alexametrics
26.8 C
Denpasar
Tuesday, June 28, 2022

Pantang Gunakan Daging sebagai Pelengkap Blayag

KARANGASEM, BALI EXPRESS- Dalam tradisi Meprani Blayag di Desa Adat Gumung, Kecamatan Manggis, Karangasem, ada acara magibung (makan bersama khas Karangasem). Olahan makanannya pantang menggunakan daging. Berbeda dengan magibung pada umumnya yang boleh berisi daging. 

BERITA TERKAIT: Simbol Syukur, Penyucian Bhuana Agung dan Penyambutan Leluhur

Bendesa Adat Gumung I Nengah Darya memaparkan, magibung dalam rangkaian meprani blayag juga mengandung makna terkait ajaran Tri Guna (tiga sifat dalam manusia), dan Sad Ripu atau enam musuh dalam diri manusia. Ini terlihat dari aturan tentang pantangan menggunakan daging sebagai pelengkap olahan blayag yang dihaturkan sebelum dinikmati.

Kata Darya, larangan itu praktis membentuk kesetaraan sosial selama magibung berlangsung. Seluruh warga berkumpul. Mereka berbaur untuk santap bersama. Warga kelas menengah hingga ke atas akan sama kedudukannya dengan yang kelas menengah ke bawah.  “Semua warga hanya memasak sayuran. Ini otomatis menjaga kebersamaan krama agar tidak saling pandang. Antara yang punya (kaya) atau miskin, makan makanan yang sama sederhana. Yang miskin bisa makan, yang kaya bisa berbagi atau merasakan bagaimana hidup sederhana,” jelasnya.

Versi lain menyebut, pantangan memakai daging atau sifat hewani lainnya juga terkait dengan petunjuk secara niskala. “Para leluhur tidak akan turun ke bumi dengan mengorbankan makhluk lain untuk hari bahagia dalam pertemuan dengan saudaranya,” imbuh Darya, seraya mengatakan, sejauh ini tidak ada yang melanggar pantangan.

 

 


KARANGASEM, BALI EXPRESS- Dalam tradisi Meprani Blayag di Desa Adat Gumung, Kecamatan Manggis, Karangasem, ada acara magibung (makan bersama khas Karangasem). Olahan makanannya pantang menggunakan daging. Berbeda dengan magibung pada umumnya yang boleh berisi daging. 

BERITA TERKAIT: Simbol Syukur, Penyucian Bhuana Agung dan Penyambutan Leluhur

Bendesa Adat Gumung I Nengah Darya memaparkan, magibung dalam rangkaian meprani blayag juga mengandung makna terkait ajaran Tri Guna (tiga sifat dalam manusia), dan Sad Ripu atau enam musuh dalam diri manusia. Ini terlihat dari aturan tentang pantangan menggunakan daging sebagai pelengkap olahan blayag yang dihaturkan sebelum dinikmati.

Kata Darya, larangan itu praktis membentuk kesetaraan sosial selama magibung berlangsung. Seluruh warga berkumpul. Mereka berbaur untuk santap bersama. Warga kelas menengah hingga ke atas akan sama kedudukannya dengan yang kelas menengah ke bawah.  “Semua warga hanya memasak sayuran. Ini otomatis menjaga kebersamaan krama agar tidak saling pandang. Antara yang punya (kaya) atau miskin, makan makanan yang sama sederhana. Yang miskin bisa makan, yang kaya bisa berbagi atau merasakan bagaimana hidup sederhana,” jelasnya.

Versi lain menyebut, pantangan memakai daging atau sifat hewani lainnya juga terkait dengan petunjuk secara niskala. “Para leluhur tidak akan turun ke bumi dengan mengorbankan makhluk lain untuk hari bahagia dalam pertemuan dengan saudaranya,” imbuh Darya, seraya mengatakan, sejauh ini tidak ada yang melanggar pantangan.

 

 


Most Read

Artikel Terbaru

/