alexametrics
27.8 C
Denpasar
Wednesday, June 29, 2022

Tata Letak Bangunan di Bali Perhatikan Ulu Teben dan Asta Dewata

BULELENG, BALI EXPRESS-Memperhatikan tata letak dan tata ruang bangunan bagi masyarakat Hindu di Bali merupakan hal yang penting. Tata letak mengarah pada tempat tertentu sesuai dengan arah mata angin. Tempat suci yang ada di pekarangan sebagai hulu atau sebagai kepala dan rumah sebagai badan serta pintu masuk atau angkul-angkul sebagai kakinya.

Ketiga hal tersebut merupakan suatu sistem yang tidak bisa dilepaskan dengan tradisi masyarakat Hindu di Bali.

Dosen Teologi Hindu, STAHN Mpu Kuturan Singaraja Wayan Titra Gunawijaya mengatakan, sesuai dengan sumber sastra dan sumber Lontar Asta Bhumi, Asta Kosala dengan menentukan bilangan dengan Asta Dewata atau Astawara yaitu Sri, Indra, Guru, Yama, Ludra, Brahma, Kala, Uma.

Perhitungan untuk jarak mendirikan bangunan yang satu dengan lainnya menggunakan patokan atau sikut dengan ukuran tapak kaki orang yang akan menempatinya.

Patokan perhitungan dari pondasi bataran atau baturan dengan sekian tampak, ditambah dengan satu tampak ngandang (tampak ke samping) yang disebut dengan pangurip-ngurip. “Artinya bangunan tersebut dapat hidup atau selalu memiliki jiwa karena sebuah bangunan memiliki kekuatan,” jelasnya.

Begitu juga dengan tata letak merajan yang merupakan tempat suci bagi umat Hindu. Bangunan ini harus memperhatikan konsep luan teben (hulu hilir), letaknya tempat suci atau merajan di bagian yang mengarah gunung dan terbitnya matahari. “Bagi yang posisinya di sebelah selatan gunung atau Bali Selatan, maka tempat sucinya berada di sebelah timur laut,” sebutnya.

Sedangkan bagi yang berada di sebelah utara gunung, maka tempat sucinya akan diletakkan di tenggara atau memilih salah satu arah gunung atau terbitnya matahari. Letak pada tempat tersebut berdasarkan arah terbitnya matahari dan arah gunung sebagai dasar hulu untuk membangun tempat suci.

Pada bangunan rumah yang disebut dengan gedong atau Meten Bandung, letaknya pada posisi kaja atau ka-adya arahnya ke gunung, merupakan arah yang terhormat.  Letaknya di antara bangunan yang lain paling tinggi.

Bangunan ini menjadi pokok atau menjadi guru untuk mengukur tata letak rumah yang lainnya. Seperti balai sakanem, saka kutus, seka sanga dan saka roras maupun dapur, loji serta kuri dengan ukuran Asta Bumi Asta Kosala Kosali dari gedong mulai dengan menetapkan bilangan Asta Dewata yaitu Sri, Indra , Guru, Yama, Brahma, Ludra , Kala, Uma.

“Bangunan gedong atau Beten Bandung memiliki fungsi sebagai tempat orang tua atau panglingsir yang dituakan dalam keluarga  pada posisi guru,” sebutnya.

Bangunan sakanem, saka kutus, saka sanga, saka roras ini terletak pada posisi hilir atau teben agak ke pinggir kiri dari balai pokok. Posisi balai tersebut jika secara geografis berada pada belahan Pulau Bali Selatan biasanya ada pada sebelah tenggara. Bangunan tersebut difungsikan sebagai tempat upacara panca yadnya, terutama pada saat ada kematian salah satu keluarganya.

Selanjutnya bangunan  dapur idealnya terletak pada posisi di hilir dari bangunan pokok atau arah barat daya. Dalam ukuran Asta Kosala Kosali Asta Bumi, dapur berada pada ukuran Brahma. Secara umum di Bali dapur ada pada pinggir pintu masuk atau pinggir dari kori atau angkul-angkul.

Dapur biasanya selalu berdampingan dengan kamar mandi. Kemudian gudang tempat untuk menyimpan benda-benda. Secara Asta Kosala Kosali Asta Bumi menempati ukuran pada Ludra yaitu tepatnya pada posisi paling hilir dalam pekarangan.

Loji atau bale dauh pada ukuran Kosala Kosali Asta Bumi ada pada ukuran Indra. Di era sekarang, bale dauh umumnya ditempati oleh keluarga yang masih produktif dan orang-orang muda atau untuk anak-anak.

Begitu juga dengan letak sumur bagi masyarakat Hindu sangat memiliki arti bagi kehidupan dalam rumah tangga dan memiliki pengaruh. “Letak sumur diharapkan selalu di sebelah Kaja (ka-adya) atau utara dengan konsep posisi Dewa Wisnu berada di sebelah utara, namun aliran air selalu mengarah pada dapur di sebelah selatan,” sebutnya.






