alexametrics
28.7 C
Denpasar
Monday, May 16, 2022

Begini Cerita Dua Wanita yang Nyuwun Pajegan 2,5 Meter di Pura Samuantiga

GIANYAR, BALI EXPRESS – Dua sosok wanita pengusung pajegan setinggi 2,5 meter saat Pujawali Bhatara Turun Kabeh di Pura Samuantiga, Bedulu, viral di media sosial.

Dua wanita tersebut ternyata Ni Wayan Siki  dan Gusti Ayu Nyoman Mudiani. Kedua Sri Kandi dari Desa Bedulu ini mengusung pajegan dari rumah masing-masing yang berjarak sekitar 2 kilometer dari Pura Samuantiga.

Gusti Ayu Nyoman Mudiani mengaku konsisten menjalankan tradisi nyuwun Banten Pajegan setinggi 2,5 meter setiap Pujawali Ida Bhatara Turun Kabeh di Kahyangan Jagat Pura Samuantiga, Desa Pakraman Bedulu, Kecamatan Blahbatuh, Gianyar.

Seperti tampak pada Redite Pon Kulantir, Minggu (17/4) sekitar pukul 10.00 Wita. Banten seberat 50 kilogram tersebut dijunjung sejauh hampir 2 kilometer tanpa lepas tangan. Butuh waktu 30 menit membawa pajegan tersebut dari rumahnya di Banjar Batulumbang menuju Pura Samuantiga.

Gusti Nyoman Mudiani mengatakan, ada teknik khusus untuk nyuwun Banten Pajegan ini, yakni harus mengetahui arah angin agar Banten tetap seimbang.

Syukurnya, setiap kali nyuwun, Banten Pajegan tinggi ini tidak pernah sampai jatuh. Dia percaya, saat nyandang banten ada kekuatan ekstra yang dirasakan.

Namun untuk antisipasi, selama perjalanan menuju pura, Gusti Nyoman Mudiani dikawal anak-anaknya, hanya untuk jaga-jaga.

Istri Bendesa Adat Bedulu Gusti Ngurah Serana ini mencatat sudah 26 kali nyuwun Banten Pajegan dengan ciri khas berisi susunan 9 ayam panggang. Ini berarti Gusti Nyoman Mudiani sudah 26 tahun nyuwun pajegan, sebab pujawali digelar setiap satu tahun sekali. Hal ini sudah dilakukannya sejak masih duduk di bangku SMA.

Dia menjelaskan, Pajegan yang diusung rata-rata memiliki berat sekitar 50 kilogram. Terdiri dari susunan buah, jajan Bali seperti Satuh, Iwel, Catut, Taluh Kakul. Dan yang paling khas dari banten pajegan di Bedulu adalah berisi 9 ayam panggang.

Gusti Nyoman Mudiani yang saat ini menjabat Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Bedulu ini tidak sendiri menjalankan tradisi ini, tetapi bersama Ni Wayan Siki.

Hal senada juga diungkapkan oleh Ni Wayan Siki. Menurutnya, ada rasa bangga ketika dia mampu mewujudkan ikhtiarnya. Dia merasa menjadi wanita seutuhnya ketika bisa menjalankan amanat leluhur untuk tradisi tersebut tetap lestari.

Terlebih puncak karya bertepatan dengan momentum Hari Kartini, semangatnya pun berlipat dan berganda.

Mereka mengaku bangga menjadi wanita Bali yang mampu mengajegkan budaya.

Seperti diketahui, Pujawali di Kahyangan Jagat Pura Samuantiga, Desa Pakraman Bedulu, Kecamatan Blahbatuh, Gianyar digelar setahun sekali setiap Purnama Jiyesta. Tahun ini puncak Pujawali jatuh pada Saniscara Paing Ukir bertepatan dengan Purnama Jiyesta, Sabtu (16/4) dan nyejer selama 11 hari. (her)






Reporter: Wiwin Meliana

GIANYAR, BALI EXPRESS – Dua sosok wanita pengusung pajegan setinggi 2,5 meter saat Pujawali Bhatara Turun Kabeh di Pura Samuantiga, Bedulu, viral di media sosial.

Dua wanita tersebut ternyata Ni Wayan Siki  dan Gusti Ayu Nyoman Mudiani. Kedua Sri Kandi dari Desa Bedulu ini mengusung pajegan dari rumah masing-masing yang berjarak sekitar 2 kilometer dari Pura Samuantiga.

Gusti Ayu Nyoman Mudiani mengaku konsisten menjalankan tradisi nyuwun Banten Pajegan setinggi 2,5 meter setiap Pujawali Ida Bhatara Turun Kabeh di Kahyangan Jagat Pura Samuantiga, Desa Pakraman Bedulu, Kecamatan Blahbatuh, Gianyar.

Seperti tampak pada Redite Pon Kulantir, Minggu (17/4) sekitar pukul 10.00 Wita. Banten seberat 50 kilogram tersebut dijunjung sejauh hampir 2 kilometer tanpa lepas tangan. Butuh waktu 30 menit membawa pajegan tersebut dari rumahnya di Banjar Batulumbang menuju Pura Samuantiga.

Gusti Nyoman Mudiani mengatakan, ada teknik khusus untuk nyuwun Banten Pajegan ini, yakni harus mengetahui arah angin agar Banten tetap seimbang.

Syukurnya, setiap kali nyuwun, Banten Pajegan tinggi ini tidak pernah sampai jatuh. Dia percaya, saat nyandang banten ada kekuatan ekstra yang dirasakan.

Namun untuk antisipasi, selama perjalanan menuju pura, Gusti Nyoman Mudiani dikawal anak-anaknya, hanya untuk jaga-jaga.

Istri Bendesa Adat Bedulu Gusti Ngurah Serana ini mencatat sudah 26 kali nyuwun Banten Pajegan dengan ciri khas berisi susunan 9 ayam panggang. Ini berarti Gusti Nyoman Mudiani sudah 26 tahun nyuwun pajegan, sebab pujawali digelar setiap satu tahun sekali. Hal ini sudah dilakukannya sejak masih duduk di bangku SMA.

Dia menjelaskan, Pajegan yang diusung rata-rata memiliki berat sekitar 50 kilogram. Terdiri dari susunan buah, jajan Bali seperti Satuh, Iwel, Catut, Taluh Kakul. Dan yang paling khas dari banten pajegan di Bedulu adalah berisi 9 ayam panggang.

Gusti Nyoman Mudiani yang saat ini menjabat Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Bedulu ini tidak sendiri menjalankan tradisi ini, tetapi bersama Ni Wayan Siki.

Hal senada juga diungkapkan oleh Ni Wayan Siki. Menurutnya, ada rasa bangga ketika dia mampu mewujudkan ikhtiarnya. Dia merasa menjadi wanita seutuhnya ketika bisa menjalankan amanat leluhur untuk tradisi tersebut tetap lestari.

Terlebih puncak karya bertepatan dengan momentum Hari Kartini, semangatnya pun berlipat dan berganda.

Mereka mengaku bangga menjadi wanita Bali yang mampu mengajegkan budaya.

Seperti diketahui, Pujawali di Kahyangan Jagat Pura Samuantiga, Desa Pakraman Bedulu, Kecamatan Blahbatuh, Gianyar digelar setahun sekali setiap Purnama Jiyesta. Tahun ini puncak Pujawali jatuh pada Saniscara Paing Ukir bertepatan dengan Purnama Jiyesta, Sabtu (16/4) dan nyejer selama 11 hari. (her)






Reporter: Wiwin Meliana

Most Read

Artikel Terbaru

/