alexametrics
26.8 C
Denpasar
Monday, June 27, 2022

Ini 7 Jenis Panglukatan, dari Weton, Durmanggala hingga Dasa Bayu

BULELENG, BALI EXPRESS -Dari berbagai teks atau lontar dapat disimpulkan, secara umum ada tiga panglukatan (proses pembersihan diri).

Penekun lontar Ida Bagus Made Baskara dari Griya Gunung Kawi Manuaba, Tampaksiring, Gianyar menyebut panglukatan yang pertama adalah panglukatan gumi atau jagat, yang dilakukan terhadap bumi atau tempat. Misalnya pada caru, nangluk merana.

Selanjutnya ada yang disebut panglukatan dewa. Yang dimaksud ini adalah Arca Pralingga atau simbol fisik Ida Bhatara. Ini dilakukan saat sasih kasanga atau mlasti, melis. Ini adalah proses ruwatan simbol sebagai linggih Ida Bhatara.

Ada pula jenis ruwatan yang disebut ruwat jadma. “Ini adalah panglukatan yang khusus kepada manusia dan aspeknya. Nah panglukatan jadma ini pada dasarnya dibagi menjadi tujuh jenis,” ungkapnya.

Pertama ada disebut panglukatan weton. Panglukatan weton ini ruwatan khusus saat otonan atau bertemu hari lahir. Ruwatan ini berkaitan dengan pengaruh buruk akibat hari lahir. Penglukatan jadma dilakukan bersama dengan bayuh oton, disertai prosesi panglukatan. Ada yang termasuk ala atau otonan panes, karena memiliki lintang bade.

Kedua adalah panglukatan atma. Walaupun ada kata atma, tetapi dilakukan saat manusia meninggal. Panglukatan atma ini adalah ritus pembersihan yang diperuntukkan bagi orang meninggal yang tujuannya untuk mempercepat proses pengembalian unsur ke alam. “Makanya bersanding dengan tirta pangentas, tirta yang digunakan pada saat pembersihan dengan mayat,” sebutnya.

Panglukatan ini juga bisa dilakukan apabila ada orang yang meninggal dengan cara tidak wajar, misalnya salah pati, ulah pati, ala kepatihan. Ini tujuannya membebaskan agar roh bisa kembali ke alam yang tepat.

Ketiga adalah panglukatan durmanggala. Panglukatan ini dimaknai jika ada ciri-ciri yang tidak baik yang akan terjadi. Seperti mimpi buruk, misal mimpi buang kotoran, mimpi dikejar makhluk halus. “Artinya ada sesuatu yang terjadi,” imbuhnya.

Begitu juga jika ada pertanda kejatuhan cicak, artinya katiben Saraswati. Itu pertanda tidak baik. Ini adalah peringatan dari leluhur bahwa akan ada kejadian yang tidak baik. “Supaya pertanda buruk tidak terjadi, maka dilakukan panglukatan kedurmanggalaan, kepada yang bermimi buruk atau yang kejatuhan cicak,” sebutnya.

Keempat ada panglukatan salah. Yang dimaksud ini adalah panglukatan yang melanggar etika sesana, baik melanggar tradisi ataupun etika. Misal ada anyolong semara atau perselingkuhan, maka ada panglukatannya. Ada pula manak salah, atau kelahiran yang dianggap mamada-mada. Jadi proses panglukatan ini dianggap panglukatan salah.

Kelima, panglukatan sudhamala. Ritual dilakukan oleh mangku dalang, terutama yang sudah mendapat status Mangku Dalang Samirana. Selanjutnya panglukatan dasa bayu. Ini khusus bagi orang yang berkehendak belajar sastra atau mawinten.

Panglukatan dasa bayu dibagi menjadi dua, yaitu dasa bayu wisesa dan dasa bayu putus. Panglukatan dasa bayu putus dilakukan oleh orang hendak madiksa, madwijati untuk membersihkan stana Sang Hyang Catur Weda agar berkenan berstana pada yang madiksa.

Sedangkan kalau panglukatan dasa bayu wisesa itu dilakukan pada seseorang yang hendak belajar atau memulai mendalami spiritual. Seperti pamangku dan undagi.

Terakhir adalah adalah panglukatan lara. Panglukatan ini khusus untuk orang sakit yang tak kunjung sembuh. “Disebut panglukatan lara tan kening kinamban. Ada prosesinya, agar secara niskala penyembuhan semakin cepat. Baik usada medis dan nonmedis,” pungkasnya.

