alexametrics
27.8 C
Denpasar
Wednesday, June 29, 2022

Workshop Sudhi Wadani Bakal Jadi Buku Saku Pemeluk Hindu Baru

SINGARAJA, BALI EXPRESS – Sudhi Wadani merupakan prosesi yang dijalani seseorang yang sebelumnya bukan penganut agama Hindu, menjadi Hindu. Upacara ini umumnya dilakukan melalui proses yang cukup beragam, bahkan berbeda satu wilayah dengan wilayah lainnya. Melihat hal itu, pengurus PHDI Kecamatan Buleleng melaksanakan workshop tentang upacara Sudhi Wadani.

Workshop yang diselenggarakan di aula STAHN Mpu Kuturan Singaraja, Minggu (22/5) ini menghadirkan sejumlah elemen masyarakat. Mulai dari bendesa se-Kecamatan Buleleng hingga pengurus PHDI di tingkat desa se-Kecamatan Buleleng.

Sejumlah narasumber dihadirkan dalam workshop, diantaranya Ketua PHDI Kecamatan Buleleng Nyoman Suardika dan Ida Bhawati Gede Suanda. Acara ini juga dihadiri langsung Ketua PHDI Buleleng Nyoman Metera dan Camat Buleleng Nyoman Riang Pustaka.

Ketua PHDI Kecamatan Buleleng Nyoman Suardika mengatakan Sudhi Wadani berasal dari kata sudhi dan wadani dari bahasa Sansekerta. Sudhi berarti penyucian, persembahan, upacara pembersihan atau penyucian. Wadani berarti banyak perkataan, banyak pembicaraan atau bentuk lainnya seperti wadana yang dapat berarti muka, mulut, perilaku atau cara bicara.

Menurutnya, upacara Sudhi Wadani memiliki dasar hukum yang kuat dalam hukum Hindu, yaitu berlandaskan asas Atmanastuti sebagai salah satu sumber dharma. Dalam prosesi ini yang menjadi saksi utama adalah Sang Hyang Widhi (Tuhan), yang bersangkutan sendiri, dan pimpinan PHDI atau yang ditunjuk untuk mewakili.

Dikatakan Suardika, workshop tentang pelaksanaan ritual Sudhi Wadani diakuinya hal yang perdana dilaksanakan di Kecamatan Buleleng. Hal ini dilatarbelakangi karena di desa-desa se-Kecamatan Buleleng memiliki perbedaan dalam proses pelaksanaan Sudhi Wadani. “Workshopnya nanti menghasilkan buku saku tentang pedoman pelaksanaan Sudhi Wadani,” ungkapnya kepada Bali Express (Jawa Pos Group).

Ia menambahkan, kualitas upacara Sudhi Wadani tidak ditentukan berdasarkan kuantitas upakara yang digunakan. Meski tetap dilaksanakan melihat kondisi dan situasi daerah masing-masing, namun harus tetap dalam koridor ajaran Agama Hindu.

Menurutnya, upacara Sudhi Wadani tidak soal dalam proses penyumpahan atau janji suci semata, tetapi juga harus memperhatikan bagaimana urutan upacaranya. Hal inilah yang ditekankan kepada para bendesa adat dan pengurus PHDI se-Kecamatan Buleleng.

Ia menambahkan proses pengucapan sumpah atau janji suci itu cukup dilaksanakan di rumah mempelai saja. Bantennya saat masumpah itu hanya pakai peras pejati, ada pebeakala. “Di lapangan itu ada yang mampu melaksanakan upacara yang besar (agung) ada juga yang alit. Dan ini memang kerap menjadi polemik. Nah memang kalau upakara itu dikembalikan ke desa-desa masing-masing,” sebutnya.

Suardika yang juga dosen STAHN Mpu Kuturan Singaraja menyebut, sang calon Sudhi Wadani harus disumpah dulu, setelah masuk Hindu secara tulus ikhlas, lanjut proses secara Sudhi Wadani. Rentetan itu ada pebeakala (pembersihan), majaya-jaya.

