alexametrics
27.6 C
Denpasar
Tuesday, August 9, 2022

Sebagai Lambang Siwa, Tunjung Rajanya Bunga

BULELENG, BALI EXPRESS – Bunga menjadi sarana yang wajib ada dalam berbagai ritual atau upacara yadnya umat Hindu di Bali. Bunga memiliki peranan yang sangat penting untuk kelengkapan dan kesempurnaan suatu yadnya. Sarana ini pun sudah diatur dalam berbagai pustaka suci Hindu.

Serati Banten Jro Ketut Utara mengatakan, bunga menjadi sarana yang penting digunakan dalam yadnya selain air, api, air, buah-buahan dan dedaunan.

Keutamaan bunga disebutkan dalam mantra Wedaparikrama. Dimana, ada mantra untuk puspa aksata dan gandha, masing-masing berbunyi sebagai berikut : Om Puspa-dantaya namah (puspa). Om kum Kumara wijaya naham (akcala). Om Cri gandhecwari-amertebhyo namah swaha (gandha).

Artinya : Yang dimaksud dengan puspa-danta ialah Siwa, gelar diberikan kepada Siwa. Dan mantra tersebut penggunaan kembang atau bunga bukan lagi sebagai alat, tetapi sebagai lambang Siwa yang tidak berbeda daripada-Nya.

Dalam Lontar Wariga Gemet, ada juga menjelaskan tentang bunga yang dibolehkan sebagai sarana upacara agama (upacara penebusan atma) serangkaian dengan upacara Pitra Yadnya yakni bunga jepun, sari, sincer, pucuk pasat, tulud nyuh, kwanta, soka keling, kenyeri putih, gambir lima, kabari walanda syulan, tiga kancu.

Kemudian bunga sedap malam, anggrek wulan, karmrakan, gunggung cina, mawar, pucuk dadu, tunjung bang, jepun sudamala, seruni putih, anggrek madu, sarikonta, temen, sempol, pucuk susun, soka natar, kuranta, kembang kuning, cempaka keling, bunga gambir, tunjung, lungsur, panca galuh, grayas, sandat, sokasti, cempaka kuning.

Baca Juga :  Ngantor di Desa Mundeh, Sanjaya Bagi Bantuan ke Warga Terdampak

Selanjutnya, cempaka putih, katrangan, bunga parijata, pucuk bang lamba, teleng biru, menuh susun, angsana wungu, teleng putih, dause gde, medori putih, sulasih harum, tunjung tutur, sudhamala, tunjung nilawati, grana petak, gadung dan bunga monasuli ergilo.

Sedangkan dalam Naskah Siwagama, ditegaskan beberapa bunga yang dibolehkan untuk digunakan sebagai sarana upacara yadnya. Terutama untuk membuat Puspalingga.

“Bunga ini digunakan sebagai sarana untuk memuja upacara Pitara dan roh suci leluhur, terutama dalam upacara Atma Wedana (Mamukur atau Nyekah), antara lain bunga medori putih dan bambu buluh,” jelasnya.

Begitu juga dalam naskah Dasanama, menyebutkan tentang bunga yang memiliki mutu yang baik yang hendaknya dipilih sebagai sarana upacara yadnya. Bunga tersebut adalah tunjung (bunga teratai).

Bunga tunjung dikatakan bunga yang terbaik. Sering disebut Raja Kusuma atau rajanya bunga-bungaan. Ditegaskan pula, apabila bunga tunjung tidak ada, maka dapat pula memakai bunga jenis yang lainnya, asalkan bunga penggantinya memiliki warna yang sesuai, suci, bersih dan tidak layu.

Dalam Kidung Aji Kembang bahwa Dewata Nawa Sanga, bunga tunjung yang berwarna sembilan sesuai dengan arah Asta Aiswarya atau Asta Dala, seperti Dewa Iswara arah timur dengan lambang bunga tunjung putih.

Baca Juga :  Sembahyang di Catuspata Setiap Hari Raya Kuningan

Dewa Mahesora arah tenggara dengan lambang bunga tunjung dadu, Dewa Brahma arah selatan dengan lambang bunga tunjung merah, Dewa Rudra arah barat daya dengan lambang bunga tunjung jingga.

Dewa Mahadewa arah barat dengan lambang bunga tunjung kuning, Dewa Sangkara arah barat laut dengan lambang bunga tunjung wilis atau bunga tunjung hijau, Dewa Wisnu arah utara dengan lambang bunga tunjung hitam.

Kemudian Dewa Sambhu arah timur laut dengan lambang bunga tunjung biru, dan Dewa Siwa di tengah dengan lambang bunga tunjung lima warna atau panca warna.

“Dalam naskah Dwijendra Tattwa menjelaskan bunga teratai yang berwarna tiga, seperti bunga teratai warna putih pada arah timur, bunga teratai warna hitam arah utara, dan bunga teratai warna merah arah selatan. Ketiga jenis bunga teratai tersebut sebagai lambang Sang Hyang Tri Murti,” terangnya.

Di samping itu ada juga jenis bunga yang memiliki nilai yang utama dalam upacara yadnya adalah bunga ratna. “Bunga ini dijadikan sarana memuja Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam upacara keagamaan,” paparnya.

