alexametrics
27.6 C
Denpasar
Saturday, August 13, 2022

Banyak Pamangku Karauhan, Ngerebong Digelar Seperti Biasa

DENPASAR, BALI EXPRESS – Sudah dua kali upacara Ngerebong di Desa Adat Kesiman dilakukan secara Ngubeng atau terbatas karena pandemi Covid-19. Akibatnya, banyak pemangku yang karauhan ketika berada di rumahnya sendiri maupun ketika keluar dari Pura Petilan Pengerebongan. 

Atas dasar itu, pihak prajuru Desa Adat Kesiman akhirnya melakukan sangkep dan diputuskan Ngerebong akan dilakukan seperti sediakala. Kali ini, Upacara Ngerebong dilakukan pada Pon Redite Medangsia, Minggu (2/5) atau seminggu setelah Hari Raya Kuningan. 

Bendesa Adat Kesiman, I Ketut Wisna saat dihubungi Senin (14) mengatakan, dalam prosesinya nanti dilaksanakan dengan protokol kesehatan (prokes) yang amat ketat. 

“Teknisnya, sebelum prosesi upacara dimulai biasanya dilakukan patirtan dengan membawa langsung pratima ke Pura Musen. Namun, saat ini hanya dilakukan nuur tirta oleh pamangku tanpa membawa pratima. Setelah itu, tirta akan dipercikkan ke pratima yang ditempatkan di Pura Petilan Pengerebongan,” ujar Ketut Wisna.

Baca Juga :  Air Terjun Tukad Cepung Mulai Dibuka, Kodim Bangli Ingatkan Prokes

Nuur Tirta yang dimaksud, yakni akan dilakukan oleh pamangku dan serati banten serta bendesa. Tirta tersebut akan disiratkan oleh pemangku pada pratima. Kemudian, saat prosesi Ngerebong, teknisnya akan dibagi, terutama dalam proses persembahyangan yang dimulai dari pukul 08.00 Wita sampai pukul 10.00 Wita dari krama Desa Kesiman Kertalangu.

Kemudian, pukul 12.00 Wita sampai pukul 14.00 Wita dari Desa Kesiman Petilan, dan terakhir pukul 14.00 Wita sampai pukul 16.00 Wita dari Kelurahan Kesiman. Setelah itu, baru akan dilakukan Ngerebong dengan rangkaian Ngurek dan Ngider Bhuana.

“Persembahyangan akan didahulukan. Kalau dahulu berbarengan persembahyangan dengan prosesi Ngerebong. Jadi, begitu krama selesai sembahyang bisa menunggu di wantilan. Itupun dibatasi maksimal 50 persen dari kapasitas wantilan,” paparnya. 

Baca Juga :  Pura Gede Batur; Tempat Berlindung Pejuang dan Berobat Sekala-Niskala

Kemudian dalam prosesi Ngerebong, yang terlibat juga dibatasi, hanya dua sampai tiga pamangku atau prajuru adat. 

Dalam prosesi itu, juga disiapkan tim medis dari Puskesmas Denpasar Timur (Dentim). Pacalang juga bukan hanya Desa Adat yang terlibat, melainkan semua banjar pengempon. 

Jika dahulu pacalang hanya 60 orang, kini ditambah dengan pacalang yang berasal dari banjar pangempon dengan tujuan bisa mengurai serta mengawasi krama yang berkerumun nantinya. 


DENPASAR, BALI EXPRESS – Sudah dua kali upacara Ngerebong di Desa Adat Kesiman dilakukan secara Ngubeng atau terbatas karena pandemi Covid-19. Akibatnya, banyak pemangku yang karauhan ketika berada di rumahnya sendiri maupun ketika keluar dari Pura Petilan Pengerebongan. 

Atas dasar itu, pihak prajuru Desa Adat Kesiman akhirnya melakukan sangkep dan diputuskan Ngerebong akan dilakukan seperti sediakala. Kali ini, Upacara Ngerebong dilakukan pada Pon Redite Medangsia, Minggu (2/5) atau seminggu setelah Hari Raya Kuningan. 

Bendesa Adat Kesiman, I Ketut Wisna saat dihubungi Senin (14) mengatakan, dalam prosesinya nanti dilaksanakan dengan protokol kesehatan (prokes) yang amat ketat. 

“Teknisnya, sebelum prosesi upacara dimulai biasanya dilakukan patirtan dengan membawa langsung pratima ke Pura Musen. Namun, saat ini hanya dilakukan nuur tirta oleh pamangku tanpa membawa pratima. Setelah itu, tirta akan dipercikkan ke pratima yang ditempatkan di Pura Petilan Pengerebongan,” ujar Ketut Wisna.

Baca Juga :  Taman Gumi Banten Perlahan Atasi Sulitnya Sarana Ritual

Nuur Tirta yang dimaksud, yakni akan dilakukan oleh pamangku dan serati banten serta bendesa. Tirta tersebut akan disiratkan oleh pemangku pada pratima. Kemudian, saat prosesi Ngerebong, teknisnya akan dibagi, terutama dalam proses persembahyangan yang dimulai dari pukul 08.00 Wita sampai pukul 10.00 Wita dari krama Desa Kesiman Kertalangu.

Kemudian, pukul 12.00 Wita sampai pukul 14.00 Wita dari Desa Kesiman Petilan, dan terakhir pukul 14.00 Wita sampai pukul 16.00 Wita dari Kelurahan Kesiman. Setelah itu, baru akan dilakukan Ngerebong dengan rangkaian Ngurek dan Ngider Bhuana.

“Persembahyangan akan didahulukan. Kalau dahulu berbarengan persembahyangan dengan prosesi Ngerebong. Jadi, begitu krama selesai sembahyang bisa menunggu di wantilan. Itupun dibatasi maksimal 50 persen dari kapasitas wantilan,” paparnya. 

Baca Juga :  PHDI Bali Imbau Umat Hindu Nyejer Pejati Berisi Benang Tridatu Besok

Kemudian dalam prosesi Ngerebong, yang terlibat juga dibatasi, hanya dua sampai tiga pamangku atau prajuru adat. 

Dalam prosesi itu, juga disiapkan tim medis dari Puskesmas Denpasar Timur (Dentim). Pacalang juga bukan hanya Desa Adat yang terlibat, melainkan semua banjar pengempon. 

Jika dahulu pacalang hanya 60 orang, kini ditambah dengan pacalang yang berasal dari banjar pangempon dengan tujuan bisa mengurai serta mengawasi krama yang berkerumun nantinya. 


Most Read

Artikel Terbaru

/