alexametrics
27.8 C
Denpasar
Wednesday, June 29, 2022

Agar Warga Tak Ribet, Penjor di Kayubihi Gunakan Bahan Lokal

BANGLI, BALI EXPRESS- Masyarakat Desa Adat Kayubihi, Bangli, tetap berupaya melestarikan warisan leluhurnya, khususnya terkait bahan-bahan pembuatan penjor. Baik itu penjor Galungan, maupun upacara keagamaan lainnya. Penjor dibuat menggunakan bahan-bahan lokal yang ada di desa setempat.

Bendesa Adat Kayubihi I Nyoman Tamba mengatakan, masyarakat Kayubihi sempat membuat menggunakan bahan, berupa daun lontar. Untuk mendapatkannya harus membeli, karena tidak ada di desa tersebut.

Selain itu, ada juga bahan yang tidak ramah lingkungan seperti styrofoam. Itu terjadi sekitar 5 tahun lalu. Padahal sejak dahulu, penjor menggunakan ambu dan ron (daun enau) atau janur, lengkap dengan plawa yang semuanya mudah dicari di Desa Kayubihi.

Melihat pergeseran itu, prajuru desa mengeluarkan imbauan agar penjor Kembali menggunakan bahan lokal. Hal itu dengan berbagai pertimbangan. Salah satunya dari sisi biaya. Penjor dengan bahan daun lontar butuh biaya lebih besar dan cenderung membuat warga bersaing.

Bagi mereka yang punya uang, biaya bisa saja tidak menjadi persoalan. Namun yang perlu dipikirkan adalah mereka dengan kondisi ekonomi pas-pasan, sebab anak-anaknya akan meminta mengikuti tren penjor seperti itu. Biayanya bisa lebih dari Rp 1 juta. “Yang mampu ya tidak masalah,” ujar Tamba.

Selain soal biaya, penjor dengan bahan-bahan daun lontar dan ada di dalamnya bahan tidak ramah lingkungan, juga menghilangkan budaya di Desa Kayubihi yang dari dahulu menggunakan bahan yang ada di desa setempat.

Meskipun ada yang harus membeli, harganya juga masih terjangkau, karena yang menjual krama desa. Penjor menggunakan bahan lokal terlihat sederhana, tapi tidak mengurangi makna.

Setelah ada imbauan itu, lanjut Tamba, masyarakat akhirnya kembali beralih menggunakan bahan-bahan yang bisa didapat di desa setempat. Walaupun ada yang menggunakan daun lontar, itu sebatas untuk bahan sampian saja. Tetap dibuat sendiri, karena model sampian penjor di Kayubihi berbeda dengan desa lainnya. (wan)

Balinese, ritual,  pura, hindu, bali,


BANGLI, BALI EXPRESS- Masyarakat Desa Adat Kayubihi, Bangli, tetap berupaya melestarikan warisan leluhurnya, khususnya terkait bahan-bahan pembuatan penjor. Baik itu penjor Galungan, maupun upacara keagamaan lainnya. Penjor dibuat menggunakan bahan-bahan lokal yang ada di desa setempat.

Bendesa Adat Kayubihi I Nyoman Tamba mengatakan, masyarakat Kayubihi sempat membuat menggunakan bahan, berupa daun lontar. Untuk mendapatkannya harus membeli, karena tidak ada di desa tersebut.

Selain itu, ada juga bahan yang tidak ramah lingkungan seperti styrofoam. Itu terjadi sekitar 5 tahun lalu. Padahal sejak dahulu, penjor menggunakan ambu dan ron (daun enau) atau janur, lengkap dengan plawa yang semuanya mudah dicari di Desa Kayubihi.

Melihat pergeseran itu, prajuru desa mengeluarkan imbauan agar penjor Kembali menggunakan bahan lokal. Hal itu dengan berbagai pertimbangan. Salah satunya dari sisi biaya. Penjor dengan bahan daun lontar butuh biaya lebih besar dan cenderung membuat warga bersaing.

Bagi mereka yang punya uang, biaya bisa saja tidak menjadi persoalan. Namun yang perlu dipikirkan adalah mereka dengan kondisi ekonomi pas-pasan, sebab anak-anaknya akan meminta mengikuti tren penjor seperti itu. Biayanya bisa lebih dari Rp 1 juta. “Yang mampu ya tidak masalah,” ujar Tamba.

Selain soal biaya, penjor dengan bahan-bahan daun lontar dan ada di dalamnya bahan tidak ramah lingkungan, juga menghilangkan budaya di Desa Kayubihi yang dari dahulu menggunakan bahan yang ada di desa setempat.

Meskipun ada yang harus membeli, harganya juga masih terjangkau, karena yang menjual krama desa. Penjor menggunakan bahan lokal terlihat sederhana, tapi tidak mengurangi makna.

Setelah ada imbauan itu, lanjut Tamba, masyarakat akhirnya kembali beralih menggunakan bahan-bahan yang bisa didapat di desa setempat. Walaupun ada yang menggunakan daun lontar, itu sebatas untuk bahan sampian saja. Tetap dibuat sendiri, karena model sampian penjor di Kayubihi berbeda dengan desa lainnya. (wan)

Balinese, ritual,  pura, hindu, bali,


Most Read

Artikel Terbaru

/