 






Reporter: I Putu Mardika

BULELENG, BALI EXPRESS – Bunga menjadi sarana yang wajib ada dalam berbagai ritual atau upacara yadnya umat Hindu di Bali. Bunga memiliki peranan yang sangat penting untuk kelengkapan dan kesempurnaan suatu yadnya. Sarana ini pun sudah diatur dalam berbagai pustaka suci Hindu.

Serati Banten Jro Ketut Utara mengatakan, bunga menjadi sarana yang penting digunakan dalam yadnya selain air, api, air, buah-buahan dan dedaunan.

Keutamaan bunga disebutkan dalam mantra Wedaparikrama. Dimana, ada mantra untuk puspa aksata dan gandha, masing-masing berbunyi sebagai berikut : Om Puspa-dantaya namah (puspa). Om kum Kumara wijaya naham (akcala). Om Cri gandhecwari-amertebhyo namah swaha (gandha).

Artinya : Yang dimaksud dengan puspa-danta ialah Siwa, gelar diberikan kepada Siwa. Dan mantra tersebut penggunaan kembang atau bunga bukan lagi sebagai alat, tetapi sebagai lambang Siwa yang tidak berbeda daripada-Nya.

Dalam Lontar Wariga Gemet, ada juga menjelaskan tentang bunga yang dibolehkan sebagai sarana upacara agama (upacara penebusan atma) serangkaian dengan upacara Pitra Yadnya yakni bunga jepun, sari, sincer, pucuk pasat, tulud nyuh, kwanta, soka keling, kenyeri putih, gambir lima, kabari walanda syulan, tiga kancu.

Kemudian bunga sedap malam, anggrek wulan, karmrakan, gunggung cina, mawar, pucuk dadu, tunjung bang, jepun sudamala, seruni putih, anggrek madu, sarikonta, temen, sempol, pucuk susun, soka natar, kuranta, kembang kuning, cempaka keling, bunga gambir, tunjung, lungsur, panca galuh, grayas, sandat, sokasti, cempaka kuning.

Baca Juga :  Dibantu Rubber Boat, Ini Jadwal Pasang Surut Saat Pujawali Tanah Lot

Selanjutnya, cempaka putih, katrangan, bunga parijata, pucuk bang lamba, teleng biru, menuh susun, angsana wungu, teleng putih, dause gde, medori putih, sulasih harum, tunjung tutur, sudhamala, tunjung nilawati, grana petak, gadung dan bunga monasuli ergilo.

Sedangkan dalam Naskah Siwagama, ditegaskan beberapa bunga yang dibolehkan untuk digunakan sebagai sarana upacara yadnya. Terutama untuk membuat Puspalingga.

“Bunga ini digunakan sebagai sarana untuk memuja upacara Pitara dan roh suci leluhur, terutama dalam upacara Atma Wedana (Mamukur atau Nyekah), antara lain bunga medori putih dan bambu buluh,” jelasnya.

Begitu juga dalam naskah Dasanama, menyebutkan tentang bunga yang memiliki mutu yang baik yang hendaknya dipilih sebagai sarana upacara yadnya. Bunga tersebut adalah tunjung (bunga teratai).

Bunga tunjung dikatakan bunga yang terbaik. Sering disebut Raja Kusuma atau rajanya bunga-bungaan. Ditegaskan pula, apabila bunga tunjung tidak ada, maka dapat pula memakai bunga jenis yang lainnya, asalkan bunga penggantinya memiliki warna yang sesuai, suci, bersih dan tidak layu.

Dalam Kidung Aji Kembang bahwa Dewata Nawa Sanga, bunga tunjung yang berwarna sembilan sesuai dengan arah Asta Aiswarya atau Asta Dala, seperti Dewa Iswara arah timur dengan lambang bunga tunjung putih.

Baca Juga :  Ngantor di Desa Mundeh, Sanjaya Bagi Bantuan ke Warga Terdampak

Dewa Mahesora arah tenggara dengan lambang bunga tunjung dadu, Dewa Brahma arah selatan dengan lambang bunga tunjung merah, Dewa Rudra arah barat daya dengan lambang bunga tunjung jingga.

Dewa Mahadewa arah barat dengan lambang bunga tunjung kuning, Dewa Sangkara arah barat laut dengan lambang bunga tunjung wilis atau bunga tunjung hijau, Dewa Wisnu arah utara dengan lambang bunga tunjung hitam.

Kemudian Dewa Sambhu arah timur laut dengan lambang bunga tunjung biru, dan Dewa Siwa di tengah dengan lambang bunga tunjung lima warna atau panca warna.

“Dalam naskah Dwijendra Tattwa menjelaskan bunga teratai yang berwarna tiga, seperti bunga teratai warna putih pada arah timur, bunga teratai warna hitam arah utara, dan bunga teratai warna merah arah selatan. Ketiga jenis bunga teratai tersebut sebagai lambang Sang Hyang Tri Murti,” terangnya.

Di samping itu ada juga jenis bunga yang memiliki nilai yang utama dalam upacara yadnya adalah bunga ratna. “Bunga ini dijadikan sarana memuja Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam upacara keagamaan,” paparnya.

 






Reporter: I Putu Mardika

Most Read

Artikel Terbaru

/