 






Reporter: I Putu Mardika

BULELENG, BALI EXPRESS -Dari berbagai teks atau lontar dapat disimpulkan, secara umum ada tiga panglukatan (proses pembersihan diri).

Penekun lontar Ida Bagus Made Baskara dari Griya Gunung Kawi Manuaba, Tampaksiring, Gianyar menyebut panglukatan yang pertama adalah panglukatan gumi atau jagat, yang dilakukan terhadap bumi atau tempat. Misalnya pada caru, nangluk merana.

Selanjutnya ada yang disebut panglukatan dewa. Yang dimaksud ini adalah Arca Pralingga atau simbol fisik Ida Bhatara. Ini dilakukan saat sasih kasanga atau mlasti, melis. Ini adalah proses ruwatan simbol sebagai linggih Ida Bhatara.

Ada pula jenis ruwatan yang disebut ruwat jadma. “Ini adalah panglukatan yang khusus kepada manusia dan aspeknya. Nah panglukatan jadma ini pada dasarnya dibagi menjadi tujuh jenis,” ungkapnya.

Pertama ada disebut panglukatan weton. Panglukatan weton ini ruwatan khusus saat otonan atau bertemu hari lahir. Ruwatan ini berkaitan dengan pengaruh buruk akibat hari lahir. Penglukatan jadma dilakukan bersama dengan bayuh oton, disertai prosesi panglukatan. Ada yang termasuk ala atau otonan panes, karena memiliki lintang bade.

Kedua adalah panglukatan atma. Walaupun ada kata atma, tetapi dilakukan saat manusia meninggal. Panglukatan atma ini adalah ritus pembersihan yang diperuntukkan bagi orang meninggal yang tujuannya untuk mempercepat proses pengembalian unsur ke alam. “Makanya bersanding dengan tirta pangentas, tirta yang digunakan pada saat pembersihan dengan mayat,” sebutnya.

Panglukatan ini juga bisa dilakukan apabila ada orang yang meninggal dengan cara tidak wajar, misalnya salah pati, ulah pati, ala kepatihan. Ini tujuannya membebaskan agar roh bisa kembali ke alam yang tepat.

Ketiga adalah panglukatan durmanggala. Panglukatan ini dimaknai jika ada ciri-ciri yang tidak baik yang akan terjadi. Seperti mimpi buruk, misal mimpi buang kotoran, mimpi dikejar makhluk halus. “Artinya ada sesuatu yang terjadi,” imbuhnya.

Begitu juga jika ada pertanda kejatuhan cicak, artinya katiben Saraswati. Itu pertanda tidak baik. Ini adalah peringatan dari leluhur bahwa akan ada kejadian yang tidak baik. “Supaya pertanda buruk tidak terjadi, maka dilakukan panglukatan kedurmanggalaan, kepada yang bermimi buruk atau yang kejatuhan cicak,” sebutnya.

Keempat ada panglukatan salah. Yang dimaksud ini adalah panglukatan yang melanggar etika sesana, baik melanggar tradisi ataupun etika. Misal ada anyolong semara atau perselingkuhan, maka ada panglukatannya. Ada pula manak salah, atau kelahiran yang dianggap mamada-mada. Jadi proses panglukatan ini dianggap panglukatan salah.

Kelima, panglukatan sudhamala. Ritual dilakukan oleh mangku dalang, terutama yang sudah mendapat status Mangku Dalang Samirana. Selanjutnya panglukatan dasa bayu. Ini khusus bagi orang yang berkehendak belajar sastra atau mawinten.

Panglukatan dasa bayu dibagi menjadi dua, yaitu dasa bayu wisesa dan dasa bayu putus. Panglukatan dasa bayu putus dilakukan oleh orang hendak madiksa, madwijati untuk membersihkan stana Sang Hyang Catur Weda agar berkenan berstana pada yang madiksa.

Sedangkan kalau panglukatan dasa bayu wisesa itu dilakukan pada seseorang yang hendak belajar atau memulai mendalami spiritual. Seperti pamangku dan undagi.

Terakhir adalah adalah panglukatan lara. Panglukatan ini khusus untuk orang sakit yang tak kunjung sembuh. “Disebut panglukatan lara tan kening kinamban. Ada prosesinya, agar secara niskala penyembuhan semakin cepat. Baik usada medis dan nonmedis,” pungkasnya.

 






Reporter: I Putu Mardika

Most Read

Artikel Terbaru

/