Selasa, 26 Oct 2021
Bali Express
Home / Balinese
icon featured
Balinese
Ritual Penguburan di Desa Tigawasa (2)

Prosesi penguburan Mayat di Tigawasa

20 September 2021, 07: 02: 07 WIB | editor : Nyoman Suarna

Prosesi penguburan Mayat di Tigawasa

Kelian Adat Tigawasa, Made Sudarmayasa. (istimewa)

Share this      

Tatacara penguburan mayat di desa Tigawasa dilakukan dengan sejumlah tahapan. Diantaranya. Upacara saat meninggal (Wawu lampus), Upacara memandikan mayat (nyiramang); Upacara mengusung mayat ke kuburan; Upacara pembelian liang kubur dan Upacara penguburan.

Dikatakan Made Sudarmayasa, Upacara yang dilaksanakan paling awal adalah upacara pada saat seseorang meninggal. Terkait dengan upacara ini ada beberapa rangkaian yang dilaksanakan antara lain mengganti pakaian mayat dari pakaian yang dipakainya sebelum yang bersangkutan meninggal menggantinya dengan pakaian baru.

Prosesi upacara Nyiraman ini, dilaksanakan di dalam kamar. Berbeda dengan nyiraman mayat pada umumnya yang dilaksanakan di atas pepaga di halaman rumah yang bersangkutan, tetapi di Tigawasa dilaksanakan di dalam kamar yang bersangkutan.

Baca juga: Magedong-gedongan, Perkenalkan Bayi dengan Sad Rasa

Setelah dilaksanakan upacara nyiraman, acara selanjutnya adalah mengusung jenasah dari rumah duka ke kuburan. Tidak ada upacara yang dilaksanakan dalam perjalanan ke kuburan ini seperti memutar tiga kali dan menghamburkan uang kepeng di setiap perempatan yang dilalui seperti yang dilakukan di desa adat lain.

“Di desa Tigawasa upacara mengusung mayat ini tanpa ada tahapan yang lain dengan catatan, jenasah tidak boleh diturunkan baik di jalan maupun di kuburan sebelum masuk liang kubur,” ungkapnya.

Apabila liang kubur telah selesai digali, jenasah tidak langsung diturunkan ke liang kubur, melainkan harus diawali dengan upacara pembelian liang kubur. Upacara ini dengan menggunakan upakara atau sarana uang kepeng (pis bolong) yang disebarkan di dalam liang kubur, yang mengandung makna meminta ijin kepada penguasa kuburan yang biasa disebut Sedahan Setra

Setelah berakhirnya upacara pembelian liang kubur dilanjutkan dengan upacara puncak, yaitu upacara penguburan. Syaratnya, mayat bagian atas diusahakan tidak langsung mengenai tanah. Oleh karena itu, setelah mayat diletakan di liang kubur, diatasnya diletakkan balok-balok kayu yang disebut dengan Blitbit. Posisinya  dipasang secara berjejer seperti memasang usuk rumah.

Di atas Blitbit ditaruh pakaian yang dimiliki yang bersangkutan masih hidupnya dan disertai pula dengan uang atau uang kepeng yang diberikan oleh sanak keluarga sebagai bekal yang bersangkutan di alam baka. Kemudian di atasnya ditaruh daun penyalin yang lebih dikenal dengan daun Wi semacam atap.“Tujuannya untuk menghindari jenasah bersentuhan langsung dengan tanah,” katanya.

Usai dipasangi Blitbit, barulah mayat dikubur dengan tanah. Tanah yang dipakai menimbun mayat tidak dipadatkan/diinjak-injak seperti penguburan di desa lain. Melainkan ditimbun begitu saja dan tanah timbunan itu dibentuk seperti tubuh manusia. Setelah itu dipasang tiga buah pepuung. dimana, posisinya  di bagian kepala satu buah, di bagian tengah satu buah dan di bagian kaki satu buah.

Selanjutnya dipasang 3 buah bambu runcing dengan ukuran 10 hingga 12 secara silang. Tahap berikutnya, memakan sirih (base) dengan cara daun sirih dicelupkan ke dalam air dan airnya itu dituangkan di bagian kepala kuburan.

“Yang terakhir Melelanjatan sebanyak tiga kali dan dengan berakhirnya Melelanjatan ini berarti upacara penguburan ini telah berakhir dan sanak keluarga boleh meninggalkan upacara kembali ke rumahnya masing-masing,” pungkasnya. (habis) 

(bx/dik/man/JPR)

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
Facebook Twitter Instagram YouTube
©2021 PT. JawaPos Group Multimedia