alexametrics
28.7 C
Denpasar
Monday, May 16, 2022

Fatal Jika Mebasa Tegeh Tak Dilaksanakan

Ada sejumlah proses yang dilakukan saat sistem perkawinan mebasa tegeh dilaksananakan. Dikatakan Wayan Sukrata, proses pertama yang harus di lalui oleh calon pengantin adalah tahap persiapan.

Dalam tahap ini dilaksanakan perkawinan biasa atau perkawinan pada umumnya pada masyarakat Desa Pedawa. Misalnya seperti melaib ngemaling (kawin lari) atau melaib ngidih (meminang).

Selanjutnya, ada istilah mengkeb. Mengkeb berarti belum mendapatkan jalan terang dari keluarga pihak perempuan. Tahap selanjutnya barulah dilaksanakan ngeleledin yang artinya datang ke rumah mempelai perempuan berturut-turut sampai pihak kelurga perempuan memberikan jalan atau waktu untuk melaksankan mebase tegeh.

Pada tahap penyelesaian dilaksanakan ngunye ke rumah mempelai perempuan. dimana pihak keluarga laki-laki wajib membawa sarana banten base tegeh ke rumah keluarga perempuan. Tahap ini merupakan tahap berlangsungnya perkawinan mebase tegeh.

“Wujud banten base tegeh merupakan suatu simbol pengganti anak perempuannya yang menikah keluar dari Yos Embang,” paparnya.

Lalu apa dampak jika tradisi Mebasa Tegeh tidak dilaksanakan? dikatakan Sukrata dampaknya secara sekala dan niskala yang cukup fatal. Bahkan dikhawatirkan kehdupannya di masa mendatang tidak akan tidak bagus. Semisal ada keturunannya cacat, sakit bertahun-tahun sampai meninggal.

Selain itu, jika tidak menjalankan tradisi Mebasa Tegeh saat menikah, maka pihak keluarga si perempuan menjadi kecue atau menjadi buah bibir di lingkungan masyarakat Desa Pedawa. “Dari sisi nikala maka orang tersebut akan mengalami kesakitan terus-menerus dalam keluarganya, kehidupan rumah tangga tidak harmonis, sulit memiliki keturunan,” pungkasnya. (habis)


Ada sejumlah proses yang dilakukan saat sistem perkawinan mebasa tegeh dilaksananakan. Dikatakan Wayan Sukrata, proses pertama yang harus di lalui oleh calon pengantin adalah tahap persiapan.

Dalam tahap ini dilaksanakan perkawinan biasa atau perkawinan pada umumnya pada masyarakat Desa Pedawa. Misalnya seperti melaib ngemaling (kawin lari) atau melaib ngidih (meminang).

Selanjutnya, ada istilah mengkeb. Mengkeb berarti belum mendapatkan jalan terang dari keluarga pihak perempuan. Tahap selanjutnya barulah dilaksanakan ngeleledin yang artinya datang ke rumah mempelai perempuan berturut-turut sampai pihak kelurga perempuan memberikan jalan atau waktu untuk melaksankan mebase tegeh.

Pada tahap penyelesaian dilaksanakan ngunye ke rumah mempelai perempuan. dimana pihak keluarga laki-laki wajib membawa sarana banten base tegeh ke rumah keluarga perempuan. Tahap ini merupakan tahap berlangsungnya perkawinan mebase tegeh.

“Wujud banten base tegeh merupakan suatu simbol pengganti anak perempuannya yang menikah keluar dari Yos Embang,” paparnya.

Lalu apa dampak jika tradisi Mebasa Tegeh tidak dilaksanakan? dikatakan Sukrata dampaknya secara sekala dan niskala yang cukup fatal. Bahkan dikhawatirkan kehdupannya di masa mendatang tidak akan tidak bagus. Semisal ada keturunannya cacat, sakit bertahun-tahun sampai meninggal.

Selain itu, jika tidak menjalankan tradisi Mebasa Tegeh saat menikah, maka pihak keluarga si perempuan menjadi kecue atau menjadi buah bibir di lingkungan masyarakat Desa Pedawa. “Dari sisi nikala maka orang tersebut akan mengalami kesakitan terus-menerus dalam keluarganya, kehidupan rumah tangga tidak harmonis, sulit memiliki keturunan,” pungkasnya. (habis)


Most Read

Artikel Terbaru

/