alexametrics
24.8 C
Denpasar
Thursday, May 26, 2022

Tradisi Miardura Bukti Gigihnya Warga Cangwang

AMLAPURA, BALI EXPRESS – Ada tujuh rangkaian atau tingkatan pelaksanaan piodalan tiap tahun di Pura Puseh dan Bale Agung, Banjar Adat Cangwang, Desa Bunutan, Kecamatan Abang, Karangasem, yang dilaksanakan setiap Purnamaning Sasih Kapat. Salah satunya tradisi Miardura, yang menjadi puncak tahapan piodalan, yang  dilaksanakan ketika Ngusaba Gede.

Kelian Adat Banjar Cangwang Jro Wayan Madiana menegaskan, makna tradisi Miardura tak disuratkan jelas dalam lontar. Tapi, dapat diartikan sebagai pergulatan masyarakat Cangwang pada zaman dahulu. Beragam persoalan disebut kerap dihadapi. Tradisi itu juga sebagai simbol keteguhan dan kegigihan masyarakatnya. 

Simbol kegigihan dan keteguhan itu dapat disaksikan saat para teruna (pemuda ) teruni (pemudi) banjar setempat melakoni Miardura. Mereka akan terbagi ke dalam dua kelompok, laki dan perempuan. Keseruan akan tersaji saat kedua kelompok Madu Tanggul atau seperti ‘berperang, mengadu bendera kecil yang dimiliki masing-masing kelompok. 

Jro Madiana menjelaskan, tradisi Miardura wajib dipentaskan saat Ngusaba Gede. Pelaksanaannya tidak diatur khusus, melainkan mengikuti rentetan upacara di Pura Puseh Bale Agung. Biasanya Miardura dimulai saat menjelang petang atau bagian akhir, setelah persembahan sarana atau banten piodalan usai dihaturkan. 

Krama atau masyarakat akan berkumpul di area madya mandala. Sementara itu, dua kelompok pemuda perempuan dan laki-laki itu sudah bersiap dan berbaris di antara sekat. “Jumlahnya tidak ditentukan khusus. Yang jelas disesuaikan berapa jumlah teruna-teruni di banjar,” kata Madiana. 

Setelah semua siap, prosesi diawali dengan menyenandungkan kidung Miardura. Para pemuda yang mengenakan kain serba putih-kuning itu akan menembangkan nyanyian berbahasa Bali itu secara bergilir. Dimulai pihak teruni lalu disusul pihak teruna dan terus seperti itu. “Mereka mecacad-cacadan (saling mencela), tapi ada juga yang bermakna menegaskan. Intinya terkandung semangat untuk jengah,” imbuhnya. 

Nyanyian itu juga diiringi gong atau tabuh Baleganjur. Suasana semakin seru setelah kedua kelompok berbalas umpatan. Masyarakat yang menonton sesekali juga bersorak, membuat energi kian memanas. Saat itu, Madu Tanggul atau saling adu  bendera (kober) dimulai. Siapa yang benderanya lepas, dia disebut kalah. 

Ada pemangku yang akan mengamati jalannya tradisi. Pengamat ini layaknya wasit dalam pertandingan. Saat kedua kelompok adu bendera, suara tabuh Baleganjur juga bergemuruh. “Pemangku yang menentukan nanti siapa yang kalah,” ucapnya. 

Soal Madu Tanggul, tiap kelompok menyiapkan semacam umbul-umbul kecil sebanyak empat buah. Warnanya harus putih kuning. Untuk nyanyiannya, tak sembarang orang boleh menembang atau menyanyikannya. Itu hanya boleh dinyanyikan saat prosesi berlangsung. Nyanyian itu juga boleh dinyayikan saat latihan. Jadi para pemuda itu baru menembangkan nyanyian sakral tersebut saat latihan maupun pentas. 

“Kami sudah meyakini itu secara turun-temurun. Memang tidak boleh dinyanyikan sembarangan. Hanya bisa saat prosesi dan beberapa hari jelang dilaksanakan (latihan). Ada jro mangku dan saya mendampingi,” tuturnya. 

Menurutnya, tradisi itu memang tak bisa dilepaskan dari rangkaian upacara yang berlangsung selama piodalan di Pura Puseh dan Bale Agung. Di sisi lain, Ngusaba Gede dan rentetan lainnya juga dilaksanakan, tergantung dari kemampuan ekonomi masyarakat menggelar upacara. 

Sesuai catatan lontar, kata Jro Madiana, piodalan dilaksanakan tiap Purnamaning Sasih Kapat. Sedangkan tahapan piodalan tiap tahunnya ada tujuh. Piodalan tahun pertama disebut Ngerebus Ari, tahun kedua disebut Neker, tahun ketiga Sekordi. Neduh pada tahun keempat, Nguyuh pada tahun keenam, Ngusaba Gede tahun ketujuh atau puncak dari semua rangkaian, dan terakhir Ngusaba Empying. 

Dikatakannya, dalam lontar, Usaba dianjurkan dilaksanakan pada Purnamaning Sasih Kapat dan tetap aturan itu tidak baku. Jika masyarakat tidak mampu, wajib memohon kepada Ida Bhatara yang malingga (berstana) di Pura Puseh Bale Agung atau Kahyangan Tiga. Bahwa upacara dilaksanakan pada bulan selanjutnya, misalnya Sasih Kalima dan Kadasa. Jika masih ada hambatan, bisa dilaksanakan di Pangelong. “Karena upacaranya bisa saja digeser di bulan selanjutnya, tergantung kemampuan masyarakat, membuat pelaksanaan tradisi Miardura tidak menentu,” pungkasnya. 


