alexametrics
26.5 C
Denpasar
Sunday, August 14, 2022

Mengenal Konsep Wamana & Daksina Cara, Panca Ma dalam Tantrayana

BULELENG, BALI EXPRESS – Panca Ma atau Panca Makara merupakan bagian dari praktik Tantra yang telah ratusan tahun dilaksanakan di Bali. Bahkan, sudah meresapi pelaksanaan ritual Hindu di Bali. Konsep ini dikenal dalam Wamana Cara dan Daksina Cara.

Akademisi Ida Bagus Putu Suamba mengatakan, Panca Ma juga disebut dengan Panca Tatwa atau Panca Mudra sebagai sadana dalam ajaran Tantra atau disiplin spiritual. Menurut Suamba, dikatakan Panca Ma, karena di depan kata itu diawali dengan Ma. Mulai dari Mada, Mamsa, Matsya, Mudra, dan Maituna.

Menurutnya, Mada atau madya yang berarti minuman keras atau alkohol. Mamsa atau daging, Matsya atau ikan, Mudra artinya biji-bijian dan Maituna atau hubungan seks. Kelima ini sebagai disiplin dalam praktik Tantra.

Di Bali, dari berbagai sumber disebutkan, sebelum mengenal konsep Tri Murti, pernah ada sembilan sekte. Yaitu Pasupata (sekte siwa tertua) Sekte Bairawa, Waisnawa, Sogata (buda), Brahmana, Rsi, Ganapati dan Siwa Sidanta. “Kalau Sekte Bairawa itu adalah mashab dari ajaran Tantra,” ungkapnya.

Baca Juga :  OM Gananathaya Namah, Kuasai Pasukan Gaib

Ada berbagai sumber tertulis, baik dari teks tutur atau kakawin. Teks tersebut tak bisa dipungkiri rupanya banyak yang bersifat tantris. Misalnya Sutasoma yang bersifat budistik dan tantris. Ini membuktikan bahwa Tantra pernah ada. Bahkan jejak sejarah atau tinggalan bersifat tantris banyak ditemukan di Bali.
“Di Gianyar, ada peninggalan arca seperti Kebo Edan di Pejeng. Ini tidak hilang dan sampai sekarang jejaknya ada,” katanya.

Meski sumber ajaran Tantra sempat dipelajari. Namun, dirinya belum bisa memastikan sejak kapan ajaran Tantra sampai di Indonesia dan dijalankan hingga kini. Hanya saja, di Bali ajaran Tantra bisa dikatakan eksis sampai sekarang. Bahkan dijalankan secara holistik dan terintegrasi.

Dalam tradisi Tantra ada dua cara atau jalan yang bisa dilakukan, yakni Wamana Cara dan Daksina Cara. Khusus untuk Wamana Cara diterjemahkan sebagai jalan kiri. Sedangkan Daksina cara diterjemahkan sebagai jalan kanan. Bahkan, konsep ini di Bali ini disebut pangiwa dan panengen.

Praktik Tantra jalan Wamana cara itu menerjemahkan konsep Panca Makara secara kasar. Misal, Maituna atau hubungan seks yang dilakukan dalam ritual Cakra Puja, makan daging, minum minuman keras sepuasnya. Konsep ini diterjemahkan secara leterlek. “Ini dalam konteks ngulurin indria, artinya mereka melakukan dengan cara sepuas-puasnya,” paparnya.

Baca Juga :  Ada Arca dari Emas, Setiap Pujawali, Umat Buddha Ikut Sembahyang

Lain halnya dengan konteks pemahaman Daksina Cara, yang sifatnya lebih halus dan implementasinya ke dalam diri manusia. Praktik atau pelaksanaan yoga menjadi sangat penting. Misalnya dalam bidang minuman keras, dalam praktik yoga bagaimana melalui proses mengeluarkan cairan dari langit mulut, lalu cairan itu dirasakan melalui lidah, atau kecarimudra sehingga seperti dirasakan seolah-olah anggur, alkohol.

Kalau Mamsa lebih ke pengendalian lidah, bagaimana lidah ujungnya ditekuk, seolah-olah seperti menyantap daging. Meski demikian, di Bali ajaran Tantra baik Wamana Cara maupun Daksina Cara tidak dipraktikkan secara vulgar.

“Leluhur kita di Bali tidak serta merta menelan secara mentah-mentah tentang Wamana Cara dan Daksina cara. Ini adalah kearifan lokal para leluhur kita. Tetap ada proses filter yang disesuaikan dengan nilai lokal,” paparnya.
 






