alexametrics
27.8 C
Denpasar
Monday, June 27, 2022

Banjarangkan Punya Juga Tradisi Magibung, Ini Bedanya

KLUNGKUNG, BALI EXPRESS- Tradisi magibung atau makan bersama, tidak hanya dijumpai di Karangasem. Seperti yang berlaku, makan bersama dilakukan dengan duduk bersama secara melingkar.

Di Desa Banjarangkan, Klungkung, magibung sepintas mirip dengan magibung yang dilaksanakan kebanyakan daerah di Bali. Namun ada hal berbeda, yakni hidangan yang disantap wajib memakai daging ayam aduan atau cundang dan daging babi.

Bendesa Adat Banjarangkan Anak Agung Gde Dharma Putra didampingi Kelian Adat Banjar Nesa, Anak Agung Gede Ngurah Astawa Putra, menjelaskan, krama atau warga adat Banjar Adat Nesa, Desa Adat Banjarangkan, tetap melestarikan magibung dan maprani hingga kini.

Pelaksanaannya setiap enam bulan sekali, tepatnya dalam rangkaian upacara Pujawali Nemoning Wrespati Manis Dungulan di Pura Desa Bale Agung Pura Kangin, Banjarangkan. “Pelaksanaannya setiap pagi,” ujar AA Gde Dharma Putra, pekan kemarin.

Ia menegaskan, salah satu unsur dalam hidangannya wajib memakai ayam cundang dan daging babi. Warga setempat bisa menyebut sarana kuku rambut atau suku kalih, yakni hewan berkaki dua, dan suku pat atau daging babi.

Pihaknya meyakini, ketentuan ini berkaitan dengan bentuk syukur atas keberhasilan mendirikan desa. Menurut cerita para tetua di Banjarangkan, dahulu ada tokoh yang berhasil dalam memimpin perabasan hutan yang kini menjadi wilayah Desa Banjarangkan.

Hal ini yang mendasari naur sesangi atau membayar kaul atas keberhasilan tersebut. Tradisi magibung dilaksanakan krama pangempon Banjar Adat Nesa bersama warga tiap pagi, disusul upacara maprani di penataran pura pada sore harinya.

Dilihat dari jejak sejarah yang kuat, serta melihat ada nilai dan kekhasannya, tradisi magibung dan maprani di Banjarangkan direncanakan untuk diusulkan menjadi warisan budaya tak benda (WBTB) Nasional. Pemkab Klungkung pun sempat meminta kepada desa adat untuk siapkan sumber konkret terkait jejak tradisi ini.

 






Reporter: AGUS EKA PURNA NEGARA

KLUNGKUNG, BALI EXPRESS- Tradisi magibung atau makan bersama, tidak hanya dijumpai di Karangasem. Seperti yang berlaku, makan bersama dilakukan dengan duduk bersama secara melingkar.

Di Desa Banjarangkan, Klungkung, magibung sepintas mirip dengan magibung yang dilaksanakan kebanyakan daerah di Bali. Namun ada hal berbeda, yakni hidangan yang disantap wajib memakai daging ayam aduan atau cundang dan daging babi.

Bendesa Adat Banjarangkan Anak Agung Gde Dharma Putra didampingi Kelian Adat Banjar Nesa, Anak Agung Gede Ngurah Astawa Putra, menjelaskan, krama atau warga adat Banjar Adat Nesa, Desa Adat Banjarangkan, tetap melestarikan magibung dan maprani hingga kini.

Pelaksanaannya setiap enam bulan sekali, tepatnya dalam rangkaian upacara Pujawali Nemoning Wrespati Manis Dungulan di Pura Desa Bale Agung Pura Kangin, Banjarangkan. “Pelaksanaannya setiap pagi,” ujar AA Gde Dharma Putra, pekan kemarin.

Ia menegaskan, salah satu unsur dalam hidangannya wajib memakai ayam cundang dan daging babi. Warga setempat bisa menyebut sarana kuku rambut atau suku kalih, yakni hewan berkaki dua, dan suku pat atau daging babi.

Pihaknya meyakini, ketentuan ini berkaitan dengan bentuk syukur atas keberhasilan mendirikan desa. Menurut cerita para tetua di Banjarangkan, dahulu ada tokoh yang berhasil dalam memimpin perabasan hutan yang kini menjadi wilayah Desa Banjarangkan.

Hal ini yang mendasari naur sesangi atau membayar kaul atas keberhasilan tersebut. Tradisi magibung dilaksanakan krama pangempon Banjar Adat Nesa bersama warga tiap pagi, disusul upacara maprani di penataran pura pada sore harinya.

Dilihat dari jejak sejarah yang kuat, serta melihat ada nilai dan kekhasannya, tradisi magibung dan maprani di Banjarangkan direncanakan untuk diusulkan menjadi warisan budaya tak benda (WBTB) Nasional. Pemkab Klungkung pun sempat meminta kepada desa adat untuk siapkan sumber konkret terkait jejak tradisi ini.

 






Reporter: AGUS EKA PURNA NEGARA

Most Read

Artikel Terbaru

/