 






Reporter: I Putu Mardika

SINGARAJA, BALI EXPRESS – Sudhi Wadani merupakan prosesi yang dijalani seseorang yang sebelumnya bukan penganut agama Hindu, menjadi Hindu. Upacara ini umumnya dilakukan melalui proses yang cukup beragam, bahkan berbeda satu wilayah dengan wilayah lainnya. Melihat hal itu, pengurus PHDI Kecamatan Buleleng melaksanakan workshop tentang upacara Sudhi Wadani.

Workshop yang diselenggarakan di aula STAHN Mpu Kuturan Singaraja, Minggu (22/5) ini menghadirkan sejumlah elemen masyarakat. Mulai dari bendesa se-Kecamatan Buleleng hingga pengurus PHDI di tingkat desa se-Kecamatan Buleleng.

Sejumlah narasumber dihadirkan dalam workshop, diantaranya Ketua PHDI Kecamatan Buleleng Nyoman Suardika dan Ida Bhawati Gede Suanda. Acara ini juga dihadiri langsung Ketua PHDI Buleleng Nyoman Metera dan Camat Buleleng Nyoman Riang Pustaka.

Ketua PHDI Kecamatan Buleleng Nyoman Suardika mengatakan Sudhi Wadani berasal dari kata sudhi dan wadani dari bahasa Sansekerta. Sudhi berarti penyucian, persembahan, upacara pembersihan atau penyucian. Wadani berarti banyak perkataan, banyak pembicaraan atau bentuk lainnya seperti wadana yang dapat berarti muka, mulut, perilaku atau cara bicara.

Menurutnya, upacara Sudhi Wadani memiliki dasar hukum yang kuat dalam hukum Hindu, yaitu berlandaskan asas Atmanastuti sebagai salah satu sumber dharma. Dalam prosesi ini yang menjadi saksi utama adalah Sang Hyang Widhi (Tuhan), yang bersangkutan sendiri, dan pimpinan PHDI atau yang ditunjuk untuk mewakili.

Dikatakan Suardika, workshop tentang pelaksanaan ritual Sudhi Wadani diakuinya hal yang perdana dilaksanakan di Kecamatan Buleleng. Hal ini dilatarbelakangi karena di desa-desa se-Kecamatan Buleleng memiliki perbedaan dalam proses pelaksanaan Sudhi Wadani. “Workshopnya nanti menghasilkan buku saku tentang pedoman pelaksanaan Sudhi Wadani,” ungkapnya kepada Bali Express (Jawa Pos Group).

Ia menambahkan, kualitas upacara Sudhi Wadani tidak ditentukan berdasarkan kuantitas upakara yang digunakan. Meski tetap dilaksanakan melihat kondisi dan situasi daerah masing-masing, namun harus tetap dalam koridor ajaran Agama Hindu.

Menurutnya, upacara Sudhi Wadani tidak soal dalam proses penyumpahan atau janji suci semata, tetapi juga harus memperhatikan bagaimana urutan upacaranya. Hal inilah yang ditekankan kepada para bendesa adat dan pengurus PHDI se-Kecamatan Buleleng.

Ia menambahkan proses pengucapan sumpah atau janji suci itu cukup dilaksanakan di rumah mempelai saja. Bantennya saat masumpah itu hanya pakai peras pejati, ada pebeakala. “Di lapangan itu ada yang mampu melaksanakan upacara yang besar (agung) ada juga yang alit. Dan ini memang kerap menjadi polemik. Nah memang kalau upakara itu dikembalikan ke desa-desa masing-masing,” sebutnya.

Suardika yang juga dosen STAHN Mpu Kuturan Singaraja menyebut, sang calon Sudhi Wadani harus disumpah dulu, setelah masuk Hindu secara tulus ikhlas, lanjut proses secara Sudhi Wadani. Rentetan itu ada pebeakala (pembersihan), majaya-jaya.

 






Reporter: I Putu Mardika

Most Read

Artikel Terbaru

/