Reporter: I Putu Mardika

BULELENG, BALI EXPRESS-Memperhatikan tata letak dan tata ruang bangunan bagi masyarakat Hindu di Bali merupakan hal yang penting. Tata letak mengarah pada tempat tertentu sesuai dengan arah mata angin. Tempat suci yang ada di pekarangan sebagai hulu atau sebagai kepala dan rumah sebagai badan serta pintu masuk atau angkul-angkul sebagai kakinya.

Ketiga hal tersebut merupakan suatu sistem yang tidak bisa dilepaskan dengan tradisi masyarakat Hindu di Bali.

Dosen Teologi Hindu, STAHN Mpu Kuturan Singaraja Wayan Titra Gunawijaya mengatakan, sesuai dengan sumber sastra dan sumber Lontar Asta Bhumi, Asta Kosala dengan menentukan bilangan dengan Asta Dewata atau Astawara yaitu Sri, Indra, Guru, Yama, Ludra, Brahma, Kala, Uma.

Perhitungan untuk jarak mendirikan bangunan yang satu dengan lainnya menggunakan patokan atau sikut dengan ukuran tapak kaki orang yang akan menempatinya.

Patokan perhitungan dari pondasi bataran atau baturan dengan sekian tampak, ditambah dengan satu tampak ngandang (tampak ke samping) yang disebut dengan pangurip-ngurip. “Artinya bangunan tersebut dapat hidup atau selalu memiliki jiwa karena sebuah bangunan memiliki kekuatan,” jelasnya.

Begitu juga dengan tata letak merajan yang merupakan tempat suci bagi umat Hindu. Bangunan ini harus memperhatikan konsep luan teben (hulu hilir), letaknya tempat suci atau merajan di bagian yang mengarah gunung dan terbitnya matahari. “Bagi yang posisinya di sebelah selatan gunung atau Bali Selatan, maka tempat sucinya berada di sebelah timur laut,” sebutnya.

Sedangkan bagi yang berada di sebelah utara gunung, maka tempat sucinya akan diletakkan di tenggara atau memilih salah satu arah gunung atau terbitnya matahari. Letak pada tempat tersebut berdasarkan arah terbitnya matahari dan arah gunung sebagai dasar hulu untuk membangun tempat suci.

Pada bangunan rumah yang disebut dengan gedong atau Meten Bandung, letaknya pada posisi kaja atau ka-adya arahnya ke gunung, merupakan arah yang terhormat.  Letaknya di antara bangunan yang lain paling tinggi.

Bangunan ini menjadi pokok atau menjadi guru untuk mengukur tata letak rumah yang lainnya. Seperti balai sakanem, saka kutus, seka sanga dan saka roras maupun dapur, loji serta kuri dengan ukuran Asta Bumi Asta Kosala Kosali dari gedong mulai dengan menetapkan bilangan Asta Dewata yaitu Sri, Indra , Guru, Yama, Brahma, Ludra , Kala, Uma.

“Bangunan gedong atau Beten Bandung memiliki fungsi sebagai tempat orang tua atau panglingsir yang dituakan dalam keluarga  pada posisi guru,” sebutnya.

Bangunan sakanem, saka kutus, saka sanga, saka roras ini terletak pada posisi hilir atau teben agak ke pinggir kiri dari balai pokok. Posisi balai tersebut jika secara geografis berada pada belahan Pulau Bali Selatan biasanya ada pada sebelah tenggara. Bangunan tersebut difungsikan sebagai tempat upacara panca yadnya, terutama pada saat ada kematian salah satu keluarganya.

Selanjutnya bangunan  dapur idealnya terletak pada posisi di hilir dari bangunan pokok atau arah barat daya. Dalam ukuran Asta Kosala Kosali Asta Bumi, dapur berada pada ukuran Brahma. Secara umum di Bali dapur ada pada pinggir pintu masuk atau pinggir dari kori atau angkul-angkul.

Dapur biasanya selalu berdampingan dengan kamar mandi. Kemudian gudang tempat untuk menyimpan benda-benda. Secara Asta Kosala Kosali Asta Bumi menempati ukuran pada Ludra yaitu tepatnya pada posisi paling hilir dalam pekarangan.

Loji atau bale dauh pada ukuran Kosala Kosali Asta Bumi ada pada ukuran Indra. Di era sekarang, bale dauh umumnya ditempati oleh keluarga yang masih produktif dan orang-orang muda atau untuk anak-anak.

Begitu juga dengan letak sumur bagi masyarakat Hindu sangat memiliki arti bagi kehidupan dalam rumah tangga dan memiliki pengaruh. “Letak sumur diharapkan selalu di sebelah Kaja (ka-adya) atau utara dengan konsep posisi Dewa Wisnu berada di sebelah utara, namun aliran air selalu mengarah pada dapur di sebelah selatan,” sebutnya.






Reporter: I Putu Mardika

Most Read

Artikel Terbaru

/