alexametrics
28.7 C
Denpasar
Saturday, January 29, 2022

Wana Kertih dan Danu Kertih Dilakukan Setiap Dua Tahun Sekali

SINGARAJA, BALI EXPRESS – Upacara Yadnya Wana Kertih dan Danu Kertih merupakan upacara untuk penyucian hutan dan danau yng dilakukan setiap dua tahun sekali. Upacaa dilakukan ketika karya pengrakih di pura yang ada di sekitar Danau Tamblingan, bertepatan dengan kembangin sasih kapat sesuai dengan dresta kuna adat Dalem Tamblingan. Selai tu ada pula mitos yang berkembang di masyarakat, yakni ketika sedang berada di atas pedau atau perahu di danau, sedang emancing atau melakukan aktivitas lainnya di danau, tidak boleh berbicara tentang pantai atau laut. Sebab hal itu dapat menyebabkan ombak danau membesar. Dan juga dalam buku berjudul Adat Dalem Tamblingan di Catur Desa yang disusun Yayasan Wisnu berdasarkan keterangan dari para tokoh di Catur Desa menyebutkan saat masuk hutan untuk ngayah ke pura-pura atau untuk kebutuhan apapun, tidak diperbolehkan berkata-kata kasar atau mengeluh agar tidak tersesat di dalam hutan.

Dalam buku itu juga disebutkan, peraturan khusus yang tidak tertulis pada Danau Tamblingan. Aturan itu pun tetap diyakini dan dilaksanakan secara turun temurun hingga kini. Yang pertama, jika ada yang meinggal di kawasan danau Tamblingan, dilakukan upacara mrastista atau penyucian danau oleh keluarga korban. Hal ini merupakan salah satu alasan mengapa tidak diperbolehkan ada permukiman di sekitar danau. Yang kedua, sarana transportasi di danau Tamblingan hanya boeh menggunakan pedau tradisional tanpa mesin agar tidak terjadi pencemaran air danau.

Baca Juga :  MDA Dukung Desa Adat Kesiman Tutup Ashram Hare Krishna

Peraturan yang ketiga yakni bagi para pencari ikan, hanya boleh mengunakan jarring dengan ukuran tertentu dan jenis pancing tertentu serta tidak boleh sama sekali menggunakan zat kimia beracun untuk menjaga keseimbangan populasi ikan. Aturan yang keempat adalah, bagi subak-subak yang airnya bersumber dari danau Tamblingan dilarang mengambil air di atas atau di hulu dari Temuku Aya. Temuku Aya merupaka pembagian air terbesar yang terletak di bagian paling hulu. Hal tersebut ditujukan untuk menjaga ketersediaan air dan ketertiban pendistribusian air. 

SINGARAJA, BALI EXPRESS – Upacara Yadnya Wana Kertih dan Danu Kertih merupakan upacara untuk penyucian hutan dan danau yng dilakukan setiap dua tahun sekali. Upacaa dilakukan ketika karya pengrakih di pura yang ada di sekitar Danau Tamblingan, bertepatan dengan kembangin sasih kapat sesuai dengan dresta kuna adat Dalem Tamblingan. Selai tu ada pula mitos yang berkembang di masyarakat, yakni ketika sedang berada di atas pedau atau perahu di danau, sedang emancing atau melakukan aktivitas lainnya di danau, tidak boleh berbicara tentang pantai atau laut. Sebab hal itu dapat menyebabkan ombak danau membesar. Dan juga dalam buku berjudul Adat Dalem Tamblingan di Catur Desa yang disusun Yayasan Wisnu berdasarkan keterangan dari para tokoh di Catur Desa menyebutkan saat masuk hutan untuk ngayah ke pura-pura atau untuk kebutuhan apapun, tidak diperbolehkan berkata-kata kasar atau mengeluh agar tidak tersesat di dalam hutan.

Dalam buku itu juga disebutkan, peraturan khusus yang tidak tertulis pada Danau Tamblingan. Aturan itu pun tetap diyakini dan dilaksanakan secara turun temurun hingga kini. Yang pertama, jika ada yang meinggal di kawasan danau Tamblingan, dilakukan upacara mrastista atau penyucian danau oleh keluarga korban. Hal ini merupakan salah satu alasan mengapa tidak diperbolehkan ada permukiman di sekitar danau. Yang kedua, sarana transportasi di danau Tamblingan hanya boeh menggunakan pedau tradisional tanpa mesin agar tidak terjadi pencemaran air danau.

Baca Juga :  Dulu Tempat Pembuangan Mayat, Kini Bisa Mohon Keturunan dan Jodoh

Peraturan yang ketiga yakni bagi para pencari ikan, hanya boleh mengunakan jarring dengan ukuran tertentu dan jenis pancing tertentu serta tidak boleh sama sekali menggunakan zat kimia beracun untuk menjaga keseimbangan populasi ikan. Aturan yang keempat adalah, bagi subak-subak yang airnya bersumber dari danau Tamblingan dilarang mengambil air di atas atau di hulu dari Temuku Aya. Temuku Aya merupaka pembagian air terbesar yang terletak di bagian paling hulu. Hal tersebut ditujukan untuk menjaga ketersediaan air dan ketertiban pendistribusian air. 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru