alexametrics
27.8 C
Denpasar
Wednesday, June 29, 2022

Mantapkan Keyakinan, Tingkatan Upakara Sudhi Wadani Tak Ribet

SINGARAJA, BALI EXPRESS -Upacara Sudhi Wadani adalah prosesi yang dijalani seseorang yang sebelumnya bukan penganut agama Hindu, menjadi Hindu. Upacara ini bisa dilakukan secara perorangan maupun kolektif.

Sudhi Wadani ini tidak hanya dilakukan karena proses perkawinan semata, tetapi karena memang keyakinan.

Dikatakan Ketua PHDI Kecamatan Buleleng Nyoman Suardika, upacara Sudhi Wadani yang dilakukan untuk perorangan maupun secara kolektif perlu diadakan persiapan. Baik persiapan bagi calon yang bersangkutan, persiapan upakara atau sesajen, yang akan memimpin upacara, tempat upacara maupun persiapan administrasi oleh aparat PHDI sebagai pelaksana upacara tersebut.

“Mempersiapkan diri lahir dan batin itu perlu. Persiapan lahir adalah dengan terlebih dulu mandi yang bersih, berkeramas serta mengenakan pakaian yang bersih pula. Bagi wanita yang dalam keadaan cuntaka. Misalnya menstruasi, maka upacara ini bisa ditangguhkan sementara sampai masa cuntakanya itu berakhir ditandai dengan mandi besar dan berkeramas,” paparnya.

Sedangkan persiapan batin yang patut dilakukan adalah memantapkan iman dan menyerahkan diri sepenuhnya kehadapan Sang Hyang Widhi Wasa. Sebelum calon mengikuti upacara Sudhi Wadani agar diperkenalkan secara ringkas pokok-pokok ajaran agama Hindu serta bimbingan cara melaksanakan persembahyangan menurut ajaran Hindu.

Tempat di mana upacara Sudhi Wadani dilaksanakan juga harus disiapkan. Apakah di pura, dan berkaitan saat hari raya. Seperti hari raya Saraswati, Siwaratri, Galungan, Kuningan dan lainnya.

Disinggung terkait sarana yang digunakan, jika merujuk dalam keputusan Seminar VIII Kesatuan Tafsir terhadap Aspek-Aspek agama Hindu yang diselenggarakan tanggal 18 sampai dengan 20 Februari 1982, ditetapkan adanya tiga tingkatan atau kategori upakara Sudhi Wadani. Diantaranya pras pajati sebagai upasaksi penyumpahan, mempergunakan sarana bunga, bija dan bhasma dari air cendana untuk tingkatan upacara yang madhyama (menengah) dan mempergunakan bunga, bija dan air untuk tingkatan upacara yang alit (sederhana).

Sedangkan mekanisme pelaksanaan dimulai dari blanko Sudhi Wadani dikeluarkan oleh PHDI Kabupaten Buleleng dan blanko bisa diambil di kantor PHDI kecamatan atau kantor PHDI Kabupaten Buleleng.

Setelah itu, Sudhi Wadani di masing masing desa adat agar dilaksanakan oleh ketua PHDI kelurahan atau desa bersangkutan. Apabila ketua PHDI desa dan kelurahan sebagaimana yang dimaksud berhalangan atau tidak ada, maka Sudhi Wadani dilaksanakan oleh ketua PHDI kecamatan.

Pada blanko keterangan perihal Sudhi Wadani ada tercantum 2 saksi. Dimana, saksi pertama ketua PHDI kelurahan atau desa dan saksi kedua bisa klian desa atau klian banjar. Apabila saksi pertama ketua PHDI kelurahan atau desa berhalangan datang atau tidak ada, maka ketua PHDI kecamatan sebagai saksi (menandatangani).

Blanko Sudhi Wadani yang telah ditandatangani agar dibawa ke sekretariat PHDI kecamatan untuk diparaf. “Proses diawali Ketua PHDI kelurahan dan desa mapiuning dengan banten pras pajati, ketua PHDI mempersilakan yang disudhi wadani duduk berhadapan dengan ketua PHDI kelurahan atau desa dan ketua PHDI kelurahan atau desa menanyakan kesiapan secara moral dan mental dalam pelaksanaan Sudhi Wadani,” pungkasnya.