Reporter: I Putu Mardika

BULELENG, BALI EXPRESS – Panca Ma atau Panca Makara merupakan bagian dari praktik Tantra yang telah ratusan tahun dilaksanakan di Bali. Bahkan, sudah meresapi pelaksanaan ritual Hindu di Bali. Konsep ini dikenal dalam Wamana Cara dan Daksina Cara.

Akademisi Ida Bagus Putu Suamba mengatakan, Panca Ma juga disebut dengan Panca Tatwa atau Panca Mudra sebagai sadana dalam ajaran Tantra atau disiplin spiritual. Menurut Suamba, dikatakan Panca Ma, karena di depan kata itu diawali dengan Ma. Mulai dari Mada, Mamsa, Matsya, Mudra, dan Maituna.

Menurutnya, Mada atau madya yang berarti minuman keras atau alkohol. Mamsa atau daging, Matsya atau ikan, Mudra artinya biji-bijian dan Maituna atau hubungan seks. Kelima ini sebagai disiplin dalam praktik Tantra.

Di Bali, dari berbagai sumber disebutkan, sebelum mengenal konsep Tri Murti, pernah ada sembilan sekte. Yaitu Pasupata (sekte siwa tertua) Sekte Bairawa, Waisnawa, Sogata (buda), Brahmana, Rsi, Ganapati dan Siwa Sidanta. “Kalau Sekte Bairawa itu adalah mashab dari ajaran Tantra,” ungkapnya.

Baca Juga :  Begini Tuntunan Prosesi Pacaruan di Rumah Saat Pengrupukan

Ada berbagai sumber tertulis, baik dari teks tutur atau kakawin. Teks tersebut tak bisa dipungkiri rupanya banyak yang bersifat tantris. Misalnya Sutasoma yang bersifat budistik dan tantris. Ini membuktikan bahwa Tantra pernah ada. Bahkan jejak sejarah atau tinggalan bersifat tantris banyak ditemukan di Bali.
“Di Gianyar, ada peninggalan arca seperti Kebo Edan di Pejeng. Ini tidak hilang dan sampai sekarang jejaknya ada,” katanya.

Meski sumber ajaran Tantra sempat dipelajari. Namun, dirinya belum bisa memastikan sejak kapan ajaran Tantra sampai di Indonesia dan dijalankan hingga kini. Hanya saja, di Bali ajaran Tantra bisa dikatakan eksis sampai sekarang. Bahkan dijalankan secara holistik dan terintegrasi.

Dalam tradisi Tantra ada dua cara atau jalan yang bisa dilakukan, yakni Wamana Cara dan Daksina Cara. Khusus untuk Wamana Cara diterjemahkan sebagai jalan kiri. Sedangkan Daksina cara diterjemahkan sebagai jalan kanan. Bahkan, konsep ini di Bali ini disebut pangiwa dan panengen.

Praktik Tantra jalan Wamana cara itu menerjemahkan konsep Panca Makara secara kasar. Misal, Maituna atau hubungan seks yang dilakukan dalam ritual Cakra Puja, makan daging, minum minuman keras sepuasnya. Konsep ini diterjemahkan secara leterlek. “Ini dalam konteks ngulurin indria, artinya mereka melakukan dengan cara sepuas-puasnya,” paparnya.

Baca Juga :  Begini Sejarah Pura Griya Sakti Manuaba di Desa Kendran, Tegallalang

Lain halnya dengan konteks pemahaman Daksina Cara, yang sifatnya lebih halus dan implementasinya ke dalam diri manusia. Praktik atau pelaksanaan yoga menjadi sangat penting. Misalnya dalam bidang minuman keras, dalam praktik yoga bagaimana melalui proses mengeluarkan cairan dari langit mulut, lalu cairan itu dirasakan melalui lidah, atau kecarimudra sehingga seperti dirasakan seolah-olah anggur, alkohol.

Kalau Mamsa lebih ke pengendalian lidah, bagaimana lidah ujungnya ditekuk, seolah-olah seperti menyantap daging. Meski demikian, di Bali ajaran Tantra baik Wamana Cara maupun Daksina Cara tidak dipraktikkan secara vulgar.

“Leluhur kita di Bali tidak serta merta menelan secara mentah-mentah tentang Wamana Cara dan Daksina cara. Ini adalah kearifan lokal para leluhur kita. Tetap ada proses filter yang disesuaikan dengan nilai lokal,” paparnya.
 






Reporter: I Putu Mardika

Most Read

Artikel Terbaru

/