Minggu, 24 Oct 2021
Bali Express
Home / Balinese
icon featured
Balinese
Makanan Tradisional dalam Prasasti Bali Kuna

Pengolahan Makanan untuk Ritual Keagamaan

19 Agustus 2021, 07: 20: 16 WIB | editor : Nyoman Suarna

Pengolahan Makanan untuk Ritual Keagamaan

Luh Suwita Utami, SS. M.Si dari Balai Arkeologi Denpasar (istimewa)

Share this      

Beberapa jenis makanan yang disebutkan dalam prasasti Bali Kuna, dalam hal ini prasasti yang menyebutkan desa-desa sekitar Danau Batur tidak memberikan keterangan yang lengkap tentang pengolahan makanan oleh masyarakat.

Luh Suwita Utami, mengatakan, dalam prasasti Batur Pura Abang A (933 Saka), Prasasti Turunyan AI, dan prasasti Turunyan B tentang adanya makanan yang dijadikan sebagai persembahan dalam bentuk dipepes dan dikeringkan. Ini sebagai  bukti bahwa masyarakat telah melakukan pengolahan makanan.

“Pengolahan makanan bertujuan untuk pengawetan, agar makanan tidak mudah rusak dan dapat disimpan untuk dapat digunakan pada waktu-waktu tertentu,” imbuhnya.

Baca juga: Bulu Gagak Nunas di Pura Alas Harum, Hanya Ada Enam di Bali

Makanan, terutama makanan berbahan ikan, dalam prasasti Bali Kuna disebut ada dua jenis pengolahan, yaitu: dimasak dengan cara dipepes, dan dengan cara dikeringkan. Pepes adalah pengolahan ikan dengan cara menambahkan berbagai jenis bumbu dan memasaknya dengan cara mengukus.

Sedangkan pengeringan adalah mengolah dengan cara membuat makanan menjadi kering dengan kadar air yang serendah mungkin dengan cara dijemur, dan dipanaskan. Pengolahan makanan dengan cara dipepes menjadikan makanan, terutama ikan, menjadi lebih kaya rasa.

Namun pengolahan ikan dengan cara ini tidak menjadikan ikan dapat bertahan lebih lama daripada ikan yang dikeringkan. “Hal yang menarik tentang pengolahan bahan makanan, adalah adanya penyebutan beberapa jenis bahan bumbu-bumbuan di dalam prasasti,” katanya.

Penyebutan ini berkaitan erat dengan adanya pengolahan makanan dengan cara dipepes. Prasasti Turunan B memberi keterangan bahwa untuk upacara Bhatara di Turunan pada setiap hari ke-5 bulan separuh gelap pada bulan Asuji masyarakat Desa Air Rawang dipunguti bumbu atau diwajibkan untuk mamek base (membuat bumbu).

Jenis bahan bumbu-bumbuan yang disebutkan adalah bawang merah, jahe, kapulaga, dan kemiri. Pada prasasti Batur, Pura Tulukbyu A disebutkan tentang adanya bawang merah dan jahe yang ditanam di wilayah perburuan yang dianugrahkan oleh raja. Bahkan pohon kapulaga dan kemiri adalah jenis pohon yang termasuk dalam jenis-jenis pohon yang jika ditebang oleh

Sebagaimana termuat dalam prasasti Turunyan AI (813 Saka), tempat suci yang disebutkan untuk dipersembahkan aneka jenis makanan itu adalah Sang Hyang I Turuñan pada bulan

Dalam Lontar Dharma Caruban, disebutkan makanan yang dipergunakan dalam upacara diolah dengan cara dikeringkan, yang dilembabkan dan diencerkan. Jenis makanan yang diolah dikeringkan seperti sate, gorengan, brengkes, urutan, lepet, dan gubah.

Jenis makanan yang dilembabkan adalah lawar, tum, balung, timbungan, oret dan semuuk. Sedangkan jenis makanan yang diencerkan adalah kekomoh dan ares. 

Selain makanan yang telah diolah seperti di atas, juga terdapat makanan yang diolah dengan cara dimatangkan dalam keadaan utuh tidak dipotong-potong, cara memasak atau mengolahnya adalah dengan cara ditutup, dipanggang dan diguling.

Dalam prasasti Bali aspek sosial ini terlihat pada prasasti Turunan B yang memberikan keterangan bahwa pada petugas lampuran bungsu diberikan persembahan makanan dan tuak 20 guci. Prasasti Batur Pura Abang A (933 Saka) juga disebutkan aspek sosial yang berkaitan dengan makanan, yaitu tentang pemberian makanan kepada petugas yang mengawinkan kuda berupa nasi, ikan, dan tuak.

Tidak menutup kemungkinan jika komoditas perdagangan yang berupa bumbu-bumbuan juga diperjualbelikan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dalam pengolahan bahan makanan, sebagaimana termuat dalam prasasti Turunan B dan Sangsit A (980 Saka).

Sebagaimana disebutkan di atas bahwa masyarakat diwajibkan untuk mempersembahkan beberapa jenis bumbu. Dapat dikatakan jika selain hasil pertanian diperdagangkan pula berbagai jenis hasil peternakan seperti itik, kambing, ayam, dan babi. “Dimana komoditas perdagangan ini diambil dagingnya untuk digunakan sebagai bahan lauk pauk dan persembahan,” pungkasnya. (habis)

(bx/dik/man/JPR)

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
Facebook Twitter Instagram YouTube
©2021 PT. JawaPos Group Multimedia