alexametrics
27.8 C
Denpasar
Wednesday, June 29, 2022

Desa Adat Sading Garap Tari Jaya Raksaka Banwa untuk Maskot Desa

MANGUPURA, BALI EXPRESS— Untuk mempererat persatuan antarmasyarakat, Desa Adat Sading, Kecamatan Mengwi, Badung rencananya menggarap tari maskot desa Tari Jaya Raksaka Banwa.

Tari Jaya Raksaka Banwa ini, sesuai dengan motto Desa Adat Sading, juga untuk menambah kegiatan positif para generasi muda.

Bendesa Adat Sading Ketut Sudiarsa mengatakan, tarian ini akan menjadi maskot Desa Sading. Dalam pembuatan ikon desa adat ini pun akan menonjolkan nilai seni dan budaya. Sehingga dalam penggarapan tari akan menggandeng lulusan sarjana seni yang memang berasal dari desa setempat.

“Jadi, tujuan saya menggarap sebuah tari maskot ini karena saya memiliki anak-anak yang lulusan sarjana seni. Kemudian yang kedua untuk memberikan kegiatan positif pada generasi muda,” ujar Sudiarsa saat dikonfirmasi Kamis (19/5).

Menurutnya, tarian ini rencananya akan dipentaskan oleh laki-laki dan perempun yang jumlahnya sekitar 50 penari. Tarian tersebut akan menceritakan ksatria yang membela kebenaran.

“Sesuai dengan nama tari yakni Jaya Raksaka Banwa yang memiliki arti ksatria yang membela kebenaran untuk selamanya, nantinya jalan cerita juga seperti itu. Kemudian juga akan ada cerita peperangan di dalamnya,” ungkapnya.

Makna dan jalannya cerita dalam tarian tersebut, terang Sudiarsa, akan mengikuti kisah berdirinya Desa Adat Sading. Sebab dahulunya sebelum bernama Sading sempat ada peperangan yang terjadi, yang akhirnya menyebabkan seluruh krama desa melarikan diri ke daerah Tabanan. Namun, hanya ada satu KK saja yang enggan mengungsi.

“Adanya Sading ini sebenarnya berawal dari cerita Bantiran. Jadi dahulunya bukan Sading namanya, tapi Bantiran. Dahulu juga ada suatu peperangan dan hanya satu kepala keluarga (KK) yang tinggal, sisanya sudah melarikan diri ke Desa Bantiran, Pupuan, Tabanan. Itu semuanya orang Sading,” terangnya.

Dikatakannya, Desa Bantiran sudah ada sejak tahun 750 dan berubah menjadi Sading pada tahun 1050.  “Rencananya bulan November atau Desember, kami akan melaksanakan pagelaran tari maskot.  Penyusunan tari ini juga akan dibantu oleh 13 banjar. Kami ingin mengembalikan citra Sading yang sudah terkenal,” pungkasnya.

 






Reporter: I Putu Resa Kertawedangga

MANGUPURA, BALI EXPRESS— Untuk mempererat persatuan antarmasyarakat, Desa Adat Sading, Kecamatan Mengwi, Badung rencananya menggarap tari maskot desa Tari Jaya Raksaka Banwa.

Tari Jaya Raksaka Banwa ini, sesuai dengan motto Desa Adat Sading, juga untuk menambah kegiatan positif para generasi muda.

Bendesa Adat Sading Ketut Sudiarsa mengatakan, tarian ini akan menjadi maskot Desa Sading. Dalam pembuatan ikon desa adat ini pun akan menonjolkan nilai seni dan budaya. Sehingga dalam penggarapan tari akan menggandeng lulusan sarjana seni yang memang berasal dari desa setempat.

“Jadi, tujuan saya menggarap sebuah tari maskot ini karena saya memiliki anak-anak yang lulusan sarjana seni. Kemudian yang kedua untuk memberikan kegiatan positif pada generasi muda,” ujar Sudiarsa saat dikonfirmasi Kamis (19/5).

Menurutnya, tarian ini rencananya akan dipentaskan oleh laki-laki dan perempun yang jumlahnya sekitar 50 penari. Tarian tersebut akan menceritakan ksatria yang membela kebenaran.

“Sesuai dengan nama tari yakni Jaya Raksaka Banwa yang memiliki arti ksatria yang membela kebenaran untuk selamanya, nantinya jalan cerita juga seperti itu. Kemudian juga akan ada cerita peperangan di dalamnya,” ungkapnya.

Makna dan jalannya cerita dalam tarian tersebut, terang Sudiarsa, akan mengikuti kisah berdirinya Desa Adat Sading. Sebab dahulunya sebelum bernama Sading sempat ada peperangan yang terjadi, yang akhirnya menyebabkan seluruh krama desa melarikan diri ke daerah Tabanan. Namun, hanya ada satu KK saja yang enggan mengungsi.

“Adanya Sading ini sebenarnya berawal dari cerita Bantiran. Jadi dahulunya bukan Sading namanya, tapi Bantiran. Dahulu juga ada suatu peperangan dan hanya satu kepala keluarga (KK) yang tinggal, sisanya sudah melarikan diri ke Desa Bantiran, Pupuan, Tabanan. Itu semuanya orang Sading,” terangnya.

Dikatakannya, Desa Bantiran sudah ada sejak tahun 750 dan berubah menjadi Sading pada tahun 1050.  “Rencananya bulan November atau Desember, kami akan melaksanakan pagelaran tari maskot.  Penyusunan tari ini juga akan dibantu oleh 13 banjar. Kami ingin mengembalikan citra Sading yang sudah terkenal,” pungkasnya.

 






Reporter: I Putu Resa Kertawedangga

Most Read

Artikel Terbaru

/