 






Reporter: I Putu Mardika

SINGARAJA, BALI EXPRESS -Upacara Sudhi Wadani adalah prosesi yang dijalani seseorang yang sebelumnya bukan penganut agama Hindu, menjadi Hindu. Upacara ini bisa dilakukan secara perorangan maupun kolektif.

Sudhi Wadani ini tidak hanya dilakukan karena proses perkawinan semata, tetapi karena memang keyakinan.

Dikatakan Ketua PHDI Kecamatan Buleleng Nyoman Suardika, upacara Sudhi Wadani yang dilakukan untuk perorangan maupun secara kolektif perlu diadakan persiapan. Baik persiapan bagi calon yang bersangkutan, persiapan upakara atau sesajen, yang akan memimpin upacara, tempat upacara maupun persiapan administrasi oleh aparat PHDI sebagai pelaksana upacara tersebut.

“Mempersiapkan diri lahir dan batin itu perlu. Persiapan lahir adalah dengan terlebih dulu mandi yang bersih, berkeramas serta mengenakan pakaian yang bersih pula. Bagi wanita yang dalam keadaan cuntaka. Misalnya menstruasi, maka upacara ini bisa ditangguhkan sementara sampai masa cuntakanya itu berakhir ditandai dengan mandi besar dan berkeramas,” paparnya.

Sedangkan persiapan batin yang patut dilakukan adalah memantapkan iman dan menyerahkan diri sepenuhnya kehadapan Sang Hyang Widhi Wasa. Sebelum calon mengikuti upacara Sudhi Wadani agar diperkenalkan secara ringkas pokok-pokok ajaran agama Hindu serta bimbingan cara melaksanakan persembahyangan menurut ajaran Hindu.

Tempat di mana upacara Sudhi Wadani dilaksanakan juga harus disiapkan. Apakah di pura, dan berkaitan saat hari raya. Seperti hari raya Saraswati, Siwaratri, Galungan, Kuningan dan lainnya.

Disinggung terkait sarana yang digunakan, jika merujuk dalam keputusan Seminar VIII Kesatuan Tafsir terhadap Aspek-Aspek agama Hindu yang diselenggarakan tanggal 18 sampai dengan 20 Februari 1982, ditetapkan adanya tiga tingkatan atau kategori upakara Sudhi Wadani. Diantaranya pras pajati sebagai upasaksi penyumpahan, mempergunakan sarana bunga, bija dan bhasma dari air cendana untuk tingkatan upacara yang madhyama (menengah) dan mempergunakan bunga, bija dan air untuk tingkatan upacara yang alit (sederhana).

Sedangkan mekanisme pelaksanaan dimulai dari blanko Sudhi Wadani dikeluarkan oleh PHDI Kabupaten Buleleng dan blanko bisa diambil di kantor PHDI kecamatan atau kantor PHDI Kabupaten Buleleng.

Setelah itu, Sudhi Wadani di masing masing desa adat agar dilaksanakan oleh ketua PHDI kelurahan atau desa bersangkutan. Apabila ketua PHDI desa dan kelurahan sebagaimana yang dimaksud berhalangan atau tidak ada, maka Sudhi Wadani dilaksanakan oleh ketua PHDI kecamatan.

Pada blanko keterangan perihal Sudhi Wadani ada tercantum 2 saksi. Dimana, saksi pertama ketua PHDI kelurahan atau desa dan saksi kedua bisa klian desa atau klian banjar. Apabila saksi pertama ketua PHDI kelurahan atau desa berhalangan datang atau tidak ada, maka ketua PHDI kecamatan sebagai saksi (menandatangani).

Blanko Sudhi Wadani yang telah ditandatangani agar dibawa ke sekretariat PHDI kecamatan untuk diparaf. “Proses diawali Ketua PHDI kelurahan dan desa mapiuning dengan banten pras pajati, ketua PHDI mempersilakan yang disudhi wadani duduk berhadapan dengan ketua PHDI kelurahan atau desa dan ketua PHDI kelurahan atau desa menanyakan kesiapan secara moral dan mental dalam pelaksanaan Sudhi Wadani,” pungkasnya.

 






Reporter: I Putu Mardika

Most Read

Artikel Terbaru

/