alexametrics
27.8 C
Denpasar
Wednesday, June 29, 2022

Ini yang tidak Boleh Dilakukan saat Nerang (Ke-2 Habis)

Jro Panca menyebut, ada empat metode yang biasanya digunakan untuk nerang atau menghalau hujan, di antaranya dengan memohon, menggunakan paica atau benda-benda pusaka, mengunakan gagelaran atau ajian, dan mutering aksara. Nerang dengan cara memohon dan menggunakan paica, tidak langsung memberi efek kepada juru terang. Namun nerang dengan metode gagelaran dan mutering aksara, memberi efek langsung kepada juru terang.

Praktisi spiritual Jro Panca dalam kanal Youtube Taksu Poleng menyebut, karena berefek langsung, maka setelah proses nerang dengan metode gagelaran dan mutering aksara, juru terang wajib melakukan tapa kumkum. Tujuannya untuk menghilangkan api-api yang berstana di dalam tubuh. “Kalau hajatan sudah selesai, juru terang wajib melakukan tapa kumkum. Kalau tidak, maka efeknya akan emosian dan sudah memiliki keturunan,” paparnya.

Lebih lanjut Jro Panca menjelaskan, ada dharmaning panerangan atau tata tertib yang tidak boleh dilanggar oleh juru terang dalam melakukan tugasnya. Di antaranya, tidak boleh bersikap jumawa atau angkuh. Jangan sampai seorang juru terang mengklaim bahwa dirinya yang telah berhasil menghalau hujan. “Tidak ada satu pun manusia yang berhak mengklaim atas perputaran alam. Kita butuh alam dalam melakukan penerangan,” jelasnya.

Selanjutnya, seorang juru terang pantang melakukan demonstrasi saat melakukan tugasnya. “Hindari diwawancarai ketika sedang melakukan tugas nerang karena akan berefek turunnya hujan. Hal ini akan memunculkan ketersinggungan bagi Dang Hyang atau khodam khusus pawang hujang,” jelasnya.






Reporter: Wiwin Meliana

Jro Panca menyebut, ada empat metode yang biasanya digunakan untuk nerang atau menghalau hujan, di antaranya dengan memohon, menggunakan paica atau benda-benda pusaka, mengunakan gagelaran atau ajian, dan mutering aksara. Nerang dengan cara memohon dan menggunakan paica, tidak langsung memberi efek kepada juru terang. Namun nerang dengan metode gagelaran dan mutering aksara, memberi efek langsung kepada juru terang.

Praktisi spiritual Jro Panca dalam kanal Youtube Taksu Poleng menyebut, karena berefek langsung, maka setelah proses nerang dengan metode gagelaran dan mutering aksara, juru terang wajib melakukan tapa kumkum. Tujuannya untuk menghilangkan api-api yang berstana di dalam tubuh. “Kalau hajatan sudah selesai, juru terang wajib melakukan tapa kumkum. Kalau tidak, maka efeknya akan emosian dan sudah memiliki keturunan,” paparnya.

Lebih lanjut Jro Panca menjelaskan, ada dharmaning panerangan atau tata tertib yang tidak boleh dilanggar oleh juru terang dalam melakukan tugasnya. Di antaranya, tidak boleh bersikap jumawa atau angkuh. Jangan sampai seorang juru terang mengklaim bahwa dirinya yang telah berhasil menghalau hujan. “Tidak ada satu pun manusia yang berhak mengklaim atas perputaran alam. Kita butuh alam dalam melakukan penerangan,” jelasnya.

Selanjutnya, seorang juru terang pantang melakukan demonstrasi saat melakukan tugasnya. “Hindari diwawancarai ketika sedang melakukan tugas nerang karena akan berefek turunnya hujan. Hal ini akan memunculkan ketersinggungan bagi Dang Hyang atau khodam khusus pawang hujang,” jelasnya.






Reporter: Wiwin Meliana

Most Read

Artikel Terbaru

/