempat di masing-masing penjuru sudut yang disebut Bucu. Yang bertempat di sudut timur laut disebut Sari Rakşa. Yang bertempat di sudut tenggara Aji Rakşa namanya. Yang bertempat di sudut Barat Daya Rudra Raksa namanya. Yang bertempat di sudut Barat Laut Kala Raksa namanya.

Itulah sebagai penjaga pekarangan rumah. Kalau sudah benar ukurannya, itu bagaikan perwujudan Dewata. Segala orang yang bermaksud jahat menjadi sayang, penjahat pencuri takut, segala yang ditanam cepat berhasil, ternak berkembang biak dengan baik. Kalau tidak sesuai ukurannya, sepertinya menjadi rumah Kala, Bhuta, Dengen.

Ia menambahkan bahwa Surya Natah berada pada Siwa Raksa di tengah pekarangan rumah yang mampu memberikan energi positif dan negatif untuk menciptakan alam semesta beserta kehidupan manusia saat ini (ngereka).

“Jadi, inilah bentuk kearifan lokal yang diwariskan para leluhur kita dengan sarat akan makna. Untuk Lontar Asta Bhumi sangat tepat dijadikan pedoman dalam mengatur tata ruang pekarangan, ” pungkasnya.

 


SINGARAJA, BALI EXPRESS -Tak hanya mengungkap Panca Raksa. Dalam Lontar Asta Bhumi juga mengungkap jika Palinggih Surya Natah yang berada di Timur Laut, difungsikan pangijeng natah atau penjaga halaman rumah bagi penghuni tempat tersebut.

Menurut Akademisi STAHN Mpu Kuturan Singaraja, Nyoman Ariyoga, Surya Natah diyakini sebagai pertemuan antara dua kutub energi yaitu energi bapa sebagai akasa (maskulin) dengan energi ibu sebagai pertiwi (feminim). Pertemuan dua kutub energi ini menciptakan (ngreka) kehidupan. Adapun yang menyebutkan palinggih ini sebagai stana dari Sanghyang Siwa Reka

“Surya Natah umumnya ditempatkan di bagian halaman pekarangan. Biasanya diimplementasikan dalam struktur paduraksa dengan menempatkan di bagian hulu pekarangan di masing-masing kepala keluarga, serta memiliki posisi di luar dari karang pamerajan,” sebutnya.

Dalam karang yang sama, akan terdapat satu buah sanggah/merajan yang lengkap, namun dalam situasi masing-masing keluarga kemungkinan akan terdapat lebih dari satu Surya Natah, tergantung jumlah kepala keluarganya.

“Fungsi Surya Natah adalah sebagai pangayatan (pemujaan) Hyang Widhi atau Bhatara-Bhatari yang sangat cocok bagi keluarga dengan lahan yang sempit dan paling terpenting sebagai wujud bakti kepada leluhur tetap bisa dilaksanakan,” ungkapnya.

Dalam Lontar Asta Bhumi juga disebutkan jika Paduraksa dikaitkan dengan posisi-posisi bangunan yang berada di wilayah pekarangan rumah. Seperti disebutkan. Ukuran membangun rumah, dan juga parhyangan, sanggar. Lalu kelilingnya dibagi 8, yang disebut lokasi, yang bertempat pada sudut, disebut Padurakşa.

Padu artinya pertemuan, rakşa artinya tembok. Bertempat di masing-masing penjuru sudut yang disebut Bucu. Yang bertempat di sudut timur laut disebut Sari Rakşa. Yang bertempat di sudut tenggara Aji Rakşa namanya. Yang bertempat di sudut Barat Daya Rudra Raksa namanya. Yang bertempat di sudut Barat Laut Kala Raksa namanya.

Itulah sebagai penjaga pekarangan rumah. Kalau sudah benar ukurannya, itu bagaikan perwujudan Dewata. Segala orang yang bermaksud jahat menjadi sayang, penjahat pencuri takut, segala yang ditanam cepat berhasil, ternak berkembang biak dengan baik. Kalau tidak sesuai ukurannya, sepertinya menjadi rumah Kala, Bhuta, Dengen.

Ia menambahkan bahwa Surya Natah berada pada Siwa Raksa di tengah pekarangan rumah yang mampu memberikan energi positif dan negatif untuk menciptakan alam semesta beserta kehidupan manusia saat ini (ngereka).

“Jadi, inilah bentuk kearifan lokal yang diwariskan para leluhur kita dengan sarat akan makna. Untuk Lontar Asta Bhumi sangat tepat dijadikan pedoman dalam mengatur tata ruang pekarangan, ” pungkasnya.

 


Most Read

Artikel Terbaru

/