AMLAPURA, BALI EXPRESS – Ada tujuh rangkaian atau tingkatan pelaksanaan piodalan tiap tahun di Pura Puseh dan Bale Agung, Banjar Adat Cangwang, Desa Bunutan, Kecamatan Abang, Karangasem, yang dilaksanakan setiap Purnamaning Sasih Kapat. Salah satunya tradisi Miardura, yang menjadi puncak tahapan piodalan, yang  dilaksanakan ketika Ngusaba Gede.

Kelian Adat Banjar Cangwang Jro Wayan Madiana menegaskan, makna tradisi Miardura tak disuratkan jelas dalam lontar. Tapi, dapat diartikan sebagai pergulatan masyarakat Cangwang pada zaman dahulu. Beragam persoalan disebut kerap dihadapi. Tradisi itu juga sebagai simbol keteguhan dan kegigihan masyarakatnya. 

Simbol kegigihan dan keteguhan itu dapat disaksikan saat para teruna (pemuda ) teruni (pemudi) banjar setempat melakoni Miardura. Mereka akan terbagi ke dalam dua kelompok, laki dan perempuan. Keseruan akan tersaji saat kedua kelompok Madu Tanggul atau seperti ‘berperang, mengadu bendera kecil yang dimiliki masing-masing kelompok. 

Jro Madiana menjelaskan, tradisi Miardura wajib dipentaskan saat Ngusaba Gede. Pelaksanaannya tidak diatur khusus, melainkan mengikuti rentetan upacara di Pura Puseh Bale Agung. Biasanya Miardura dimulai saat menjelang petang atau bagian akhir, setelah persembahan sarana atau banten piodalan usai dihaturkan. 

Krama atau masyarakat akan berkumpul di area madya mandala. Sementara itu, dua kelompok pemuda perempuan dan laki-laki itu sudah bersiap dan berbaris di antara sekat. “Jumlahnya tidak ditentukan khusus. Yang jelas disesuaikan berapa jumlah teruna-teruni di banjar,” kata Madiana. 

Setelah semua siap, prosesi diawali dengan menyenandungkan kidung Miardura. Para pemuda yang mengenakan kain serba putih-kuning itu akan menembangkan nyanyian berbahasa Bali itu secara bergilir. Dimulai pihak teruni lalu disusul pihak teruna dan terus seperti itu. “Mereka mecacad-cacadan (saling mencela), tapi ada juga yang bermakna menegaskan. Intinya terkandung semangat untuk jengah,” imbuhnya. 

Nyanyian itu juga diiringi gong atau tabuh Baleganjur. Suasana semakin seru setelah kedua kelompok berbalas umpatan. Masyarakat yang menonton sesekali juga bersorak, membuat energi kian memanas. Saat itu, Madu Tanggul atau saling adu  bendera (kober) dimulai. Siapa yang benderanya lepas, dia disebut kalah. 

Ada pemangku yang akan mengamati jalannya tradisi. Pengamat ini layaknya wasit dalam pertandingan. Saat kedua kelompok adu bendera, suara tabuh Baleganjur juga bergemuruh. “Pemangku yang menentukan nanti siapa yang kalah,” ucapnya. 

Soal Madu Tanggul, tiap kelompok menyiapkan semacam umbul-umbul kecil sebanyak empat buah. Warnanya harus putih kuning. Untuk nyanyiannya, tak sembarang orang boleh menembang atau menyanyikannya. Itu hanya boleh dinyanyikan saat prosesi berlangsung. Nyanyian itu juga boleh dinyayikan saat latihan. Jadi para pemuda itu baru menembangkan nyanyian sakral tersebut saat latihan maupun pentas. 

“Kami sudah meyakini itu secara turun-temurun. Memang tidak boleh dinyanyikan sembarangan. Hanya bisa saat prosesi dan beberapa hari jelang dilaksanakan (latihan). Ada jro mangku dan saya mendampingi,” tuturnya. 

Menurutnya, tradisi itu memang tak bisa dilepaskan dari rangkaian upacara yang berlangsung selama piodalan di Pura Puseh dan Bale Agung. Di sisi lain, Ngusaba Gede dan rentetan lainnya juga dilaksanakan, tergantung dari kemampuan ekonomi masyarakat menggelar upacara. 

Sesuai catatan lontar, kata Jro Madiana, piodalan dilaksanakan tiap Purnamaning Sasih Kapat. Sedangkan tahapan piodalan tiap tahunnya ada tujuh. Piodalan tahun pertama disebut Ngerebus Ari, tahun kedua disebut Neker, tahun ketiga Sekordi. Neduh pada tahun keempat, Nguyuh pada tahun keenam, Ngusaba Gede tahun ketujuh atau puncak dari semua rangkaian, dan terakhir Ngusaba Empying. 

Dikatakannya, dalam lontar, Usaba dianjurkan dilaksanakan pada Purnamaning Sasih Kapat dan tetap aturan itu tidak baku. Jika masyarakat tidak mampu, wajib memohon kepada Ida Bhatara yang malingga (berstana) di Pura Puseh Bale Agung atau Kahyangan Tiga. Bahwa upacara dilaksanakan pada bulan selanjutnya, misalnya Sasih Kalima dan Kadasa. Jika masih ada hambatan, bisa dilaksanakan di Pangelong. “Karena upacaranya bisa saja digeser di bulan selanjutnya, tergantung kemampuan masyarakat, membuat pelaksanaan tradisi Miardura tidak menentu,” pungkasnya. 


Most Read

Artikel Terbaru

/